BIOPESTISIDA: PILHAN TEPAT PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN

 BIOPESTISIDA: PILHAN TEPAT PENGENDALIAN

 ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN

 Oleh:

 Rokhlani

 Penyuluh Pertanian Muda

 ABSTRAK

 

Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) menjadi salah satu masalah dalam usaha budidaya tanaman. Hingga saat ini, petani mengandalkan penggunaan pestisida kimia sebagai satu-satunya cara untuk mengendalikan OPT. Penggunaan Pestisida kimia secara membabi buta, ternyata menimbulkan resintensi, resurgensi, munculnya hama sekunder, serta tidak aman dan tidak ramah lingkungan. Biopestisida merupakan pilihan pengendalian yang aman dan ramah lingkungan. Biopestisida yang paling umum digunakan adalah organisme hidup, yang bersifat OPT terhadap OPT sasaran. (a) tidak berbahaya dan aman bagi lingkungan karena biopestisida tidak banyak menghasilkan racun dibanding pestisida kimia, dan tidak menghasilkan residu terutama pada buah dan sayuran sehingga aman jika digunakan dalam pertanian organic, (b) target spesifik, (c) efektif meski dalam jumlah sedikit, (d) mengalami terurai secara alami dan cepat, dan (d) digunakan dalam komponen IPM (Integrated Pest Management).

 

Kata Kunci: Biofungisida, Organisme Pengganggu Tanaman.

 
 

Pendahuluan

 Dalam usaha budidaya tanaman, salah satu  masalah utama yang sering muncul adalah adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Tidak sedikit kerugian yang harus ditanggung oleh petani. Bila tidak ditekan, serangan OPT akan terus meningkat. Meningkatnya serangan akan berakibat pada makin rusaknya tanaman yang dibudidayakan. Oleh kerena itu, perlu upaya untuk mengendalikannya.  Hingga saat ini, untuk mengendalikan serangan OPT tanaman petani lebih memilih menggunakan pestisida kimia.

 

 

Bila dirunut dari sejarah penggunaan pestisida kimia, pada mulamnya pestisida kimia telah mampu mengatasi sebagian besar permasalahan gangguan OPT. Namun,  setelah mengalami ketergantungan pada bahan pestisida kimia dan penggunaan yang tanpa batas, tenyata pestisida menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan, kesehatan petani, terjadi resistensi, resurgensi, dan yang paling mengkhawatirkan adalah terbunuhnya musuh alami. Hal ini tentu sangat berbahaya bagi keseimbangan ekosistem pertanian. Selain itu, penggunaan pestisida kimia juga menyebabkan penurunan kualitas lingkungan karena tidak lagi aman bagai kesehatan manusia.

 

 

 

 

Gupta dan Dikshit (2010) melaporkan bahwa degradasi tanah dan pencemaran air tanah ternyata mengakibatkan ketidakseimbangan nutrisi dan lahan menjadi tidak produktif. Residu pestisida yang merusak juga turut pula meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pangan di beberapa kalangan konsumen domestik dan menimbulkan hambatan terhadap ekspor perdagangan hasil tanaman pertanian. Sementara itu, Hernayanti (2016) menambahkan, sekitar 40% kematian di dunia disebabkan oleh pencemaran lingkungan termasuk tanaman-tanaman yang dikonsumsi manusia sementara dari 80 ribu jenis pestisida dan bahan kimia lain yang digunakan saat ini, hampir 10% bersifat karsinogenik atau dapat menyebabkan kanker. Sebuah penelitian tentang kanker juga pernah menyatakan bahwa sekitar 1,4 juta kanker di dunia disebabkan oleh pestisida.

 

 

 

Lebih lanjut dikatakan bahwa dalam penerapan di bidang pertanian, ternyata tidak semua pestisida mengenai sasaran. Lebih kurang hanya 20% pestisida mengenai sasaran, sedangkan 80% lainnya jatuh ke tanah. Akumulasi residu pestisida tersebut mengakibatkan pencemaran lahan pertanian. Apabila masuk  ke dalam rantai makanan, sifat beracun bahan pestisida dapat menimbulkan berbagai penyakit seperti kanker, mutasi, bayi lahir cacat, CAIDS (Chemically Acquired Deficiency Syndrom) dan sebagainya. Pestisida kimia yang paling banyak menyebabkan kerusakan lingkungan dan mengancam kesehatan manusia adalah golongan organoklorin. Tingkat kerusakan yang disebabkan oleh senyawa organoklorin lebih tinggi jika dibandingkan senyawa lain, karena senyawa ini peka terhadap sinar matahari dan tidak mudah terurai.

 

 

 

Biopestisida sebagai pilihan pengendalian OPT

 

Penggunaan biopestisida ini berpotensi memberikan manfaat yang besar bagi pertanian dan kesehatan masyarakat. Pentingnya biopestisida ini didasarkan pada berbagai keuntungan dari biopestisida itu sendiri, yaitu: bersifat kurang berbahaya dan tidak mencemari lingkungan, hanya memengaruhi satu atau beberapa jenis OPT sasaran tertentu, umumnya efektif dalam jumlah yang sangat kecil dan mudah terdekomposisi dengan cepat, sehingga mengakibatkan akibat yang lebih rendah terhadap masalah pencemaran lingkungan. 

 

 

 

Pengertian Biopestisida

 

Terdapat banyak definisi bipestisida yang dapat ditemukan dalam berbagai literatur. Mazid dkk. (2011) mendefinisikan biopestisida sebagai pestisida biokimia yang tersusun dari senyawa-senyawa alami dan bersifat tidak meracuni yang digunakan untuk mengendalikan OPT. Mathew (2016) dan Kumar (2015) menambahkan bahwa selain bersifat tak-racun, biopestisida adalah pestisida alami yang juga bersifat ramah atau aman terhadap lingkungan. Menurut Mishra dkk. (2015) definisi biopestisida yang umum digunakan adalah yang berasal dari US Environmental Protection Agency (USEPA). Biopestisida didefinisikan sebagai pestisida berasal dari alam yang tersusun dari hewan, tumbuhan, bakteri, dan mineral. Biopestisida juga mencakup organisme hidup yang dapat mengendalikan OPT pertanian.

 

 

 

Pengelompokan Biopestisida

 

Menurut Gupta dan Dikshit (2010) biopestisida dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu (1) pestisida mikroba (microbal pesticides), (2) pestisida yang dimasukkan dalam tanaman (plant-incorporated protectants), dan (3) pestisida biokimia (biochemical pesticides). Lebih lanjut dijelaskan bahwa pestisida mikroba merupakan pestisida yang mengandung mikroorganisme seperti bakteri, jamur, virus, protozoa atau alga sebagai senyawa aktif penyusunnya. Pestisida mikroba memiliki kemampuan untuk mengendalikan berbagai jenis OPT, meskipun masing-masing bahan aktif yang terdapat di dalamnya bersifat khusus terhadap OPT sasarannya. Sebagai contohnya, terdapat beberapa jamur yang mampu mengendalikan gulma tertentu, dan jamur lain mampu mengendalikan serangga tertentu.

 

 

 

Pestisida mikroba yang paling banyak dikenal pestisida di antaranya adalah Bacillus thuringiensis, atau Bt. Bakteri ini dapat digunakan untuk mengendalikan hama pada tanman kubis, kentang, dan tanaman lainnya. Bt menghasilkan protein yang berbahaya bagi serangga hama tertentu. Beberapa pestisida mikroba lainnya bertindak melalui mekanisme kompetisi atau persaingan terhadap OPT. Pestisida mikroba perlu terus dipantau untuk memastikan apakah pestisida tersebut tidak menyebabkan kerugian terhadap organisme bukan sasaran lainnya, termasuk di dalamnya adalah manusia.

 

 

 

Pestisida yang dimasukkan dalam tanaman (plant-incorporated protectants) merupakan substansi pestisida yang yang dihasilkan oleh tanaman yang berasal dari materi genetik yang telah dimasukkan ke dalam tubuh tanaman. Para ilmuwan telah mampu mengambil gen dari protein yang bersifat racun pada Bt, dan menyisipkan gen tersebut ke dalam materi genetik tanamanitu sendiri. Tanaman yang telah mengandung gen bakteri Bt menghasilkan substansi kimia yang mampu mematikan OPT. Kedua protein dan materi genetik tersebut diatur pemanfaatannya oleh EPA, sedangkan tanamannya itu sendiri tidak diatur pemanfaatannya (Gupta dan Dikshit, 2010).

 

 

 

Jenis pestisida berikutnya adalah pestisida biokimia atau pestisida organik. Pestisida organik merupakan substansikimia alami yang mampu mengendalikan OPT melalui mekanisme tak-racun. Pestisida ini sangat berbeda dengan pestisida konvensional yang terbuat dari bahan sintetis dan umumnya bersifat membunuh atau menonaktifkan OPT. Pestisida yang tergolong dalam pestisida organikini antara lain senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan atau perkembangan OPT, seperti zat pengatur tumbuh tanaman, senyawa yang dapat menghalauatau menarik OPT, seperti feromon. Mengingat adanya kesulitan untuk menentukan apakah pestisida alami dapat mengontrol OPT melalui mekanisme tak-racun, maka Environment Protection Agency (EPA) telah membentuk sebuah komite untuk menentukan pestisida yang termasuk dalam kriteria pestisida biokimia atau pestisida organik.

 

 

 

Biofungisida (Trichoderma)

 

Trichoderma sp. Merupakan mikroorganisme ini adalah jamur penghuni tanah yang dapat diisolasi dari perakaran tanaman lapangan. Spesies Trichoderma disamping sebagai organisme pengurai, dapat pula berfungsi sebagai agen hayati dan stimulator pertumbuhan tanaman. Beberapa spesies Trichoderma telah dilaporkan sebagai agensia hayati seperti T. Harzianum, T. Viridae, dan T. Konigii yang berspektrum luas pada berbagai tanaman pertanian. Biakan jamur Trichoderma dalam media aplikatif seperti dedak dapat diberikan ke areal pertanaman dan berlaku sebagai biodekomposer, mendekomposisi limbah organik (rontokan dedaunan dan ranting tua) menjadi kompos yang bermutu. Serta dapat berlaku sebagai biofungisida. Trichoderma sp dapat menghambat pertumbuhan beberapa jamur penyebab penyakit pada tanaman antara lain Rigidiforus lignosus, Fusarium oxysporum, Rizoctonia solani, Sclerotium rolfsii. (Prasetyo, 2016).

 

 

 

Sifat antagonis Trichoderma meliputi tiga tipe :

 

1.        Trichoderma menghasilkan sejumlah enzim ekstraseluler beta (1,3) glukonase dan kitinase yang dapat melarutkan dinding sel patogen

 

2.        Beberapa anggota Trichoderma Sp. menghasilkan toksin trichodermin. Toksin tersebut dapat menyerang dan menghancurkan propagul yang berisi spora-spora patogen disekitarnya

 

3.        Jenis Trichoderma viridae menghasilkan antibiotik gliotoksin dan viridin yang dapat melindungi bibit tanaman dari serangan penyakit rebah kecambah.

 

 

 

Bioinsektisida (Bacillus thuringiensis).

 

B. thuringiensis merupakan bakteri gram-positif berbentuk batang. Jika nutrien di mana dia hidup sangat kaya, maka bakteri ini hanya tumbuh pada fase vegetatif, na-mun bila suplai makanannya menu-run maka akan membentuk spora dorman yang mengandung satu atau lebih jenis kristal protein. Kristal ini mengandung protein yang disebut δ-endotoksin, yang bersifat lethal jika dimakan oleh serangga yang peka. B. thuringiensis adalah bakteri yang menghasilkan kristal protein yang bersifat membunuh serangga (insektisidal) sewaktu mengalami proses sporulasinya (Hofte dan Whiteley, 1989 dalam Bahagiawati, 2002).

 

 

 

Kristal protein yang bersifat insektisidal ini sering dise-but dengan δ-endotoksin. Kristal ini sebenarnya hanya merupakan pro-toksin yang jika larut dalam usus se-rangga akan berubah menjadi poli-peptida yang lebih pendek (27-149 kd) serta mempunyai sifat insektisi-dal. Pada umumnya kristal Bt di alam bersifat protoksin, karena ada-nya aktivitas proteolisis dalam sistem pencernaan serangga dapat mengubah Bt-protoksin menjadi polipeptida yang lebih pendek dan bersifat toksin. Toksin yang telah aktif berinteraksi dengan sel-sel epithelium di midgut serangga. Bukti-bukti telah menunjukkan bahwa toksin Bt ini menyebabkan terbentuknya pori-pori (lubang yang sangat kecil) di sel membran di sa-luran pencernaan dan mengganggu keseimbangan osmotik dari sel-sel tersebut. Karena keseimbangan os-motik terganggu, sel menjadi beng-kak dan pecah dan menyebabkan matinya serangga (Hofte dan Whiteley, 1989 dalam Bahagiawati, 2002). Lebih lanjut dikatakan Keuntungan pemakaian Bt jika dibandingkan dengan pestisida kimiawi adalah Bt bersifat toksin terhadap hama dari spesies tertentu sehingga tidak membunuh serangga dan hewan bukan sasaran. Namun demikian, setelah pemakai-an pestisida mikrobial ini selama bertahun-tahun di lapang, ada indikasi hama menjadi resisten terhadap Bt

 

 

 

Manfaat Biopestisida terhadap Lingkungan

 

Keuntungan penggunaan biopestisida menurut Kumar (2012) antara lain:  (a) tidak berbahaya dan aman bagi lingkungan karena biopestisida tidak banyak menghasilkan racun dibanding pestisida kimia, dan tidak menghasilkan residu terutama pada buah dan sayuran sehingga aman jika digunakan dalam pertanian organic, (b) target spesifik, (c) efektif meski dalam jumlah sedikit, (d) mengalami terurai secara alami dan cepat, dan (d) digunakan dalam komponen IPM (Integrated Pest Management) atau Pengendalian Hama Terpadu

 

 

 

Penutup

 

Biopestisida secara umum didefinisikan sebagai pestisida biokimia yang tersusun dari senyawa-senyawa alami dan bersifat tidak meracuni yang digunakan untuk mengendalikan OPT,  bersifat tak-racun dan bersifat ramah atau aman terhadap lingkungan. Manfaat biopestisida bagi lingkungan antara lain: tidak berbahaya dan aman bagi lingkungan, mempunyai target spesifik dan efektif meski dalam jumlah sedikit.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bahagiawati. 2002. Penggunaan Bacillus thuringiensis sebagai Bioinsektisida. Buletin AgroBio 5(1):21-28. (online). http://biogen.litbang.pertanian.go.id/ terbitan/pdf. Diakses 21 Nopember 2017.

 

Gupta, S., and A. K. Dikshit. 2010. Biopesticides: An ecofriendly approach for pest control. J Biopest 3(1 Special Issue), p 186-188.

 

Hernayanti,2016. Bahaya Pestisida Teriiadap Lingkungan. (on line) bio.unsoed.ac.id.

 

Kumar, S. 2015. Biopesticides: An environment friendly pest management strategy. J  Biofertil Biopestici 6, e127. Doi 10.4172/2155-6202.1000e127, 3 p.

 

Mathew, L. K. 2016. Botanicals as biopesticides: A review. International Journal of Advanced Research Vol. 4, Issue 3, p 1734-1739.

 

Mazid, S., J. Ch. Kalita, and R. Ch. Rajkhowa. 2011. A review on the use of biopesticides in insect pest management. International Journal of Science and Advanced Technology Vol. 1, No. 7, p 169-178.

 

Mishra, J., S. Tewari, S. Singh, and N. K. Arora. 2015. Biopesticides: Where we stand?. In  Plant Microbes Symbiosis: Applied Facets(N. K. Arora ed.).. Springer India. p 37- 75. DOI 10.1007/978-81-322-2068-8.

 

Prasetyo, B. 2016. Biofungisida Dan Pupuk Biologis (Jamur Trichoderma Sp.). (on line) http://www.potretpertanian.com/2016/08/biofungisida-dan-pupuk-biologis-jamur.html. Diakses 21 Nopember 2017.

 

 

 

 

 

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0mm 5.4pt 0mm 5.4pt; mso-para-margin-top:0mm; mso-para-margin-right:0mm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0mm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:Calibri; mso-bidi-theme-font:minor-latin;}

 

Rencana Strategis