Belajar Kepada Alam Semesta

 

 

 

 BELAJAR KEPADA ALAM SEMESTA

 

         Oleh : Ahmad Mulyo Aji      **)

 

Sejak penulis  masuk Dinas  Tanbunhut   pada Tahun 2013   sampai sekarang,  saya  menilai dalam forum pertemuan Kelompok Tani,  petani semakin banyak  menyampaikan keluh kesah perihal semakin sulitnya upaya  meningkatkan produktivitas  tanaman,  utamanya  tanaman semusim.  Disampaikan oleh petani, lahan sawahnya semakin keras gampang sekali kering, boros pupuk, hama penyakit tanaman semakin beragam dan semakin kuat intensitas serangannya. Sebagai contoh : Hama  penggerek muncul setiap musim.  Walang sangit hampir di setiap musim sadon semakin mengganas.   Penyakit  busuk batang pada jagung dan penyakit bercak coklat pada padi yang dulu kemunculannya diabaikan sekarang semakin meluas.  Fenomena apakah ini  ??...

 

 

 

Dalam kerangka itulah kita semua yang berstatus sebagai Makhluk   yang Dhoif (diliputi kelemahan) mawas diri, bertafakur  dan beranjak mencari hikmah....ALLAH sudah mengingatkan “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah ( Q S  Shaad : 27), yang semestinya manusia harus memikirkan ( Q.S Al Baqarah : 164) sebagai konsekwensi manusia  dianugerahi  akal (Q S Ali Imran 190).

 

Mencari hikmah dari fenomena alam, sudah diajarkan oleh para Wali, terutama Wali Songo yang berdakwah dengan metode pendekatan Alam Semesta dan budaya.  Karena pada hakekatnya alam semesta juga Ayat-Ayat ALLAH.  Alam semesta justru merupakan ayat-ayat ALLAH  yang pertama, sebelum ALLAH  menurunkan Kitab Taurat, Zabur, Injil, dan Alquran.   

 

Tidak usah jauh-jauh... kita perhatikan di tempat terbuka dengan pohon yang tumbuh    di atasnya. Pohon memiliki  daun-daun yang bertingkat.  Ada tunas, ada daun berwarna hijau muda, daun hijau tua ada yang sudah menguning ada juga yang sudah jatuh di atas tanah, ada sebagian yang sudah berderai bahkan ada yang sudah menjadi tanah kembali.  Hikmah apa yang bisa kita petik ??..

 

 

Bahwa ada siklus yang sangat apik...daun dan sisa-sisa tanaman lainnya adalah bahan organik yang kembali akan menjadi tanah,  selanjutnya akan terurai menjadi unsur hara yang akan kembali ke tanah kemudian akan diserap kembali oleh akar tanaman, untuk kembali menjadi bagian tanaman daun, batang, akar, bunga dan buah.  

 

Dari sini timbul pertanyaan        “ Siapakah yang menghancurkan daun dan sisa tanaman lainnya untuk kembali menjadi tanah”?...ternyata makhluk ALLAH yang disebut dengan mikroba.  Makhluk yang tidak kasat mata tapi memiliki kemampuan dahsyat merombak bahan organik menjadi tanah.   Bisa dibayangkan seandainya ALLAH  tidak menciptakan mikroba, maka dipastikan alam ini akan penuh dengan sampah, bahkan bangkai. 

 

Selain dua siklus tersebut, tanaman yang hidup sesungguhnya menjalankan siklus Oksigen (O 2) dan Carbondioksida (CO2)...tidak terlihat oleh mata manusia tapi siklus   tersebut  yang telah berjasa mengawal kehidupan manusia...

 

Mari kita perhatikan dengan seksama, di sela-sela daun tanaman sering bertengger seekor serangga yang sedang mematuk hewan kecil (kutu, ulat dll)...kemudian serangga kecil tersebut akan dimangsa oleh serangga yang lebih besar, kemudian serangga besar akan dimangsa oleh Kadal atau yang lain.    Ternyata  pada satu pohon saja terjadi proses makan-memakan yang kita kenal dengan Rantai Makanan.

 

Hanya dari sebatang pohon yang tumbuh,  banyak sekali hikmah yang bisa kita petik.     Bahwa Alam ciptaan Allah “mengajari” kebajikan bagi umat manusia.     Alam merupakan suatu kesatuan, terdiri dari banyak organisme. Semua  berjalan dalam harmoni, saling melayani dan berbagi, memiliki peran masing-masing, saling melengkapi dan memberikan sinergi untuk menghasilkan keseimbangan secara optimal, dan berkelanjutan. Setiap komponen tidak berpikir dan beraksi hanya demi ‘aku’, tetapi untuk ‘kita’: keseluruhan alam. Sesuai Sunnatullah, alam berjalan secara harmonis,”mengatur” bagian-bagiannya dalam keseimbangannya dan keteraturannya yang menakjubkan.  ALLAH  telah berfirman    Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” (Q S   Al Mulk : 3).

 

 

 

Alam diciptakan dalam keadaan seimbang.  Apa maknanya ??..Ternyata memang kalau kita perhatikan dengan seksama, apa yang terjadi di alam ini sebenarnya sebuah siklus.   Ada siklus air, siklus bahan organik (Biomass), siklus Carbon, Siklus O2, Siklus Hara, Rantai Makanan juga hakekatnya siklus dan banyak siklus lain yang terjadi di alam.  Oleh karena itu keberlanjutan/kelestarian alam ini sebenarnya sangat bergantung bagaimana manusia bisa menjaga “ keberlangsungan siklus” tadi.

 

 

 

Sebagai contoh :   Air yang ada di alam ini sebenarnya jumlahnya tetap.  Lalu mengapa terjadi banjir dan kekeringan.??       

 

Banjir dan kekeringan adalah sebuah contoh rusaknya keseimbangan alam.  Neraca air menjadi tidak berimbang, karena rusaknya komponen penjaga keseimbangan yaitu HUTAN “.  Indikatornya sangat jelas ketika sebuah kawasan hutan beralih fungsi maka sumber mata air yang ada di kawasan tersebut mesti mengering.  Sebagai contoh karena kawasan hutan  di DAS Cacaban beralih fungsi menjadi hamparan tanaman jagung,  saat ini sudah 3 sumber  mata air  (sumber mata air : Kaliwuri, Ujungweru  dan  Kronjo)   mati.

 

Produktivitas sebagian besar  lahan pertanian di Indonesia sudah mengarah kepada fenomena               Levelling Off   yaitu sebuah kondisi dimana masukan teknologi sudah tidak berpengaruh (bahasa remaja tegal : ora ngefek ).   Kalaupun bibit yang ditanam yang paling berkualitas, Pupuk kimia yang paling mahal,  disemprot  ZPT dan pestisida terbaru,  tetapi  hasilnya tidak signifikan....Mengapa ??....  Pokok permasalahannya adalah karena tanah tempat berpijak tanaman  sudah dalam keadaan          sakit ”.  Sehingga masukkan teknologi sehebat apapun tidak berpengaruh karena sumber masalahnya tidak diobati dulu.     Justru yang terjadi biaya produksi semakin besar tidak sebanding dengan pendapatan hasil panen.

 

Tanah yang sakit adalah contoh lain “ rusaknya keseimbangan alam ”.  Sebagaimana hikmah dari sebuah pohon yang telah diceritakan di atas,  secara Sunnatullah ada siklus Bahan Organik, yang secara bersamaan dengan itu terjadi siklus hara.  Ketika tanaman menghasilkan  bahan organik dalam jumlah tertentu, maka semestinya jumlah tersebut pula yang masuk ke dalam tanah.   Ketika jumlah bahan organik yang kembali ke dalam tanah tidak berimbang dengan jumlah yang keluar, maka rusaklah neraca keseimbangan tersebut  .   TANAH MENJADI SAKIT.

 

Upaya manusia mengatasi  defisiensi unsur hara dengan memberi asupan pupuk kimia hanya menolong untuk memberikan asupan hara bagi tanaman. Tanah yang miskin bahan organik,  struktur tanahnya mampat .  Akibatnya proses aerasi (pertukaran udara) drainase (keluar masuknya air) menjadi terganggu.  Akar tanaman merana, karena ruang geraknya sangat terbatas.  Tanah menjadi cepat kering karena kemampuan menyimpan air sangat rendah.   Kondisi tanah akan semakin  ekstreem ketika manusia memberikan perlakuan pupuk Urea berlebihan, sehingga memicu keasaman tanah, yang meracuni akar.       

 

Bahan organik memiliki kemampuan yang   sangat  istimewa dan tak tergantikan.  Ada fleksibilitas yang “ sangat dahsyat”.  Pada tanah pasir yang lepas, bahan organik akan merekatkan, sedangkan pada tanah yang keras, bahan organik akan melembutkan.  Dan peran ini sudah menjadi Sunnatullah tidak ada bahan kimia apapun yang sanggup menggantikan peran Bahan Organik. Subhaanallah.....  

 

 

 

 

 

Apabila dalam budidaya pertanian, bahan organik menjadi  asupan rutin dengan jumlah sesuai yang dibutuhkan    maka  struktur tanah  menjadi  lebih remah, yang akan memungkinkan akar akan bergerak lebih leluasa, untuk menopang pertumbuhan dan perkembangan bagian-bagian tanaman yang lain.  Bahan organik memiliki peran penting dalam meningkatkan daya serap dan menahan air, meningkatkan daya sangga terhadap pupuk sehingga meningkatkan efisiensi pemupukan.  Bahan organik juga akan menjadi sumber energi bagi perkembangan mikroba tanah yang memiliki peranan penting  memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi  tanah.

 

Contoh lain dampak  dari rusaknya keseimbangan alam yaitu  serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).   Sebenarnya seandainya rantai makanan tetap  dalam keseimbangan maka tanaman akan relatif kecil terserang hama dan penyakit, atau di bawah ambang batas ekonomi.  Munculnya hama dan penyakit adalah manakala  organisme penyeimbang,  populasinya berkurang karena  ulah manusia.  Sebagai contoh populasi tikus akan tetap dalam keseimbangan manakala musuh alaminya seperti ular, musang dan Tyto Alba populasinya tetap terjaga.  Ketika populasi ular, musang dan Tyto Alba berkurang maka populasi tikus akan bertambah dengan cepat dan menjadi hama.  Contoh lain :  wereng  juga memiliki musuh alami yaitu  Laba-Laba, Capung dan Anak Katak, namun musuh alami tersebut populasinya tertekan karena penggunaan pestisida yang  berlebihan.  Akibatnya populasi wereng  tidak terjaga.   

 

Kondisi tersebut semakin diperparah dengan fakta bahwa  sebagian besar hama tanaman adalah  jenis  serangga.   Padahal   serangga ditakdirkan  memiliki daya adaptasi luar biasa terhadap racun, bahkan generasi yang menggantikan pada masa berikutnya telah memiliki daya kebal untuk menghadapi racun yang pernah menimpa induknya.  Akibatnya racun yang diproduksi harus terus ditingkatkan daya bunuhnya.    Efek dahsyat yang terjadi adalah matinya  musuh alami serangga,  rusaknya  ekosistem  dan semakin meningkatnya timbunan racun di bahan pangan manusia  dan  pakan ternak.

 

Berpijak dari hikmah tersebut maka sudah semestinya kita semua menyadari bahwa berbagai permasalahan yang muncul adalah sebagai ujian agar manusia menyadari   kesalahannya.  ALLAH telah mengingatkan “ Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya ALLAH merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar),             (Q S  Ar Ruum: 41).

 

Kunci dari  semua itu adalah berusaha untuk selalu menjaga keseimbangan alam ciptaanNya.  Hindari eksploitasi yang akan berdampak rusaknya keseimbangan  alam.   Salah satu  contoh adalah dengan menerapkan Pertanian Organik, yang memiliki prinsip  menghargai keragaman hayati dan keseimbangan ekologi untuk optimalisasi pemanfaatan secara berkelanjutan.  

 

Semua yang ada di alam ini berguna dan memiliki fungsi, saling melengkapi, melayani dan menghidupi untuk semua. Sebagai contoh hama keong juga bisa kita manfaatkan untuk digunakan menjadi pupuk organik cair.   Tidak ada yang tidak memberi manfaat. 

 

Mari kita kampanyekan pertanian organik, karena sesungguhnya pertanian organik adalah prinsip budidaya yang sesuai dengan tuntunan  ALLAH SWT.

 

Mudah-mudahan tulisan ini menjadi hikmah, agar kita semua menjadi manusia yang beradab, bertafakur,  menuju ketaatan yang seutuhnya (Kaffah).

 

 

 

**). Penulis adalah praktisi  pertanian dan bekerja di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan.

 

 

 

 

Rencana Strategis