hubungan ketebalan lapisan

HUBUNGAN KETEBALAN LAPISAN EPIDERMIS DAUN TERHADAP INFEKSI JAMUR Alternaria porri PENYEBAB PENYAKIT BERCAK UNGU PADA EMPAT VARIETAS BAWANG MERAH

(Review Hasil Penelitian Marlitasari et al., 2016)

 

 

Oleh:

Rokhlani

Penyuluh Pertanian Madya

Dinas pertanian dan Ketahanan Pangan Kab. Tegal

 

Pendahuluan

Dalam pertumbuhannya, tanaman seringkali mengalami gangguan dari berbagai patogen penyebab penyakit baik dari kelompok jamur, bakteri, virus, nematoda, dan mikoplasma. Seperti halnya tanaman lainnya, tanaman bawang merah juga sering mengalami permasalahan bertalian dengan gangguan hama dan patogen.

 

Bawang merah merupakan salah satu komoditas unggulan di beberapa daerah di Indonesia. Varietas bawang merah yang sering digunakan oleh petani adalah varietas Bali, Thailand, Bauji dan Filipina. Secara umum produktivitas bawang merah yang dikembangkan masih rendah karena tingginya gangguan penyakit, salah satu penyakit yang sering menginfeksi tanaman bawang merah adalah penyakit bercak ungu (Udiarto et al., 2005). Penyakit bercak ungu yang disebabkan oleh Alternaria porri merupakan salah satu penyakit penting pada bawang merah. Penyakit tersebut dapat menimbulkan kehilangan hasil 3% - 57% tergantung pada musim tanam (Hadisutrisno et al., 2005).

Dari keempat varietas bawang merah yang sering ditanam oleh petani tersebut memiliki tingkat ketahanan terhadap penyakit bercak ungu yang berbeda-beda. Ketahanan varietas tanaman terhadap serangan patogen salah satunya di-pengaruhi oleh pertahanan struktural yang dimiliki tanaman. Pertahanan struktural tanaman terdiri atas jumlah dan kualitas lapisan lilin dan kutikula yang menutupi sel epidermis, struktur dinding sel epidermis, ukuran, letak dan bentuk stomata dan lentisel, dan jaringan dinding sel yang tebal yang menghambat gerak maju patogen. Tebal epidermis merupakan salah satu pertahanan struktural yang terdapat pada tumbuhan, bahkan sebelum patogen datang dan berkontak dengan tumbuhan. Kerapatan stomata juga dapat menentukan ketahanan tanaman terhadap penyakit yang merupakan tempat masuknya patogen (Agrios, 2005).

 

Masa Inkubasi Penyakit Bercak Ungu

Gejala serangan penyakit bercak ungu yang disebabkan oleh jamur A. porri mulai terlihat pada permukaan daun bawang merah kurang lebih 4-7 hari setelah inokulasi (hsi) dan pada umur tanaman 19-22 hari setelah tanam (Marlitasari et al., 2016). Agrios (2005) mengatakan gejala penyakit pertama muncul sebagian kecil bintik-bintik kuning muda atau goresan sejajar yang membentangkan sekitar satu minggu sebelumnya. Lalu bintik-bintik menjadi 1 sampai 4 cm panjangnya dan berubah menjadi coklat keunguan.

Masa inkubasi adalah rentang waktu dari permulaan infeksi hingga timbulnya gejala pertama yang dihitung dari awal inokulasi sampai munculnya gejala penyakit. Munculnya gejala penyakit bercak ungu pada varietas Bauji, Thailand dan Filipina memiliki kisaran waktu yang sama yaitu berkisar antara 4-5 hsi, dan gejala yang paling lama muncul adalah pada varetas Bali yaitu 7 hsi. Hal ini menunjukkan bahwa ketahanan varietas Bauji lebih rendah terhadap serangan A. porri dibandingkan dengan tiga varietas lain yang diuji (Marlitasari et al., 2016).

Keragaman masa inkubasi diduga karena beberapa varietas yang diuji mempunyai ketahanan vertikal, yaitu ketahanan yang dikendalikan oleh satu gen mayor yang bersifat kuat terhadap patogen tertentu (Purnomo, 2007). Selain itu jumlah inokulum yang terdapat pada masing-masing varietas tidak sama ketika dilakukan inokulasi pada saat penyem-protan. Hal ini juga dapat mempengaruhi ketahanan tanaman. Jika jumlah inokulum banyak terdapat pada inang, maka peluang infeksi semakin besar. Semakin banyak jumlah spora, yang terdapat pada atau dekat tanaman inang, maka inokulum yang mencapai tanaman inang lebih banyak dan lebih awal mencapai tanaman inang (Agrios, 2005).

 

Intensitas Serangan Penyakit Bercak Ungu

Berdasarkan hasil pengamatan dan analisa sidik ragam diketahui bahwa infeksi penyakit bercak ungu (A. porri) pada empat varietas bawang merah berpengaruh nyata terhadap parameter intensitas serangan. Dari Tabel 2 diketahui pada 25 hsi intensitas penyakit mencapai 40-60% yaitu pada kategori rentan yang terjadi pada semua varietas (Marlitasari et al., 2016).

 

Ketebalan Lapisan Epidermis Daun

Varietas yang memiliki ketebalan lapisan epidermis paling tipis adalah varietas Thailand dengan 4,12 x 10-2 mm, sedangkan varietas yang memiliki ketebalan lapisan epidermis paling tebal adalah varietas Bali dengan ketebalan 8,5 x 10-2 mm. Ketebalan epidermis, baik ketebalan kultikula dan kekuatan dinding bagian luar sel-sel epidermis adalah salah satu faktor penting dalam ketahanan beberapa jenis tanaman terhadap patogen tertentu. Sel-sel epidermis yang ber-dinding kuat dan tebal akan menghambat penetrasi secara langsung oleh jamur patogen (Marlitasari et al., 2016).

Kutikula yang tebal mungkin dapat meningkatkan ketahanan tumbuhan terhadap infeksi penyakit untuk jenis patogen yang masuk ke tumbuhan inangnya melalui penetrasi secara langsung. Akan tetapi, ketebalan kutikula tidak selalu berhubungan dengan ketahanan, banyak varietas tanaman mempunyai kutikula sangat tebal tetapi mudah diserang oleh patogen yang penetrasi secara langsung (Agrios, 2005).

 

Kerapatan Stomata Daun

Varietas yang memiliki tingkat kerapatan stomata tertinggi terdapat pada tanaman bawang merah varietas Bauji dengan kerapatan perluas bidang pandang rata-rata 1489,58 dengan rata-rata jumlah stomata 143 stomata/mm2. Sedangkan varietas yang memiliki tingkat kerapatan stomata terrendah terdapat pada tanaman bawang merah varietas Thailand dengan kerapatan per luas bidang pandang rata-rata 960,94 dengan rata-rata jumlah stomata 92 stomata/mm2 (Marlitasari et al., 2016).

Kesinambungan epidermis terputus oleh lubang-lubang sangat kecil. Bagian tersebut adalah ruang antar sel yang dibatasi oleh dua sel yang khas yang disebut dengan sel penjaga. Sel penjaga bersama-sama dengan lubang diantaranya membentuk stomata. Stomata empat varietas tanaman bawang merah yang diuji berdasarkan susunan sel epidermis yang berdekatan dengan sel penjaga (Fahn, 1991) dapat dikategorikan dalam tipe anomositik (ranunculaceous) yaitu sel penjaga dikelilingi oleh sejumlah sel tertentu yang tidak berbeda dengan sel epidermis yang lain dalam bentuk maupun ukuran.

Stomata daun bawang merah varietas Bauji berukuran 12 μm  Ukuran tersebut merupakan ukuran yang terkecil diantara ketiga varietas yang lainnya, namun stomata terlihat terbuka lebih lebar. Diketahui bahwa rata-rata kerapatan stomata pada varietas Bauji berbeda nyata dengan varietas. Stomata daun bawang merah varietas Thailand berukuran 20 μm yang meru-pakan ukuran terpanjang diantara ketiga varietas lainnya. Dapat diketahui juga bahwa pada varietas Thailand berbeda nyata dengan varietas Bali (Marlitasari et al., 2016).

 

Hubungan Masa Inkubasi dengan Intensitas Serangan Penyakit Bercak Ungu (A. porri)

Masa inkubasi dengan intensitas serangan penyakit bercak ungu memiliki korelasi kuat yaitu 74,4% (Marlitasari et al., 2016). Tinggi rendahnya intensitas penyakit bisa terjadi karena adanya faktor lain yaitu kondisi lingkungan yang mendukung atau tidak mendukung proses terjadinya infeksi (Nirwanto, 2007). Tetesan air, angin dan kelembaban merupakan faktor lingkungan yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan jamur A. porri. (Wardlaw, 1961).

 

Hubungan Ketebalan Lapisan Epidermis Daun dengan Intensitas Penyakit Bercak Ungu (A. porri)

Persamaan linear menunjukkan bahwa y= -1,702x + 57,839 dan nilai koefisien korelasi diantara tebal epidermis dan intensitas serangan yaitu 0,4697. Korelasi ketebalan lapisan epidermis dengan intensitas serangan penyakit bercak ungu memiliki korelasi kuat yaitu 46,97% (Marlitasari et al., 2016).

Lebih lanjut dikatakan bahwa dari persamaan tersebut dapat diketahui bahwa korelasi yang terjadi adalah korelasi negatif, yaitu semakin tebal lapisan epidermis daun maka intensitas serangan penyakit semakin rendah. Hal tersebut terjadi pada varietas Bali yang memiliki tingkat ketebalan lapisan epidermis tertinggi yaitu 8,5 x 10-2 mm dan intensitas penyakit bercak ungu terendah yaitu sebesar 43,09%. Dari pengamatan terhadap hubungan ketebalan lapisan epidermis daun dengan intensita penyakit bercak ungu dapat diketahui bahwa keberhasilan proses infeksi dipengaruhi oleh ketebalan lapisan epidermis, akan tetapi ketebalan lapisan epidermis bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi intensitas penyakit dan ketahanan suatu tanaman.

Kutikula yang tebal dan dinding epidermis yang kuat merupakan salah satu mekanisme pertahanan struktural yang terdapat pada tumbuhan untuk meng-hambat gerak patogen. Epidermis yang tebal akan menghambat penetrasi jamur patogen secara langsung (Agrios, 2005).

 

Hubungan Kerapatan Stomata Daun dengan Intensitas Serangan Penyakit Bercak Ungu (A. porri)

Daun tanaman bawang merah varietas Bali memiliki tingkat kerapatan stomata sebesar 1468,75 dengan jumlah stomata 126,25 stomata/ mm2 dan intensitas serangan terendah sebesar 43,09%. Daun tanaman bawang merah varietas Bauji memiliki kerapatan stomata tertinggi sebesar 1486,58 dengan jumlah stomata 143 stomata/mm2 dan intenstitas serangan yang tertinggi pula yaitu sebesar 54,89% (Marlitasari et al., 2016). Hal tersebut menunjukkan bahwa kerapatan stomata tidak ber-pengaruh terhadap intensitas penyakit bercak ungu yang disebabkan oleh A. porri. Pengaruh kerapatan stomata terhadap penyakit bercak ungu kecil karena ada faktor lain yang mem-pengaruhi intensitas penyakit bercak ungu seperti ketebalan lapisan epidermis dan reaksi biokimia yang terjadi pada tanaman setelah diserang oleh patogen.

 

KESIMPULAN

Dari penelitian yang telah dilakukan oleh Marlitasari et al., (2016) dapat diketahui bahwa terdapat hubungan antara masa inkubasi dengan intensitas serangan penyakit bercak ungu (A. porri), semakin lama masa inkubasi penyakit maka intensitas serangan penyakit semakin rendah. Ketebalan lapisan epidermis daun bawang merah memiliki korelasi terhadap intensitas serangan penyakit bercak ungu, semakin tebal lapisan epidermis daun maka intensitas penyakit semakin rendah. Kerapatan stomata bawang merah tidak memiliki korelasi terhadap intensitas serangan penyakit bercak ungu. Empat varietas bawang merah (Bali, Thailand, Bauji dan Filipina) mempunyai masa inkubasi, ketebalan lapisan epidermis daun, dan kerapatan stomata yang berbeda, namun menunjukkan ketegori tingkat ketahanan yang sama terhadap serangan penyakit bercak ungu A. porri yaitu menunjukkan kategori rentan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Agrios, G. N. 2005. Ilmu Penyakit Tumbuhan (Terjemahan Munzir Busnia). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Aliah, N. U. 2014. Hubungan Ketebalan Lapisan Epidermis Daun Terhadap serangan Jamur Mycosphaerella musicola Penyebab bercak Daun Sigatoka pada Sepuluh Kultivar Pisang. Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Malang.

Fahn, A. 1989. Plant Anatomy 3rd edn. Pergamon Press. Oxford.

Hadisutrisno, B. Sudarmadji, S.Siti dan P. Achmad. 2005. Peranan Faktor Cuaca terhadap Infeksi dan Perkembangan Penyakit Bercak Ungu pada Bawang Merah. Indon. J. Plant Prot 1 (1): 56-64

Hanudin, 2006. Jamur Penyebab Penyakit Tanaman. Universitas Hasanuddin. Makasar.

Marlitasari, E.  L. Sulistyowati, R. R. Kusuma. 2016. Hubungan Ketebalan Lapisan Epidermis Daun Terhadap Infeksi Jamur Alternaria Porri Penyebab Penyakit Bercak Ungu Pada Empat Varietas Bawang Merah. Jurnal HPT 4(1): 8-16.

Nirwanto, H. 2007. Epidemi dan Manajemen Penyakit Tanaman. UPN “Veteran” Press. Surabaya. H. 2007. Epidemi dan Manajemen Penyakit Tanaman. UPN “Veteran” Press. Surabaya.

Purnomo, B. 2007. Epidemologi Penyakit Tanaman. USU Repository Press. Sumatera Utara.

Udiarto, B. K, W. Setiawati dan E. Suryaningsih. 2005. Pengenalan Hama dan Penyakit pada Tanaman Bawang Merah dan Pengendaliannya. Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Bandung

Wardlaw, C. W. 1961. Leaf Spot Disease. Onion Disease: including Plantains and Abaca. Eding-burgh. Longman. Pp 314-341.

 

Rencana Strategis