Tanaman Pengusir Hama

 

ANEKA TANAMAN PENGUSIR HAMA

 

 Kedatangan serangga hama pengganggu seringkali menggangu kehidupan tanaman dan menyebabkan berbagai penyakit. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengusir hama serangga, ada yang alami maupun menggunakan zat kimia. Namun penggunaan zat kimia tidak disarankan karena dampak residunya pada kelestarian lingkungan dan kesehatan manusia. Untuk itu dapat menggunakan cara-cara alami seperti dengan mengusir hama serangga menggunakan tanamanrefugia.

 

 Tanaman berbunga dengan warna mencolok serta berbau sebagai pengalihan fokus serangan hama pada tanaman inti maupun tanaman inangnya sehingga tanaman budidaya akan selamat dari serangan hama serangga penghisap sari-sari makanan tanaman dan perusak buah.

 

 Refugia merupakan pertanaman beberapa jenis tanaman yang dapat menyediakan tempat perlindungan sumber pakan atau sumber daya yang lain bagi musuh alami seperti predator dan parasitoid (Nentwig, 1998 ; Wratten et al., 1998) 

Selengkapnya...

Abon Cabai

Abon Cabai (Abai)

 

Abon cabai merupakan produk olahan berbahan baku cabai. Disaat ini, produksi cabai berlebih maka mengakibatkan harganya terjun bebas, sedangkan penyimpanan cabai tidak lama (mudah busuk) hanya sampai 7 hari sehingga petani akan merugi. Oleh karena itu, alternatif jalan keluar  dengan mengembangkan produk olahan berbahan baku cabai.

Dengan membuat aneka olahan cabai maka akan memberi nilai tambah yaitu bisa mencapai Rp. 75.000 - Rp. 100 ribu/Kg, dengan menjadikan peluang bisnis untuk rumah tangga, apalagi minat masyarakat terhadap konsumsi bumbu instan cukup tinggi. Salah satu produk olahan adalah abon cabai (Abai). Adapun bahan dan alat yang dibutuhkan dalam pembuatannya adalah ;

Selengkapnya...

potensi jamur endofit

 

POTENSI JAMUR  ENDOFIT DARI BIJI PADI  DALAM MENGHAMBAT PERKEMBANGAN JAMUR Pyricularia oryzae

 Oleh:

Rokhlani

Penyuluh Pertanian Muda

Dinas Tan-KP Kabupaten Tegal

 

 Penyakit blast Leher

Penyakit blas yang disebabkan oleh Pyricularia oryzae (teleomorf: Magnaporthe grisea ) merupakan penyakit paling penting dan merusak pada tanaman padi (Couch dan Kohn 2002 dalam Sucipto et al., 2015). Santoso dan Nasution (2009) menyatakan bahwa penyakit blas awalnya merupakan permasalahan utama pada tanaman padi gogo namun saat ini penyakit blas juga menyerang tanaman padi sawah. Teknik pengendalian yang telah diaplikasikan khususnya dengan menggunakan fungisida masih kurang efektif (Yamaguchii et al. 2000 dalam Sucipto et al., 2015). Oleh karena itu, pengendalian hama dan patogen sangat perlu dilakukan untuk mengurangi kerugian hasil (Lingga, 2010 dalam Sunariasih, 2014).

Beberapa teknik pengendalian telah dilakukan seperti penggunaan fungisida, kultur teknis, dan kultivar yang resisten, tetapi belum memberikan hasil yang memuaskan. Kebijakan penggunaan pestisida tidak selamanya menguntungkan. Hasil evaluasi memperlihatkan, timbul kerugian yang tidak disadari yang sebelumnya tidak diperkirakan. Beberapa kerugian yang muncul akibat pengendalian organisme pengganggu tanaman yang semata-mata mengandalkan pestisida, antara lain menimbulkan kekebalan (resistensi) hama, mendorong terjadinya resurgensi, terbunuhnya musuh alami dan jasad non target, serta dapat menyebabkan terjadinya ledakan populasi hama sekunder. Disadari bahwa pemakaian pestisida, khususnya pestisida sintetis ibarat pisau bermata dua. Dibalik manfaatnya yang besar bagi peningkatan produksi pertanian, terselubung bahaya yang mengerikan. Tak dapat dipungkiri, bahaya pestisida semakin nyata dirasakan masyarakat, terlebih akibat penggunaan pestisida yang tidak bijaksana (Girsang W., 2009 dalam Sunariasih, 2014).

Selengkapnya...

alih fungsi lahan

 

 

MENEKAN LAJU ALIH FUNGSI LAHAN SAWAH

Oleh: Rokhlani

PP Muda Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Tegal

 ABSTRAK

Alih fungsi lahan sawah ke penggunaan lain telah menjadi salah satu ancaman yang serius terhadap keberlanjutan swasembada pangan. Apabila swasembada pangan tidak dapat tercapai, dapat dipastikan ketahanan pangan kita terancam. Salah satu kendala penting dalam mencapai swasembada pangan adalah adanya alih fungsi lahan. Intensitas alih fungsi lahan masih sukar dikendalikan, dan sebagian besar lahan sawah yang beralihfungsi tersebut justru yang produktivitasnya termasuk kategori tinggi hingga sangat tinggi. Lahan-lahan tersebut adalah lahan sawah beririgasi teknis atau semi teknis dan berlokasi di kawasan pertanian dimana tingkat aplikasi teknologi dan kelembagaan penunjang pengembangan produksi padi telah maju. Berbagai upaya untuk mengendalikan alih fungsi lahan sawah telah banyak dilakukan. Alih fungsi lahan sangat erat hubungannya dengan produktivitas tanaman. Sehebat apapun teknologi yang diterapkan, dengan luas lahan yang semakin sempit, swasembada pangan sukar untuk dicapai. Apa Solusinya……?

 


Pendahuluan

Kebijakan ketahananan pangan merupakan keadaan di mana semua rumah tangga baik fisik maupun ekonomi mempunyai kemampuan mencukupi kebutuhan pangan untuk seluruh rumah tangganya, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau. Banyak cara yang dapat ditempuh melalui program swasembada dan diversifikasi konsumsi pangan yang dilaksanakan secara merata.

Meningkatnya jumlah rumah tangga pertanian dengan kepemilikan lahan yang sempit, mengindikasikan tingkat produksi pangan melemah. Hal ini dibuktikan dengan fakta yang menunjukkan bahwa untuk memenuhi bahan pangan (beras) masyarakat, Indonesia masih harus mengimpor beras dari luar negeri sebesar....% dari total kebutuhan beras nasional. Kondisi tersebut meninjukkan bahwa negara kita masih tergantung dengan pihak luar untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional nasional, dalam hal ini beras. Penyebab lain yang berpengaruh pada lemahnya tingkat produksi pangan adalah adanya konfersi lahan untuk pengembangan industri, fasilitas umum, dan pemukiman. Dalam tulisan ini penulis mencoba menguraikan pengaruh alih fungsi  lahan yang dipertalikan dengan ketahanan pangan yang saat ini menjadi isu hangat.

 

Selengkapnya...

budidaya tanaman kopi arabika

 

Budidaya Tanaman Kopi Arabika Di Bawah Tegakan

 Belum lama ini, di Kecamatan Bumijawa khususnya desa-desa penyangga hutan pinus milik negara, yaitu Desa Sigedong, Guci dan Batumirah dicanangkan penanaman kopi di bawah lahan tegakan hutan tersebut. Adapun manfaatnya di samping menghasilkan keuntungan serta untuk meningkatkan kesejahteraan petani masyarakat sekitar hutan, juga sebagai upaya pelestarian hutan yang kian tahun semakin gundul.

Seperti halnya di daerah bukit Muria Kab. Kudus, dengan penanaman kopi oleh masyarakat sekitar hutan telah memberikan dampak yang positif bagi kesejahteraan petani dan kelestarian hutan. Tanaman kopi arabika dapat berkembang dan berproduksi maksimal di bawah tegakan pohon pinus.

Di dunia terdapat 70 Negara penghasil kopi. Indonesia tercatat nomor 4 sebagai penghasil kopi terbesar dunia.Produksi kopi Indonesia  mencapai 633.900 tonditahun 2011. Ekspor kopi Indonesia 352.007 ton. Dengan perhitungan konsumsi kopi dari asumsi peminum kopi 10% dari total jumlah penduduknya sebanyak 237 juta orang10% x 237 jt = 23.700.000. Jika 2 kali minum sehari,maka 14 gr x 23.7 jt =331 jt gr = 331.000 ton, khususnya untuk kebutuhan dalam negeri.

Syarat tumbuh tanaman jenis kopi arabika 800–2000 m dplsedangkan jenis robusta <400 m dpl, suhukisaran 15-25º C, curah hujan1.750–3000 mm/thndan bulan kering 3 bulan. Kedalaman solum tanah minimal 30 cm. Kelembaban udara 70–80%. Kemiringan lahan 0-40o. Persyaratan tumbuh kopi antara lain ;  pH tanah5,5–6,5, Topsoilminimal 2%, strukrur tanahsubur, gembur ke dalaman relative >100 cm.

Persiapan lubang tanam dibuat 3 bulan sebelum tanam. Ukuran lubang 50 x 50 x 50 cm, 60x60x60 cm,  75x75x75 cm atau 1x1x1 m untuk tanah yang berat. Tanah galian diletakan di kiri dan kanan lubang. Lubang dibiarkan terbuka selama 3 bulan. 2 -4 minggu sebelum tanam, tanah galian yang telah  dicampur dengan pupuk kandang yang masak sebanyak 15/20 kg/lubang,  dimasukkan kembali ke dalam lubang dan tanah urugan tersebut jangan dipadatkan.

Selengkapnya...

Rencana Strategis