upaya peningkatan

Upaya Peningkatan Produktivitas Padi Dengan

Pengaturan Jarak Tanam Pada Sistem  Tanam Jajar Legowo

 

Oleh:

Rokhlani

Penyuluh Pertanian Madya

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal

 

 

Pendahuluan

Teknologi produksi padi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan produksi diantaranya adalah tanam dengan jajar legowo. Istilah legowo di ambil dari bahasa jawa, yaitu berasal dari kata”lego” berarti luas dan ”dowo berarti memanjang. Sistem tanam jajar legowo merupakan sistem tanam yang memperhatikan larikan tanaman, tanam berselang seling antara 2 atau lebih baris tanaman padi dan satu baris kosong.

 

Beberapa tipe sistem tanam jajar legowo antara lain: a) jajar legowo 2:1, dimana setiap dua baris diselingi satu baris kosong dengan lebar  dua kali jarak dalam barisan, b) jajar legowo 3:1, setiap tiga baris tanaman padi diselingi satu baris kosong dengan lebar dua kali dengan jarak tanam yang ditengah, c) jajar legowo 4:1, setiapa empat baris tanaman padi diselingi satu baris kosong dengan lebar dua kali jarak dalam baris, d) jajar legowo 12:1 setiap 12 baris tanaman padi diselingi dengan satu baris kosong (Bagus, 2012)

 

Keuntungan sistem tanam jajar legowo

Keuntungan sistem tanam jajar legowo adalah menjadikan semua tanaman atau lebih banyak tanaman menjadi tanaman pinggir. Tanaman pinggir akan memeroleh sinar matahari lebih banyak dan sirkulasi udara lebih baik, unsur hara lebih merata, serta mempermudah pemeliharaan tanaman (Mujisihono et al., 2001).

 

Pengaruh tanaman pinggir

Penerapan sistem tanam jajar legowa bertujuan memperbanyak pengaruh tanaman pinggir (border effect). Sistem jajar legowo 2:1 akan memeroleh 100% pengaruh tanaman pingir, sedangkan legowo 4:1 hanya baris pertama dan keempat yang menjadi tanaman pinggir. Menurut Wang et al. (2013), tanaman luar memberikan hasil gabah yang lebih tinggi di bandingkan dengan tanaman yang ada dibarisan kedua dan ketiga, pengaruh tanaman pinggir juga ditujukan oleh tingginya produksi biomassa, lebih banyak malai per satuan luas, dan lebih tinggi persentase gabah isi. Mohaddesi et al. (2011) menjelaskan bahwa tanaman yang berada pada berisan pinggir memeroleh sinar matahari secara maksimum sehingga proses fotosintesis oleh daun tanaman semakin tinggi dan persaingan tanaman dalam pemanfaatan hara dan air lebih kecil.

 

Meningkatkan populasi

Jika dikaji dari jumlah populasi tanaman, sistem tanam jajar legowo dapat meningkatkan polulasi tanaman jika dibandingkan dengan jarak tanam sistem tegel  25x25 cm. Penerapan sistem tanam jajar legowo 2:1 ternyata dapat meningkatkan populasi  tanaman menjaadi 213.333 rumpun/ha atau meningkat 33%. Sementara itu, bila menggunakan sistem tanam  jajar legowo 4:1 penbingkatan populasi menjadi lebih banyak yaitu jumlah populasi tanaman menjadi 256.000 rumpun/ha atau meningkat 60%.

Mempermudah pemeliharaan tanaman

Manfaat lain yang dapat dipetik dari penerapan sistem tanam jajar legowo adalah pemeliharaan tanaman menjadi lebih mudah. Adanya lorong kosong yang memanjang dan sejajar dengan barisan tanaman padi pada sistem jajar legowo akan memudahkan pemeliharaan tanaman, seperti aplikasi pupuk, pengendalian organisme pengganggu tanaman (hama, patogen, dan gulma).

Selanjutnya, siring dengan berjalannya waktu, teknologi jajar legowo terus dikembangkan dan dilakukan perbaikan. Saat ini telah dikenal sistem tanam jajar legowo super. Jajar legowo super merupakan  pengembangan teknologi menggunakan sistem tanam jajar legowo 2:1 sebagai basis penerapan di lapangan, dengan menekankan penerapan beberapa teknologi penunjang yaitu:

a.              Penggunaan varietas unggul baru yang memiliki potensi hasil tinggi. Penggunaan benih VUB dengan potensi hasil tinggi mutlak diperhatikan agar peluang untuk mendapatkan hasil yang lebih banyak makin besar.

b.             Biodekomposer, diberikan bersamaan dengan pengolahan tanah (pembajakan ke dua). Aplikasi biodekomposer dianggap sangat penting karena berperanan dalamm meningkatkan tingkat kesuburan tanah sebagai media tumbuh tanaman padi. Tanaman padi akan tumbuh dan berkembang baik pada tanah yang memiliki tingkat kesuburan yang tinggi. Tanah yang subur akan dapat memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman.

c.              Pupuk hayati diberikan pada benih diaplikasikan melalui (seed treatment). Pupuk hayati mengandung mikroba berguna yang mempunyai peranan sangat penting dalam mendukung tumbuh dan berkembangnya tanaman. Selain itu, pupuk hayati biasanya mengandung mikroba yang juga memiliki peranan untuk melindungi tanaman dari serangan jamur maupun bakteri patogen.

d.             Pemupukan berimbangberdasarkan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS). Pemupukan secara berimbang mutlak diperhatikan untuk memastikan tanaman padi memeroleh kebutuhan nutrisi secara proporsional. Pemupukan yang dilakukan secara tak-berimbang dapat mengakibatkann gangguan bagi tanaman padi.

e.              Pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) menggunakan pestisida nabati dan pestisida anorganik berdasarkan ambang kendali. Dalam pengendalian OPT, petani kerapkali menggunakan pestisida kimia sebagai pilihan untuk mengendalikan OPT. Pada hal penggunaan pestisida kimia secara tak-bijaksana menyebabkan dampak negarif bagi aplikator maupun bagi lingkungan serta membahayakan keseimbangan agroekosistem. Oleh karena itu, pada pengendalian OPT yang aman dan ramah lingkungan menjadi teknologi penunjang jajar logowo super.

f.              Alat dan mesin pertanian, khususnya untuk tanam (jarwo transplanter) dan panen (combine harvester). Minimnya ketersediaan tenaga kerja untuk tanam menyebabkan sukarnya perluasan diseminasi teknologi jajar legowo. Dalam hal ini, diperlukan alat mesin pertanian yang mampu menggantikan tenaga kerja manusia. Adanya alat tanam jajar legowo akan lebih mempercepat proses tanam dan biaya yang dikeluarkan akan lebih efisien.

 

Filosofi Kerapatan Tanam

Kerapatan tanam merupakan salah satu komponen penting dalam manipulasi tanaman untuk mengoptimumkan hasil (faisul-ur-Rasool et al.,2012).  Menurut Makarim danlkhwani (2012) jarak tanam dan orientasi tanaman dilapang mempengaruhi enam proses penting yaitu (1) penangkapan radiasi surya oleh individu tanaman, terutama daun untuk fotosintesis, (2) efektifitas penyerapan hara oleh akar tanaman, (3) bebutuhan air tanaman, (4) sirkulasi udara terutama CO2 untuk fotosintesis dan O2 untuk hasil fotosistesis, (5) ketersediaan ruang yang menentukan populasi gulma, dan (6) iklim mikro (kelembapan dan suhu udara) dibawah kanopi, yang berpengaruh terhadap perkembangan organisme pengganggu tanaman (OPT).Semua proses ini berpengaruh terhadap kualitas pertumbuhan individu rumpun tanaman padi.

 

Upaya Peningkatan Produksi Padi

Salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan produksi tanaman padi yaitu dengan peningkatan popupasi tanaman, peningkatan populasi tanaman dapat dilakukan dengan sistem tanam jajar legowo 2:1 maupun 4:1, tetapi dilahan petani juga banyak ditemukan banyak varian sistem tanam jajar legowo mulai dari 2:1 sampai 10:1. Penggunaan sistem tanam jajar legowo 2:1 maupun 4:1 dapat meningkatkan hasil gabah secara nyata dibandingkan dengan sistem tanam tegel (Erthrina 2001; Bachrien, 2005).

Pada prinsipnya, pada sistemtanam jajar legowo, kelompok barisan tanaman padi dipisahkan oleh suatu lorong yang luas dan memanjang, bila jarak antar baris tanaman padi  20 cmatau 25 cm maka lorong yang memisahkan antar kelompok barisan tanaman menjadi40 cm atau 50 cm (Hasan, et al., 2012). Selanjutnya, menurut Atman, et al. (2012), sistem tanam jajar legowo adalah pengosongan satu baris tanaman setiap dua atau lebih baris dan merapatkan dalam barisan pinggir tanaman, tujuannya agar populasi tanaman dapat dipertahankan atau bahkan dapat ditingkatkan (Suriapermana dan Syamsiah, 1999).

Sistem tanam legowo 2:1 akan menghasilkan jumlah populasi tanaman sebanyak 213.300 rumpun/ha, serta akan meningkatkan populasi 33,31% dibanding pola tanam tegel (25x25) cm yang hanya mencapai 160.000 rumpun/ha. Dengan pola tanam ini, seluruh barisan tanaman akan mendapat tanaman sisipan. Sistem tanam legowo 4:1 merupakan pola tanam legowo dengan keseluruhan baris mendapat tanaman sisipan.Pola ini cocok diterapkan pada kondisi lahan yang kurang subur. Dengan pola ini, populasi tanaman mencapai 256.000 rumpun/ha dengan peningkatan populasi sebesar 60% dibanding pola tegel (25x25)cm.

Hasil penelitian Pratiwi, Suhartatik, dan Makarim (2009) menunjukkan bahwa komponen hasil tanaman padi sangat nyata dipengaruhi oleh jarak tanam terutama jumlah gabah dan panjang malai. Selanjutnya, hasil penelitian Abdulrachman, Sembiring dan Agustiani (2009), diperoleh bahwa selain di tentukan oleh tipe varietas dan tingkat hasil juga di tentukan oleh populasi jarak tanam, jarak tanam ini di atur bukan saja untuk mengatur kerapian tanaman tetapi juga digunakan sebagai populasi (rumpun). Sistem tanaman ini memberi kemudahan  petani untuk melakukan pemeliharaan tanaman (Abdulrachman et al, 2013). Menurut Misran (2014), sistem tanam Jajar Legowo pada tanaman padi dapat meningkatkan hasil gabah kering panen hingga 22%. Ikwani et al. (2013) melaporkan penerapan pola tanam jajar legowo menghasilkan jumlah gabah yang lebih tinggi dibandingkan dengan cara tanam biasa. 

Hasil yang lebih tinggi dicapai dengan sistem tanam legowo dibandingkan dengan sistem tegel (25x25) cm. Semakin lebar jarak tanam menghasilkan anakan yang lebih banyak, pertumbuhan akar yang lebih baik disertai dengan berat kering akar dan tekanan turgor yang tinggi, serta kandungan prolin yang rendah dibandingkan dengan jarak tanam yang lebih sempit. Legowo 4:1 menghasilkan produksi gabah tertinggi, tetapi untuk mendapat bulir gabah berkualitas benih lebih baik jika digunakan legowo 2:1.Legowo 2:1 mampu mengurangi kehampaan akibat efek tanaman pinggir (Badan Litbang Pertanian, 2007). Hasil penelitian Abdulrachman et al. (2011) menunjukkan bahwa pada pertanaman legowo 2:1 dengan jarak tanam (25x12,5x50)cm mampu meningkatkan hasil antara 9,63-15,44% dibanding model tegel.  

Menurut Azwir (2007) mendapatkan bahwa peningkatan hasil sistem tanam jajar legowo berkisar 8,3-35,6% pada varietas lokal Irkasuma Merah dengan peningkatan tertinggi pada perlakuan sistem tanam jajar legowo 2:1, sedangkan Anggraini, et al.,(2013) mendapatkan peningkatan hasil mencapai 12,36%. Selanjutnya Yunizar dan Jamil (2012) mengatakan peningkatan hasil sebesar hanya 8,11-8,65%. Peningkatan produksi tanaman diduga karena pada kondisi tersebut tanaman dapat memanfaatkan cahaya matahari secara optimum untuk proses fotosintesis sehingga komponen hasil padi sawah akan lebih baik dan sekaligus hasil gabah akan meningkat.

Atman (2005), faktor yang memengaruhi peningkatan hasil gabah eratkaitannya dengan meningkatnya nilai komponen hasil tanaman. Fagi and De Datta, (1989) juga melaporkan bahwa peningkatan populasi tanaman dan sistem tanam jajar legowo berpengaruh positif terhadap nilai komponen hasil dan hasil varietas lokal padi seratus hari. Banyak lorong yang terdapat pada sistem tanam legowo mengakibatkan  intensitas sinar matahari yang sampai kepermukaan daun lebih banyak, terutama pada bagian pinggir lorong. Secara fisiologis laju serapan hara oleh akar tanaman cendrung meningkat dengan meningkatnya intensitas sinar matahari yang diterima tanaman.

Pada sistem tanam jajar legowo bukan hanya memberikan pengaruh hasil yang baik, tetapi juga memberikan pengaruh yang baik pila terhadap serangan organisme pengganggu tumbuhan. Pada jajar legowo 2:1 serangan penyakit leaf smut dan sheath blight lebih rendah (Daradjat et.al., 1996). Dilaporkan juga oleh Jaya Sakti (2012) bahwa populasi penggerek batang tidak berbeda nyata baik pada penggunaan sistem tanam legowo 2:1 maupun tegel. Widiarta et al., (2003) mengemukakan bahwa tanam jajar legowo menyebabkan kondisi iklim mikro dibawah kanopi tanaman kurang mendukung perkembangan patogen.

Bila dikaji dari sisi serangan hama, pada tanaman padi dengan sebaran ruang legowo menyebabkan wereng hijau kurang aktif berpindah antar rumpun, sehingga penyebaran tungro terbatas (Widiarta et al., 2003). Selain itu, tanam jajar legowo mengakibatkan habitat kurang disukai tikus karena lebih menyukai memakan tanaman yang berada di tengah petakan. Hal yang sama juga terjadi untuk serangan patogen penyebab penyakit hawar daun bakteri yang serangannya ternyata menjadi berkurang pada pertanaman padi yang ditanam dengan jajar legowo (Widiarta et al., 2012).

 

Kesimpulan

Sistem tanam legowo merupakan salah satu komponen teknologi budidaya yang ditujukan untuk mengoptimumkan produktivitas tanaman padi melalui pengaturan populasi.Tanaman diatur sehingga mendapatkan ruang tumbuh dan sinar matahari yang maksimum. Sistem tanam jajar legowo dengan pengaturan jarak tanam yang tepat mampu memberikan respon positif terhadap produktifitas dan mengurangi intensitas serangan organisme pengganggu tanaman. Penerapan sistem tanam legowo yang benar, diharapkan mampu memberikan keuntungan bagi petani.

 

 

Daftar Pustaka

Abdulrachman, H.M. Toha, dan A. Gani (Eds.). InovasiTeknologi Padi untuk Mempertahankan Swasembada dan Mendorong Ekspor Beras. Prosiding Seminar nasional Hasil Penelitian Padi 2009, Buku 2. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. p.443-450.

Abdulrachman, S., N. Agustiani, L.M. Zarwazi, dan I. Syarifah. 2011. Peningkatan efisiensi penggunaan air pada padi sawah (>20%) melalui sistem aerobik. Laporan Hasil Penelitian. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. (unpublished).

Atman. 2005. Pengaruh sistem tanam bershaf dengan P-stater (shafter) pada padi sawah Batang Piaman. Stigma. J. 13 (4) : 579- 582.

Badan Litbang Pertanian. 2007. Petunjuk Teknis Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Sawah Irigasi. Departemen Pertanian. Jakarta. 40 p.

Bagus Ida A. Pengaruh Sistem Tanam Terhadap peningkatan Produktifitas Padi di Lahan Sawah Dataran Tinggi Beriklim Basah. Seminar Nasional: Kedaulatan Pangan dan Energi Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura.

DeDalla,S.K. 1981. Principles  and Practices  of Rice Production. John Wiley   & Sons, Inc., USA.

Erytrina dan Zulkifli. 2014. Budidaya PAdi Sawah Sistem Tanaman Jajar Legowo. Jurnal Litbang Pertanian. 33(2).

Fagi, A.M and S.K. De Datta. 1989. Environmental factors affecting nitrogen efficiency in flooded tropical rice. Fertilizer Research. 2:52-67.

Faisul-ur-Rasool,R.  llabib,     and   M.1.  Oh31.  2012.    Evaluation      of plant   spacing    and   seedlings     per  hill  on  rice   iOryza  saliva   L.) productivityunder    temperate     conditions.       Pakistan     J.  Agric. Sci.  49:169-172.

Hamzah, Z. dan Atman. 2000. Pemberian Pupuk SP36 dan Sistem Tanam Padi Sawah Varietas Cisokan. Prosiding Seminar Nasional Hasil Penelitian dan Pengkajian Pertanian. Buku I. Puslitbang Sosial Ekonomi Pertanian Bogor; 89-92 hlm.

lkhwani, G.R. Pratiwi, E.Paturrohman, dan AX. Makarim. 2013. Peningkatan  produktivitas padi rnelaluipenerapanjarak tanam jajar Iogowo. lptek   Tan. Pangan  8(2).Pp.72-79.

Jaya Sakti, Ihwan, 2012. Kepadatan Populasi Scirphopaga Innotata Walker (lepidoptera ; Pyralidae) pada Sistem Tanam Legowo 2 : 1 dan Sistem Tanam Tandur Jajar. Skripsi.http://repository.unhas. ac.id/handle/123456789/2011. Diakses pada 22 April 2013.

Makarirn, A.K. dan Ikhwani. 2012. Teknik ubinan, pendugaan produktivitas padi rnenurut jarak tanam. Puslitbang Tanarnan Pangan, Bogor, 44 hal.

Masdar. 2006.Pengaruh Jumlah Bibit Per Titik Tanam Dan Umur Bibit Terhadap Pertumbuhan Reproduktif Tanaman Padi Pada Irigasi Tanpa Penggenangan. JurnalDinamika Pertanian 21(2):121-126.

Mohaddesi,A.A. Abbasian, S. Bakhshipour, and H. Aminpanah. 20II.    Effectof different levels of nitrogen and lant spacing on yield, yield   components and physiological indices in high yield rice. Amer-Eur, J.  Agric. Environ. 10: 893-900.

Pratiwi. G. R, E. Suhartatik dan A. Karim Makarim.seminar hasil penelitian            padi 2009. Produktifitas dan Komponen Hasil Tanaman Padi   Sebagai            Fungsidari      Populasi Tanaman.      Prosiding, Sudarmo,         S.,        1991. Pestisida. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Sakti, Johanes dan Pemmy. 2014. Pengaturan Jarak Tanaman Padi Pada sistem Jajar legowo. Jurnal. Jurusan Agroteknologi. Fakultas Pertanian.UniversitasRiau. Vol 9 Hal 2-7.

Siregar,H. 1981. Budidaya Tanaman Padi di Indonesia. Sastra Hudaya, Jakarta. Pratiwi, G.R., E. Suhartatik, dan A.K. Makarim. 2010.Produktivitas dan komponen hasil tanaman padisebagai fungsi dari populasi tanaman.

Suriapermana, S., I.Syamsiah. 1994. Tanam jajar legowo pada sisten usahatani minapadiazola di lahan sawah irigasi. Risalah Seminar hasil Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Bogor.

Yunizar dan A. Jamil 2012. Pengaruh sistem tanam dan macam bahan organik terhadap pertumbuhan dan hasil padi sawah di daerah Kuala Cinaku, Kabupaten Indragiri Hulu Riau. Prosiding Seminar Nasional Hasil Penelitian Padi. Balai Besar Penelitian Padi. Badan Litbang Pertanian.Buku 3.

Rencana Strategis