pengendalian hayati

PERAN PENGENDALIAN HAYATI DALAM

MENDUKUNG PERTANIAN BERKELANJUTAN

Oleh:

Rokhlani

 

Penyuluh Pertanian Madya

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kab. Tegal

 

 

Pendahuluan

Praktik budidaya tanaman saat ini masih didominasi oleh penggunaan input luar yang tinggi. Penggunaan pupuk dan pestisida kimia masih menjadi kebutuhan utama dan sangat diandalkan untuk mendongkrak target produksi. Namun, praktik budidaya tanaman yang dilakukan seprti pada masa revolusi hijau telah terbukti menimbulkan pencemaran, merusak ekosistem, dan berpotensi mengganggu kesehatan manusia. Sistem pertanian konvensional disamping menghasilkan produksi panenan yang meningkat namun telah terbukti pula menimbulkan dampak negatif terhadap ekosistem pertanian itu sendiri dan juga ligkungan lainnya. Keberhasilan yang dicapai dalam sistem konvensional ini juga hanya bersifat sementara, karena lambat laun ternyata tidak dapat dipertahankan akibat rusaknya habitat pertanian itu sendiri. Oleh karena itu, perlu ada upaya untuk memperbaiki sistem konvensional ini dengan mengedepankan kaidah ekosistem yang berkelanjutan (Aryantha, 2002).

 

Produk tanaman yang sehat dan aman menjadi sasaran kita semua serta produk tanaman yang sehat dan aman tidak dihasilkan dari penggunaan bahan kimia yang terus menerus dan tidak bijaksana di dunia pertanian, seperti pemakaian pestisida dan pupuk kimia sintetis. Khususnya dengan penggunaan pestisida kimia, banyak dampak negatif yang dapat timbul (Beaumont, 1998), seperti yang telah dijelaskan di muka, sehingga diperlukan metode pengendalian yang aman dan ramah lingkungan.

 

 

Pengendalian Hayati

Pengendalian hayati adalah pengendalian serangga hama dengan cara biologi, yaitu dengan memanfaatkan musuh-musuh alaminya (agen pengendali biologi), seperti predator, parasit dan patogen. Pengendalian hayati adalah suatu teknik pengelolaan hama dengan sengaja dengan memanfaatkan/memanipulasikan musuh  alami  untuk  kepentingan pengendalian, biasanya pengendalian hayati akan dilakukan perbanyakan musuh alami yang dilakukan dilaboratorium. Sedangkan  Pengendalian alami Merupakan Proses pengendalian yang berjalan sendiri tanpa campur tangan manusia, tidak ada proses perbanyakan musuh alami Anonim ( 2002 dalam Sunarno 2018).

Lebih lanjut dikatakan bahwa pengendalian hayati  dalam pengertian ekologi didifinisikan sebagai pengaturan populasi organisme dengan musuh-musuh alam hingga kepadatan populasi organisme tersebut berada dibawah rata-ratanya dibandingkan bila tanpa pengendalian.

Sementara itu, Pengertian pengendalian hayati, seperti dikemukakan oleh K.F. Baker dan R.J. Cook, dalam bukunya berjudul “Biological Control of Plant Pathogens” yang terbit pada tahun 1974 dan buku keduanya berjudul “ The Nature and Practice of Biological Control of Plant Pathogens” yang terbit pada tahun 1983, diberikan definisi dalam arti luas. Di dalam definisi tersebut, pengendalian hayati termasuk penggunaan macam organisme untuk mengendalikan patogen dan penggunaan tanaman tingkat tinggi sebagai salah satu cara terbaik dan paling efektif dalam pengendalian hayati.

Pengendalian hayati dalam bidang hama dan penyakit tanaman sudah dirintis sejak lama. Beberapa aspek yang terkait dalam pengendalian sistem terpadu seperti penggunaan agen predator, antagonist, parasit, patogen, virus, pemakaian materi organik, penggunaan tanaman unggul, pembentukan tanaman resisten, imunisasi dengan penggunaan pathogen yang tidak ganas (hyphovirulent), penggunaan bahan kimia selektif, penggunaan senyawa sida bahan alam, pengaturan kondisi fisik seperti pengaturan pH, penanaman bergilir (rotasi) dan pengeringan (Raizada et al., 2001).

Pengendalian hayati sangat dilatarbelakangi oleh berbagai pengetahuan dasar ekologi terutama teori tentang pengaturan populasi oleh pengendali alami dan keseimbangan ekosistem (Heviyanti, 2016). Lebih lanjut dikatakan bahwa Musuh alami yang terdiri atas parasitoid, predator dan patogen merupakan pengendali alami utama hama yang bekerja secara "terkait kepadatan populasi" sehingga tidak dapat dilepaskan dari kehidupan dan perkembangbiakan hama. Adanya populasi hama yang meningkat sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi bagi petani disebabkan karena keadaan lingkungan yang kurang memberi kesempatan bagi musuh alami untuk menjalankan fungsi alaminya. Apabila musuh alami kita berikan kesempatan berfungsi antara lain dengan introduksi musuh alami, memperbanyak dan melepaskannya, serta mengurangi berbagai dampak negatif terhadap musuh alami, musuh alami dapat melaksanakan fungsinya dengan baik.

Keberhasilan pengendalian hayati memang sukar untuk diduga dan dianalisis secara tepat karena kerumitan dan dinamika agroekosistem. Predator dan parasitoid mempunyai banyak kelebihan dan kelemahan. Oleh karena itu, untuk meningkatkan keberhasilan pengendalian hayati kedua agens tersebut harus dimanfaatkan secara optimum berdasarkan pada informasi dasar yang mencukupi tentang berbagai aspek biologi dan ekologi kedua kelompok agens pengendalian hayati tersebut.

 

Strategi Pengendalian Hayati

Teknik pengendalian hayati dengan menggunakan parasitoid dan predator yang dilakukan sampai saat ini dapat dikelompokkan dalam 3 kategori yaitu, Konservasi, Introduksi, dan Augmentasi. Meskipun ketiga teknik pengendalian hayati tersebut berbeda tetapi dalam pelaksanaanya sering digunakan secara bersama. Menurut Rukmana. dan sugandi, (2002). Musuh alami mempunyai andil yang sangat besar dalam pembangunan pertanian berwawasan lingkungan karena daya kendali terhadap hama cukup tinggi dan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Oleh karena itu, keberadaan musuh alami perlu dijaga.  

 

Pengendalian hayati membantu petani menghasilkan produk pertanian yang sehat dan aman

Banyak produk pertanian dari Indonesia yang ditolak oleh negara pengimpor ketika didapati residu bahan kimia di dalam produk tersebut. Apalagi dengan diterapkannya SPS (Sanitary and Phytosanitary) dan perdagangan bebas dunia atau Asia, serta pembakuan kualitas produk pertanian, maka akan sangat sukar bagi produk pertanian Indonesia untuk dapat bersaing di tingkat regional atau internasional, jika masih mendasarkan pertanamannya dengan bahan kimia sintetis. Oleh sebab itu, untuk mengurangi dampak negatif tersebut, petani seharusnya sudah mulai bangkit untuk bertanam tanaman secara sehat atau organik, meskipun produk organik masih belum mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat.

Di dalam menunjang ke arah produksi pertanian yang sehat dan aman tersebut, pengendalian hayati merupakan salah satu pemecahannya dan sangat mendukung ke arah tersebut. Hal ini karena apabila dibandingkan dengan penggunaan agensia kimia sintetis, agensia pengendali hayati jelas tidak beracun terhadap manusia atau hewan, khususnya apabila diterapkan pada saat panen atau pascapanen, karena metabolit sekunder yang dihasilkan oleh agensia hayati akan mudah terurai oleh alam. Selain itu, metabolit sekunder yang dihasilkan tidak sesuai untuk manusia dan hewan. Produk pertanian juga tidak menyimpan residu agensia pengendali hayati di dalamnya, sehingga produk tersebut aman untuk dikonsumsi. Hal ini selaras dengan makin gencarnya konsumen dunia yang membutuhkan dan mengonsumsi produk pertanian yang sehat (Soesanto, 2008).

 

Pengendalian hayati mengatasi Ketidak-mampuan fungisida kimia sintetis

Penggunaan fungisida kimia sintetis untuk mengendalikan penyakit tanaman tidak selamanya dapat diandalkan, misalnya oleh petani bawang merah, kentang, cabai, atau pekebun pisang. Hal ini ditunjukkan dengan makin meningkatnya penggunaan fungisida tersebut, baik dalam konsentrasi atau keseringannya.Akan tetapi, hasilnya ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan. Penyakit tetap ada di pertanaman, bahkan dapat lebih parah lagi kerusakan yang ditimbulkannya. Hal ini kemungkinan karena jamur patogen telah mengalami mutasi dan mampu beradaptasi dengan fungisida tersebut, ikut matinya mikroba tanah yang berguna, atau jamur patogen mampu membentuk struktur istirahat.

Di sisi lain, ketidak-mampuan fungisida kimia sintetis untuk menjangkau letak mikroba patogen di dalam tanah. Keberadaan mikroba tanah sangat beragam, bahkan dapat mencapai kedalaman di bawah 50 cm di dalam tanah, misalnya untuk jamur patogen Fusarium sp. (Domsch et al., 1993). Oleh karena itu, kehadiran agensia pengendali hayati ternyata memberikan angin segar kepada para petani. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa penelitian yang telah dilakukan, yang kesemuanya menunjukkan kemampuan agensia pengendali hayati dalam mengatasi masalah patogen tanaman, yang sebelumnya sukar dikendalikan dengan fungisida kimia sintetis. Misalnya, penggunaan bakteri antagonis Pseudomonas fluorescens P60 mampu menurunkan kepadatan populasi jamur Fusarium oxysporum, penyebab penyakit moler pada bawang merah, di dalam tanah sampai sebesar 80,67% (Santoso et al., 2007).

 

Kesimpulan

Didalan suatu  ekosistem  terjadi hubungan timbal balik baik intra maupun antarspesies. Pertanian yang berkelanjutan dapat ditopang dengan penggunaan agensia hayati sesuai kondisi setempat untuk mengendalikan hama dan patogen dan mengurangi dampak negatif penggunaan pestisida sintetis.

Daftar Pustaka

Adnyana, M.O. 2006. Lintasan dan marka jalan menuju ketahanan pangan terlanjutkan dalam era perdagangan bebas. Hal. 109-146. Dalam: Tim Redaksi Buku Kompas (Eds.), Revitalisasi Pertanian dan Dialog Peradaban. Penerbit Buku Kompas, Jakarta.

Aryantha, I. N. P. 2002. Membangun sistem pertanian berkelanjutan. Diskusi sehari dalam upaya mengurangi penggunaan pupuk, Menristek-BPPT, 1-13.

Beaumont, P. 1998. Risk assessment and management: is it working? An NGO perspective. Pp. 257-266. In: P.T. Haskell and P. McEwen (Eds.), Ecotoxicology Pesticides and Beneficial Organisms. Kluwer Academic Publ., Dordrecht.

Chen X, Sun X, Hu Z, Li M, O'Reilly DR, Zuidema D, Vlak JM, 2000, Genetic engineering of Helicoverpa armigera single-nucleocapsid nucleopolyhedrovirus as an improved pesticide, J Invertebr Pathol, 76(2):140-6

Domsch, K.H., W. Gams, and T-H. Anderson. 1993. Compendium of Soil Fungi, Vol. I. IHW-Verlag, Eching.

Hassan, S.A. 1998. The initiative of the IOBC/WPRS working group on pesticides and beneficial organisms. Pp. 22-27. In: P.T. Haskell and P. McEwen (Eds.), Ecotoxicology Pesticides and Beneficial Organisms. Kluwer Academic Publ., Dordrecht.

Irisarri P, Gonnet S, & Monza J., 2001, Cyanobacteria in Uruguayan rice fields: diversity,

nitrogen fixing ability and tolerance to herbicides and combined nitrogen, J Biotechnol, 4;91(2-3):95-103.

Lomer CJ, Bateman RP, Johnson DL, Langewald J, Thomas M., 2001, Biological control

of locusts and grasshoppers, Annu Rev Entomol, 46:667-702

 Heviayanti E. 2016. Pengendalian Hayati ( Biological Control ) Sebagai Salah Satu Komponen Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Agrosamudra, Jurnal Penelitian  3(1) pp 27-37

Raizada RB, Srivastava MK, Kaushal RA, Singh RP. , 2001, Azadirachtin, a neem biopesticide: subchronic toxicity assessment in rats., Food Chem Toxicol, 39 (5):477-83.

Rukmana.R. dan Sugandi. 2002. Hama Tanaman dan Teknik Pengendaliaanya,Kanisius.Yogyakarta.

Santoso, S.E., L. Soesanto, dan T.A.D. Haryanto. 2007. Penekanan hayati penyakit moler pada bawang merah dengan Trichoderma harzianum, Trichoderma koningii, dan Pseudomonas fluorescens P60. Jurnal HPT Tropika 7(1):53-61.

Sunarno. 2018. Pengendalian hayati ( biologi control ) Sebagai salah satu Komponen pengendalian hama terpadu (PHT) (on line) https://journal.uniera.ac.id/pdf_repository/juniera31-uHIhqLaBkzzrDBMOhRadqxY8H.pdf. Diakses 16 Agustus 2018.

Suresh Babu G, Hans RK, Singh J, Viswanathan PN, Joshi PC, 2001, Effect of lindane on

the growth and metabolic activities of cyanobacteria, Ecotoxicol Environ Saf, 48(2):219-21).

Untung. K. 1996. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

 

Rencana Strategis