potensi padi organik

KATA PENGANTAR

 

Atas berkat  Allah Yang Maha Esa dan limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami   dapat menyelesaikan  Penulisan Karya ilmiah yang berjudul Kajian Pustaka Tentang Potensi Pengembangan Padi (Oryza Sativa L.)Organik Di Kecamatan Tarub Kabupaten Tegal

 

 Pada kesempatan ini izinkan kami mengucapkan terima kasih kepada:

1.        Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kab. Tegal

2.        Kepala UPTD Tan & KP Kecamatan Tarub

3.        Rekan sejawat Penyuluh Pertanian Kecamatan Tarub

Semoga kajian pustaka ini dapat memberikan manfaat tentang seberapa besar potensi pengembangan padi organik(Oryza Sativa L.)khususnya di Kecamatan Tarub Kabupaten Tegal.

 

Tarub,     Desember 2018

 

ttd

                                   

Penyusun


 

I.        PENDAHULUAN

1.        Latar belakang

Padi merupakan tanaman pangan utama di Indonesia. Berbagai teknologi budidaya telah dikembangkan untuk mendongkrak produktivitas dan produksi tanaman padi, mulai dari perluasan areal tanam (ekstensifikasi),  juga penyediaan  benih unggul, pupuk, alat mesin pertanian, dan teknologi pengendalian hama dan penyakit tanaman (Intensifikasi).

Pertambahan penduduk yang melaju cepat menuntut ketersediaan pangan dalam jumlah yang cukup, mutu yang memadai, dan cepat. Tututan ini mendorong munculnya sistem pertanian modern yang memiliki ciri-ciri ketergantungan yang tinggi pada pupuk sintesis dan bahan kimia sintetis untuk pengendalian hama, penyakit, dan gulma (Suhardianto et al; 2007). Konsep pembangunan berkelanjutan mulai dirumuskan pada akhir tahun 1980’an sebagai respon terhadap strategi pembangunan sebelumnya terfokus pada tujuan pertumbuhan ekonomi tinggi yang terbukti telah menimbulkan degradasi kapasitas produksi maupun kualitas lingkungan hidup (Suryana, 2005).

Sistem pertanian konvensional berdampak negatif terhadap lingkungan. Penggunaan input kimiawi akan menurunkan tingkat kesuburan tanah, merosotnya keragaman hayati dan meningkatnya serangan hama, penyakit dan gulma. Dampak negatif lain yaitu tercemarnya produk-produk pertanian oleh bahan kimia yang selanjutnya akan berdampak buruk terhadap kesehatan manusia (Lestari, 2009).

Kesadaran masyarakat akan bahaya terhadap kesehatan dan lingkungan menyebabkan terjadinya peralihan budidaya ke sistem organik. Hal ini menuntut pengembangan dalam skala luas untuk memenuhi permintaan tersebut, disamping meningkatkan kelestarian lingkungan sawah dari cemaran input kimiawi yang merusak.

Pengembangan pertanian padi sawah organik melibatkan beberapa komponen yaitu sumberdaya lahan dan sumberdaya manusia. Melihat potensi sawah, sumber daya manusia petaninya, dan sumber – sumber bahan organik yang tersedia, Kecamatan Tarub Kabupaten Tegal memiliki potensi untuk pengembangan pertanian padi sawah organik.  

2.        Tujuan penulisan

-        Memberikan informasi tentang padi organik;

-          Memberikan informasi tentang potensi pengembangan padi organik di Kecamatan Tarub.


I.        TINJAUAN PUSTAKA

 

1.        Tanaman padi

    Padi  (Oryza sativa L.) merupakan salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga (genus) yang sama, yang biasa disebut sebagai padi liar. Padi diduga berasal dari India atau Indocina dan masuk ke Indonesia dibawa oleh nenek moyang yang migrasi dari daratan Asia sekitar 1500 SM. Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia, setelah jagung dan gandum. Namun, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia (Shadily, 1984).

     Padi termasuk dalam suku padi-padian atau poaceae. Terna semusim, berakar serabut, batang sangat pendek, struktur serupa batang terbentuk dari rangkaian pelepah daun yang saling menopang daun sempurna dengan pelepah tegak, daun berbentuk lanset, warna hijau muda hingga hijau tua, berurat daun sejajar, tertutupi oleh rambut yang pendek dan jarang,bagian bunga tersusun majemuk, tipe malai bercabang, satuan bunga disebut  floret yang terletak pada satu spikelet yang duduk pada panikula, tipe buah bulir atau kariopsis yang tidak dapat dibedakan mana buah dan bijinya, bentuk hampir bulat hingga lonjong, ukuran 3 mm hingga 15 mm, tertutup oleh palea dan lemma yang dalam bahasa sehari-hari disebut sekam, struktur dominan padi yang biasa dikonsumsi yaitu jenis enduspermium.

    Setiap bunga padi memiliki enam kepala sari (anther) dan kepala putik (stigma) bercabang dua berbentuk sikat botol. Kedua organ seksual ini umumnya siap bereproduksi dalam waktu yang bersamaan. Kepala sari kadang-kadang keluar dari palea dan lemma jika telah masak. Dari segi reproduksi, padi merupakan tanaman berpenyerbukan sendiri, karena 95% atau lebih serbuk sari membuahi sel telur tanaman yang sama. Setelah pembuahan terjadi, zigot dan inti polar yang telah dibuahi segera membelah diri. Zigot berkembang membentuk embrio dan inti polar menjadi endosperm. Pada akhir perkembangan, sebagian besar bulir padi mengadung pati dibagian endosperm. Bagi tanaman muda, pati dimanfaatkan sebagai sumber gizi (Wikipedia, 2018).

Secara sistematika tanaman atau taksonomi padi adalah sebagai berikut

     Kingdom       :           Plantae
Divisi          :    Spermatophyta
SubDivisi   :    Angiospermae
Kelas          :    Monocotiledonae
Ordo           :    Poales
Famili         :    Poaceae 
Genus         :    Oryza
Species      :    Oryza sativa L

 

2.        Pertanian Organik

Pertanian organik adalah sistem budi daya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami ,tanpa menggunakan bahan kimia sintetis (Balitbangtan, 2002).  Beberapa tanaman Indonesia yang berpotensi untuk dikembangkan dengan teknik tersebut adalah padihortikultura sayuran dan buah (contohnya: brokolikubis merahjeruk, dll.), tanaman perkebunan (kopitehkelapa, dll.), dan rempah-rempah.[1] Pengolahan pertanian organik didasarkan pada prinsip kesehatanekologikeadilan, dan perlindungan.  Yang dimaksud dengan prinsip kesehatan dalam pertanian organik adalah kegiatan pertanian harus memperhatikan kelestarian dan peningkatan kesehatan tanah, tanaman, hewan, bumi, dan manusia sebagai satu kesatuan karena semua komponen tersebut saling berhubungan dan tidak terpisahkan. Pertanian organik juga harus didasarkan pada siklus dan sistem ekologi kehidupan.  Pertanian organik juga harus memperhatikan keadilan baik antarmanusia maupun dengan makhluk hidup lain di lingkungan.  Untuk mencapai pertanian organik yang baik perlu dilakukan pengelolaan yang berhati-hati dan bertanggungjawab melindungi kesehatan dan kesejahteraan manusia baik pada masa kini maupun pada masa depan (ifoam dalam wikipedia, 2018)

Pertanian organik mengkombinasikan pengetahuan ilmiah mengenai ekologi dan teknologi modern mengenai praktik pertanian tradisional berdasarkan proses biologis yang terjadi secara alami. Metode pertanian organik dipelajari di dalam bidang ekologi pertanian.

Pertanian konvensional menggunakan pestisida dan pupuk sintetik, sedangkan pertanian organik membatasinya dengan hanya menggunakan pestisida dan pupuk alami. Prinsip metode pertanian organik mencakup rotasi tanamanpupuk hijau/kompospengendalian hama biologis, dan pengolahan tanah secara mekanis. Pertanian organik memanfaatkan proses alami di dalam lingkungan untuk mendukung produktivitas pertanian, seperti pemanfaatan legum untuk mengikat nitrogen ke dalam tanah, memanfaatkan predator untuk menaggulangi hama, rotasi tanaman untuk mengembalikan kondisi tanah dan mencegah penumpukan hama, penggunaan mulsa untuk mengendalikan hama dan penyakit, dan pemanfaatan bahan alami, termasuk mineral bahan tambang yang tidak diproses atau diproses secara minimal, sebagai pupuk, pestisida, dan pengkondisian tanah (fiBL, 2006 dalam Wikipedia).

Pertanian organik bergantung sepenuhnya pada dekomposisi bahan organik tanah, menggunakan berbagai teknik seperti pupuk hijau dan kompos untuk menggantikan nutrisi yang hilang dari tanah oleh tanaman pertanian sebelumnya. Proses biologis ini dikendalikan oleh berbagai mikroorganisme seperti mikoriza yang memungkinkan terjadinya produksi nutrisi secara alami di dalam tanah sepanjang musim tanam. Pertanian organik mendayagunakan berbagai metode untuk meningkatkan kesuburan tanah, termasuk rotasi tanaman, pemanfaatan tanaman penutup, pengolahan tanah tereduksi, dan penerapan kompos. Dengan mengurangi pengolahan tanah, maka tanah tidak dibalik dan tidak terpapar oleh udara. Hal ini berarti nutrisi yang bersifat mudah menguap seperti nitrogen dan karbon semakin sedikit yang menghilang.

Tumbuhan membutuhkan berbagai nutrisi seperti nitrogenfosfor, dan nutrisi mikro lainnya serta hubungan simbiosis dengan fungi dan organisme lainnya untuk berkembang dengan baik. Sinkronisasi diperlukan agar tumbuhan mendapatkan nitrogen yang cukup pada waktu yang tepat. Hal ini menjadi salah satu tantangan di dalam pertanian organik. Residu tanaman dapat dikembalikan ke tanah sehingga membusuk dan memberikan nutrisi bagi tanah

Lahan usaha tani yang tidak memiliki usaha peternakan di dalamnya mungkin akan lebih sulit dalam mengembalikan kesuburan tanah dan membutuhkan input kotoran dari luar untuk digunakan sebagai sumber nitrogen yang baik. Namun nitrogen juga dapat diberikan dengan menggunakan legum sebagai tanaman penutup tanah (Watson, C, dkk dalam Wikipedia).

 

3.         Padi Organik

Padi merupakan salah satu tanaman yang dapat dibudidayakan secara organik. Pertanian organik merupakan jawaban atas dampak revolusi hijau yang digalakkan pada era 60-an yang telah menyebabkan kesuburan tanah berkurang dan kerusakan lingkungan akibat pemakaian pupuk dan pestisida kimia yang tidak terkendali. Sistem pertanian yang berbasis bahan high input energy (bahan fosil) sperti pupuk kimia dan pestisida dapat merusak sifat-sifat tanah dan pada akhirnya akan menurunkan produktifitas tanah untuk beberapa waktu yang akan datang (Utami dan Handayani, 2003). International Rice Research Institute (2007) menyebutkan bahwa padi organik adalah padi yang disahkan oleh suatu badan independen, ditanam dan diolah menurut standar yang telah ditetapkan.

Departemen Pertanian telah menyusun standar pertanian organik di Indonesia, tertuang dalam SNI 01-6729-2002 dan telah direvisi menjadi SNI Sistem Pangan Organik SNI 6729-2010. Sistem pertanian organik menganut paham Organik Proses, artinya semua proses sistem pertanian organik dimulai dari penyiapan lahan hingga pasca panen memenuhi standar budidaya organik, bukan dilihat dari produk organik yang dihasilkan (Nurhidayati et al., 2008).

Pertanian organik makin banyak diterapkan pada beberapa komoditi pertanian, 8 salah satunya adalah padi sebagai komoditi penghasil beras dan sebagai bahan makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia. Keunggulan beras organik adalah sehat, dengan kandungan gizi atau vitamin yang tinggi karena tidak menghilangkan lapisan kulit ari secara menyeluruh sehingga beras organik tidak tampak mengkilap seperti beras pada umumnya. Beras lebih enak dan memiliki rasa alami atau pulen, lebih tahan lama dan tidak basi serta memilki kandungan serat dan nutrisi lebih baik. Manfaat beras organik bagi lingkungan, diantaranya sistem produksi sangat ramah lingkungan sehingga tidak merusak lingkungan, tidak mencemari lingkungan dengan bahan kimia sintetik dan meningkatkan produktivitas ekosistem pertanian secara alami, serta menciptakan keseimbangan ekosistem terjaga dan berkelanjutan (Sutanto, 2002).

Syarat Tumbuh Padi Organik Pada dasarnya syarat tumbuh padi organik sama dengan padi pada biasanya. Tanaman padi secara umum membutuhkan suhu minimum 11°-25°C untuk perkecambahan, 22-23°C untuk pembungaan, 20°-25°C untuk pembentukan biji, dan suhu yang lebih panas dibutuhkan untuk semua pertumbuhan karena merupakan suhu yang sesuai bagi tanaman padi khususnya di daerah tropika. Suhu udara dan intensitas cahaya di lingkungan sekitar tanaman berkorelasi positif dalam proses fotosintesis, yang merupakan proses pemasakan oleh tanaman untuk pertumbuhan tanaman dan produksi buah atau biji (Andoko, 2005).

 

I.        PEMBAHASAN

 

Kecamatan Tarub terletak pada posisi antara 109004’25” BT – 109008’04” BT dan antara 6053’44” LS - 6053’11” LS, memiliki wilayah yang terdiri dari daratan bukan pesisir. Luas Kecamatan Tarub adalah 2.682 hektar terdiri dari 67,89 % merupakan lahan sawah yaitu 1.821 hektar sementara bukan lahan sawah 861 hektar atau sebesar 32,11 %.

Sebagian besar desa di wilayah Kecamatan Tarub merupakan dataran rendah dengan ketinggian tempat berada pada posisi 14 - 27 m dpl. Drainase untuk Kecamatan Tarub termasuk kategori sedang. Kedalaman lapisan tanah atas di Kecamatan Tarub sekitar 30 cm. Kesuburan tanah di Kecamatan Tarub termasuk dalam kategori sedang. Sebagai kawasan perkotaan Kecamatan Tarub mengalami dampak pemanasan global dengan suhu udara berkisar 19 – 24 derajat celcius (BPS Kab. Tegal, 2018).

Data dari Badan Pusat Statistik Kabuapten Tegal melaporkan bahwa luas tanam padi Kecamatan Tarub tahun 2017 mencapai 2.236 Ha. Dilaporkan juga luas panen  tahun 2017 adalah 2.283 Ha. Dengan produktivitas rataan tanaman adalah 61, 0 Ku / Ha dan  produksi tanaman padi tahun 2017 mencapai 139.120 Ku. (BPS Kab. Tegal, 2018).

 

 

Melihat letak geografis, suhu, dan iklim yang ada, wilayah Kecamatan Tarub memiliki potensi yang sesuai untuk pengembangan padi sawah secara organik. Demikian halnya secara luas tanam, tanaman padi di Kecamatan tarub sangat berpotensi untuk dikembangkan.

Tanaman padi dapat tumbuh dengan baik di daerah yang berhawa panas dan banyak mengandung uap air dengan curah hujan rata-rata 200 mm bulan lebih, dengan distribusi selama 4 bulan, curah hujan yang dikehendaki sekitar 1500-2000 mm/tahun dengan ketinggian tempat berkisar antara 0-1500 m dpl

dan tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi adalah tanah sawah dengan kandungan fraksi pasir, debu dan lempung dengan perbandingan tertentu dan diperlukan air dalam jumlah yang cukup yang ketebalan lapisan atasnya sekitar 18-22 cm dengan pH 4-7 (Dody et al., 2007).

Sudah ada rintisan pengembangan padi sawah organik di Kecamatan Tarub. Sudah ada inisiasi pertemuan rutin bulanan petani yang diikuti oleh petani yang sudah menerapkan sistem pertanian padi organik, tersebar di beberapa desa di wilayah kecamatan Tarub (UPTD Tan & KP Kecamatan Tarub, 2018).

Lebih lanjut data dari UPTD Tan dan KP Kecamatan Tarub merinci petani yang sudah menekuni budidaya padi secara organik adalah Bapak Rumaedi, Akhmad Kusen (Desa Kesamiran); Sosro Handoyo, Didik Priyanto, Agus Anggoro,  Kusnanto, Fatkhuri, Bedjo Utomo ( Desa Kedokansayang), Ahmad Kustejo (Desa Kesadikan); Waridin, Wahud (Desa Mangunsaren); Abdul Aziz (Desa Kemanggungan).

Kecamatan Tarub juga mempunyai potensi penunjang pengembangan pertanian padi organik dalam hal penyediaan sumber bahan organik dari kotoran ternak. Menurut Badan Pusat Statistik Kab. Tegal pada tahun 2017 terdapat populasi ternak sapi sebanyak 486 ekor, ternak kambing 232 ekor, dan domba sebanyak 8.394 ekor.

 

I.        SIMPULAN DAN SARAN

Merunut hasil kajian pustaka di atas, berikut simpulan yang diperoleh :

1.      Padi organik adalah tanaman padi yang dibudidayakan dengan sistem yang telah ditentukan dengan standar operasional dan kaidah berbudidaya organik, yang telah ditetapkan oleh Standar Nasional Indonesia.

2.      Kecamatan Tarub memiliki potensi untuk pengembangan padi organik dari segi geografis, syarat tumbuh, dan sumber daya penunjang bahan organik. Selain itu di Kecamatan Tarub sudah ada inisiasi perkumpulan petani dari beberapa desa yang fokus mengembangkan pertanian padi organik.

Saran

1.      Pembinaan lebih lanjut dan berkesinambungan terhadap petani yang sudah membudidayakan padi secara organik.

2.      Perlu Dukungan Pemerintah Untuk Percepatan Pengembangan Padi Organik.


Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-fareast-language:EN-US;}

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

Andoko A. 2002. Budidaya Padi Secara Organik. Jakarta : Penebar Swadaya

 

BPS Kab. Tegal, 2018. Kecamatan Tarub Dalam Angka. www.bps.go.id di akses tgl 12 September 2018

 

Dody P., Tatang K., Usep S., 2007. Padi Organik Versus Non Organik: Studi Fisiologi Benih Padi (Oryza Sativa L.) Kultivar Lokal Rojolele.  https://www.researchgate.net/publication/325109278 diakses 10 September 2018

 

Nurhidayati, dkk. 2008. E-Book Pertanian Organik. Malang. Program Studi Agroteknologi, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Islam Malang. 196 Hal.

 

Shadily, Hassan. Ensiklopedi Indonesia. Ichtiar Baru-Van Hoeve dan Elsevier Publishing Projects. Jakarta, 1984. Hal. 2503

 

Sutanto, R. 2002. Penerapan Pertanian Organik Pemasyarakatan dan Pengembangannya. Kanisius. Jakarta. 211 hlm.

 

Utami, S.N.H. dan S. Handayani. 2003. Sifat Kimia Entisol Pada Sistem Pertanian Organik. Ilmu Pertanian 10(2): 63-69.

 

Wikipedia.  2018. Padi Organik. Diakses 10 September 2018

 

Rencana Strategis