kajian pustaka trikoderma

 

IDENTITAS  PENULIS


 Sudirman,SST, lahir di Desa Tarub Kecamatan Tarub Kabupaten Tegal pada tanggal 9 Mei 1964 Anak ke-lima dari lima bersaudara dari pasangan Sutarjo (Almarhum) dan Tamen (Almarhum). Pendidikan yang pernah di tempuh adalah SD Negeri Tarub lulus pada Tahun 1979, SMP Negeri Tarub lulus pada Tahun 1983, SUPMNegeri Tagal lulus pada Tahun 1986, dan pada Tahun 1995 lulus STPP Magelang Jurusan Penyuluh Pertanian

Pada Tahun 1986  Kami di angkat sebagai penyuluh Honor di tempatkan di Profinsi Nusa Tenggara Timur, dan Pada Tahun 1989  kami diangkat sebagai CPNS  dan ditugaskan sebagai Penyuluh Pertanian yang ditempatkan  di Kabupaten Manggarai ,Sedangkan  mulai tahun 2000 kami di pindahkan dari  Penyuluh Pertanian  Kab.Manggarai Profinsi NTT  di pindahkan  sebagai Penyuluh Pertanian  Kabupaten Tegal Profinsi Jawa Tengah sampai saat ini kami ditugaskan  di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan  Kab.Tegal  Profinsi Jawa Tengah  sebagai Penyuluh Prtanian  merangkaf di Kelompok Jabatan Fungsional dengan Jabatan Penyuluh Pertanian Muda  dengan Pangkat  IV/b

Pada tahun 1989 penulis menikah dengan Ibu Muminah dan telah dikaruniai tiga orang anak yaitu Bayu Sugara,Hadijah Ayu Rukmana dan Ayu Zikro.  Dari tiga orang anak yang masih kuliah tinggal satu orang


 KATA PENGANTAR

 Syukur lhamdulilah atas kehadirat Allah Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan  Penulisan Karya ilmiah yang berjudul Kajian Pustaka Tentang Pemanfaatan Trichoderma Spp  Sebagai Jamur Antagonis Ramah Lingkungan Untuk Pengendalian Penyakit Bulai  Pada Tanaman Jagung (Zea Mays).

 Melalui kesempatan ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada:

1.        Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kab. Tegal

2.        Kepala UPTD Tan & KP Kecamatan Tarub

3.        Rekan sejawat Penyuluh Pertanian Kecamatan Tarub

4.        Para Pengurus  Kelompok Tani dan anggotanya.

5.        Dan pihak lain yang tidak sempat kami sebutkan

 Mudah mudahan kajian pustaka ini dapat memberikan manfaat tentang pengetahuan penyakit bulai pada tanaman jagung, dan tentang Trichoderma spp dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan penyakit bulai yang ramah lingkungan.

 

Tarub,     Oktober 2018

ttd

                                                                 Penyusun

 

 

 

I.     PENDAHULUAN

 

1.1    Latar Belakang

Di Indonesia,tanaman jagung adalah tanaman utamaJagung (Zea mays) merupakan salah satu tanaman utama setelah tanaman padi serealia yang penting sebagai sumber pangan, pakan maupun energi. Jagung dapat diolah menjadi bahan baku minyak nabati, gula rendah kalori, tepung jagung atau maizena, makanan kecil, dan lain sebagainya.

Tegal merupakan salah satu Kabupaten  penghasil jagung yang cukup diperhitungkan. Menurut laporan Badan Pusat Statistik dalam Kabupaten Tegal Dalam Angka Tahun 2017, produksi Jagung Kabupaten Tegal mencapai 118.288 Ton dari luasan panen 15.699 Ha tersebar di seluruh kecamatan.

Produksi tanaman jagung harus selalu terjaga untuk ketahanan pangan nasional, namun seringkali ada kendala yang menghambat dalam teknis budidaya tanaman jagung. Salah satu kendala dalam budidaya tanaman jagung adalah serangan hama dan penyakit. Penyakit utama yang sering menyerang adalah penyakit bulai.

Permasalahan yang sulit di pecahkan petani yaitu penyakit Bulai karena ketidak tahuanya petani terhadap penyakit tersebut ,upaya pengelolaan penyakit bulai dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu dengan penanaman kultivar tahan, pengaturan waktu dan jarak tanam, sanitasi, serta perlakuan benih dengan fungisida yang berbahan aktif metalaksil. Pengendalian penyakit bulai dengan penggunaan fungisida sintetis yang berbahan aktif metalaksil ini banyak dilakukan karena praktis dan mudah diaplikasikan, bahkan petani tidak perlu melakukan tindakan apapun, hanya menanam benih jagung yang sudah diberi perlakuan fungisida sintetis.

Pemberian perlakuan fungisida barbahan aktif metalaksil selama ini diduga efektif dalam mengendalikan penyakit bulai melalui perlakukan benih. Namun, pengendalian dengan fungisida sintetis tersebut dapat berdampak buruk terhadap lingkungan, punahnya musuh alami, timbulnya residu dalam tanaman, menimbulkan resiko kesehatan pada penggunanya dan sering kali gagal dalam menghadapi peningkatan serangan patogen. Menurut Wakman dan Jatmiko yang dikutip Sudihartha, 2017 menyatakan bahwa terjadinya peningkatan penyakit bulai di beberapa daerah penghasil jagung di Indonesia, yang sekalipun telah diberi perlakuan dengan fungisida sintetis yang berbahan aktif metalaksil, merupakan indikasi telah terjadinya perubahan ketahanan tanaman jagung terhadap peningkatan patogen penyebab penyakit bulai.

Salah satu alternatif lain dalam pengendalian penyakit bulai jagung selain penggunaan fungisida sintetis yaitu dengan penggunaan jamur antagonis. Alfizar, dalam kutipan Sudihartha, 2017 menjelaskan Jamur antagonis adalah kelompok jamur yang dapat menekan atau menghambat pertumbuhan jamur lain, seperti jamur Trichoderma spp. Jamur Trichoderma spp. terbukti dapat menghambat pertumbuhan jamur patogen Colletotrichum capsici, Fusarium sp. dan Sclerotium rolfsii.

 

1.1    Tujuan Penulisan

 

    1.  Memberikan Pengetahuan serta  informasi tentang penyakit bulai pada tanaman jagung;       2.Memberikan Pengetahuan serta informasi tentang pemanfaatan jamur antagonis Trichoderma spp sebagai cara pengendalian penyakit bulai pada tanaman jagung yang ramah terhadap lingkungan

 

I.      TINJAUAN PUSTAKA

 

1.1    Tanaman Jagung (Zea mays)

 1.1.1        Taksonomi Jagung

Taksonomi tanaman jagung dapat diklasifikasikan menurut Suprapto dan Marzuki (2005) yaitu:

Kingdom              : Plantae

Subkingdom         : Tracheobionta

Super Divisi         : Spermatophyta

Divisi                    : Magnoliophyta

Kelas                    : Liliopsida

Sub Kelas             : Commelinidae

Ordo                     : Poales

Famili                   : Poaceae

Genus                   : Zea

Spesies                 : Zea mays L.

1.1.2        Morfologi Jagung

 Tanaman jagung berakar serabut terdiri dari akar seminal, akar adventif dan akar udara mempunyai batang induk, berbentuk silindris terdiri dari sejumlah ruas dan buku ruas. Pada buku ruas terdapat tunas yang berkembang menjadi tongkol (Goldsworthy dan Fisher, 1980 dalam Sudihartha, 2017).

     Tinggi batang bervariasi 60-300 cm, tergantung pada varietas dan tempat selama fase vegetatif bakal daun mulai terbentuk dari kuncup tunas. Setiap daun terdiri dari helaian daun, ligula dan pelepah daun yang erat melekat pada batang. Tanaman jagung merupakan tanaman berumah satu (monoecious), bunga jantan dan bunga betina terletak dalam satu tanaman. Bunga jantan terletak pada ujung tanaman dan bunga betina terletak pada tongkol pada ketiak daun. Bunga jantan tersusun dalam bentuk malai, sedangkan bunga betina yang bersatu dengan tongkol membentuk benang sari yang akan muncul keluar dari tongkol jika sudah siap untuk dibuahi. Penyerbukan dihasilkan dengan bersatunya tepung sari pada rambut. Lebih kurang 95% dari bakal biji terjadi karena perkawinan sendiri. Biji tersusun rapi pada tongkol. Pada setiap tanaman jagung ada sebuah tongkol, kadang-kadang ada yang dua. Biji berkeping tunggal berderet pada tongkol. Setiap tongkol terdiri atas 10-14 deret, sedang setiap tongkol terdiri kurang lebih 200-400 butir (Suprapto dan Marzuki, 2005).

1.1.1        Syarat Tumbuh Jagung

Tanaman jagung menghendaki tanah yang subur untuk dapat berproduksi dengan baik. Hal ini dikarenakan tanaman jagung membutuhkan unsur hara terutama nitrogen (N), fosfor (P) dan kalium (K) dalam jumlah yang banyak. Pada umumnya tanah yang miskin hara dan rendah bahan organiknya, perlu penambahan pupuk N, P dan K serta pupuk organik baik berupa kompos maupun pupuk kandang sangat diperlukan (Basir dan Dahlan, 2001). 

Tanaman jagung juga membutuhkan air sekitar 100 - 140 mm/bulan. Oleh karena itu waktu penanaman harus memperhatikan curah hujan dan penyebarannya. Penanaman dimulai bila curah hujan sudah mencapai 100 mm/bulan. Untuk mengetahui ini perlu dilakukan pengamatan curah hujan dan pola distribusinya selama 10 tahun ke belakang agar waktu tanam dapat ditentukan dengan baik dan tepat (Murni dan Arief, 2008).

Tanaman jagung membutuhkan jumlah radiasi cahaya yang diterima oleh tanaman selama fase berbunga juga merupakan faktor yang penting untuk penentuan jumlah biji. Tanaman jagung merupakan tanaman yang toleran terhadap lingkungan, sehingga dapat tumbuh pada daerah tropis dengan suhu optimum 26,50C - 29,50C dan pH di atas 5 (Basir dan Dahlan, 2001).

 

1.1    Penyakit Bulai Jagung

 1.1.1        Penyebab Penyakit Bulai Jagung

Peronosclerospora maydis adalah salah satu patogen dari golongan jamur yang dapat menyebabkan penyakit bulai jagung. Penyakit ini adalah salah satu penyakit paling berbahaya dibandingkan dengan penyakit utama jagung lainnya. Kehilangan hasil akibat penyakit bulai mencapai 90%, bahkan dapat menyebabkan gagal panen.

Taksonomi Peronosclerospora maydis dapat diklasifikasikan menurut Alexopoulos dan Mimms (1979) yaitu:

Kingdom              : Myceteae

Divisi                    : Mastigomycota

Subdivisi              : Diplomastigomycotina

Kelas                    : Oomycetes

Ordo                     : Peronosporales

Family                  : Peronosporaceae

Genus                   : Peronosclerospora

Spesies                 : Peronosclerospora maydis

 

1.1.1        Gejala Penyakit Bulai Jagung

Gejala khas penyakit bulai adalah adanya warna klorotik memanjang sejajar tulang daun, dengan batas yang jelas dari daun yang masih sehat berwarna hijau normal. Daun permukaan bawah dan atas terdapat warna putih seperti tepung, hal ini sangat tampak dipagi hari. Tanaman jagung yang terserang penyakit bulai sejak umur muda sekitar (10–15 HST), maka akan terjadi infeksi yang sistemik dan intensitas serangan berat, sehingga dapat menyebabkan kegagalan panen.

Gejala lainnya adalah tanaman akan terhambat pertumbuhannya, termasuk pembentukan tongkol, bahkan sama sekali tongkol jagung tidak terbentuk. Selanjutnya daun-daun menggulung dan terpuntir, bunga jantan berubah menjadi massa daun yang berlebihan dan daun mengalami sobek-sobek (Semangun, dalam Sudihartha, 2017).

 1.1.2        Siklus Penyakit Bulai Jagung

Siklus penyakit bulai jagung dari tanaman sehat menuju tanaman sakit, dimulai dari proses sporulasi atau produksi konidia yang terjadi pada malam hari antara pukul 12.00-04.00. Kemudian konidia tersebar oleh tiupan angin di pagi hari sampai beberapa kilometer dan bila konidia menempel pada daun jagung muda yang basah maka dalam waktu satu jam konidia tersebut akan berkecambah 10 kemudian menginfeksi daun melalui stomata.

Organ reproduksi dimulai pada tengah malam yaitu ditandai dengan munculnya bakal tangkai konidia dari mulut daun, kemudian tangkai-tangkai konidia tersebut semakin memanjang dan membentuk cabang-cabang. Selanjutnya terbentuk bakal konidia pada masingmasing ujung ranting konidia, akhirnya tangkai dan bakal konidia semakin membesar sampai mencapai pertumbuhan maksimal, kemudian menjadi masak dan lepas dari tangkai-tangkai konidianya (Masdiar dkk., 1981).

1.1    Trichoderma spp

 

            2.1.1        Taksonomi Trichoderma spp.

Taksonomi Trichoderma spp. dapat diklasifikasikan menurut Alexopoulos dan Mimms (1979) yang dikutip Sudihartha yaitu:

Kingdom : Fungi

Divisi        : Amastigomycota

Kelas        : Deuteromycetes

Ordo         : Moniliales

Family      : Moniliaceae

Genus       : Trichoderma

Species     : Trichoderma spp.

2.1.2       Morfologi Jagung

Tanaman jagung berakar serabut terdiri dari akar seminal, akar adventif dan akar udara mempunyai batang induk, berbentuk silindris terdiri dari sejumlah ruas dan buku ruas. Pada buku ruas terdapat tunas yang berkembang menjadi tongkol (Goldsworthy dan Fisher, 1980 dalam Sudihartha, 2017).

Tinggi batang bervariasi 60-300 cm, tergantung pada varietas dan tempat selama fase vegetatif bakal daun mulai terbentuk dari kuncup tunas. Setiap daun terdiri dari helaian daun, ligula dan pelepah daun yang erat melekat pada batang. Tanaman jagung merupakan tanaman berumah satu (monoecious), bunga jantan dan bunga betina terletak dalam satu tanaman. Bunga jantan terletak pada ujung tanaman dan bunga betina terletak pada tongkol pada ketiak daun. Bunga jantan tersusun dalam bentuk malai, sedangkan bunga betina yang bersatu dengan tongkol membentuk benang sari yang akan muncul keluar dari tongkol jika sudah siap untuk dibuahi. Penyerbukan dihasilkan dengan bersatunya tepung sari pada rambut. Lebih kurang 95% dari bakal biji terjadi karena perkawinan sendiri. Biji tersusun rapi pada tongkol. Pada setiap tanaman jagung ada sebuah tongkol, kadang-kadang ada yang dua. Biji berkeping tunggal berderet pada tongkol. Setiap tongkol terdiri atas 10-14 deret, sedang setiap tongkol terdiri kurang lebih 200-400 butir (Suprapto dan Marzuki, 2005).

 

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-fareast-language:EN-US;}

2.1.3     Syarat Tumbuh Jagung

 

Tanaman jagung menghendaki tanah yang subur untuk dapat berproduksi dengan baik. Hal ini dikarenakan tanaman jagung membutuhkan unsur hara terutama nitrogen (N), fosfor (P) dan kalium (K) dalam jumlah yang banyak. Pada umumnya tanah yang miskin hara dan rendah bahan organiknya, perlu penambahan pupuk N, P dan K serta pupuk organik baik berupa kompos maupun pupuk kandang sangat diperlukan (Basir dan Dahlan, 2001). 

 

Tanaman jagung juga membutuhkan air sekitar 100 - 140 mm/bulan. Oleh karena itu waktu penanaman harus memperhatikan curah hujan dan penyebarannya. Penanaman dimulai bila curah hujan sudah mencapai 100 mm/bulan. Untuk mengetahui ini perlu dilakukan pengamatan curah hujan dan pola distribusinya selama 10 tahun ke belakang agar waktu tanam dapat ditentukan dengan baik dan tepat (Murni dan Arief, 2008).

 Tanaman jagung membutuhkan jumlah radiasi cahaya yang diterima oleh tanaman selama fase berbunga juga merupakan faktor yang penting untuk penentuan jumlah biji. Tanaman jagung merupakan tanaman yang toleran terhadap lingkungan, sehingga dapat tumbuh pada daerah tropis dengan suhu optimum 26,50C - 29,50C dan pH di atas 5 (Basir dan Dahlan, 2001).

 

 

2.2    Penyakit Bulai Jagung

 

 

 

2.2.1        Penyebab Penyakit Bulai Jagung

 

Peronosclerospora maydis adalah salah satu patogen dari golongan jamur yang dapat menyebabkan penyakit bulai jagung. Penyakit ini adalah salah satu penyakit paling berbahaya dibandingkan dengan penyakit utama jagung lainnya. Kehilangan hasil akibat penyakit bulai mencapai 90%, bahkan dapat menyebabkan gagal panen.

 

Taksonomi Peronosclerospora maydis dapat diklasifikasikan menurut Alexopoulos dan Mimms (1979) yaitu:

 

Kingdom              : Myceteae

 

Divisi                    : Mastigomycota

 

Subdivisi              : Diplomastigomycotina

 

Kelas                    : Oomycetes

 

Ordo                     : Peronosporales

 

Family                  : Peronosporaceae

 

Genus                   : Peronosclerospora

 

Spesies                 : Peronosclerospora maydis

 

 

 

2.2.2        Gejala Penyakit Bulai Jagung

 

Gejala khas penyakit bulai adalah adanya warna klorotik memanjang sejajar tulang daun, dengan batas yang jelas dari daun yang masih sehat berwarna hijau normal. Daun permukaan bawah dan atas terdapat warna putih seperti tepung, hal ini sangat tampak dipagi hari. Tanaman jagung yang terserang penyakit bulai sejak umur muda sekitar (10–15 HST), maka akan terjadi infeksi yang sistemik dan intensitas serangan berat, sehingga dapat menyebabkan kegagalan panen.

 

Gejala lainnya adalah tanaman akan terhambat pertumbuhannya, termasuk pembentukan tongkol, bahkan sama sekali tongkol jagung tidak terbentuk. Selanjutnya daun-daun menggulung dan terpuntir, bunga jantan berubah menjadi massa daun yang berlebihan dan daun mengalami sobek-sobek (Semangun, dalam Sudihartha, 2017).

 

 

2.2.3        Siklus Penyakit Bulai Jagung

 

Siklus penyakit bulai jagung dari tanaman sehat menuju tanaman sakit, dimulai dari proses sporulasi atau produksi konidia yang terjadi pada malam hari antara pukul 12.00-04.00. Kemudian konidia tersebar oleh tiupan angin di pagi hari sampai beberapa kilometer dan bila konidia menempel pada daun jagung muda yang basah maka dalam waktu satu jam konidia tersebut akan berkecambah 10 kemudian menginfeksi daun melalui stomata.

Organ reproduksi dimulai pada tengah malam yaitu ditandai dengan munculnya bakal tangkai konidia dari mulut daun, kemudian tangkai-tangkai konidia tersebut semakin memanjang dan membentuk cabang-cabang. Selanjutnya terbentuk bakal konidia pada masingmasing ujung ranting konidia, akhirnya tangkai dan bakal konidia semakin membesar sampai mencapai pertumbuhan maksimal, kemudian menjadi masak dan lepas dari tangkai-tangkai konidianya (Masdiar dkk., 1981)

 

 

2.3    Trichoderma spp

 

 

 

2.3.1        Taksonomi Trichoderma spp.

 

Taksonomi Trichoderma spp. dapat diklasifikasikan menurut Alexopoulos dan Mimms (1979) yang dikutip Sudihartha yaitu:

 

Kingdom : Fungi

 

Divisi        : Amastigomycota

 

Kelas        : Deuteromycetes

 

Ordo         : Moniliales

 

Family      : Moniliaceae

 

Genus       : Trichoderma

 

Species     : Trichoderma spp.

 

 

 

2.3.2        Mekanisme Kerja Jamur Trichoderma spp.

 

Mekanisme kerja yang terjadi di dalam tanah oleh aktivitas Trichoderma spp. yaitu persaingan yang baik antara ruang maupun nutrisi, dan sebagai mikoparasit sehingga mampu menekan aktivitas patogen tular tanah. Selain mikoparasit, yang dilakukan oleh jamur Trichoderma spp. dalam menekan pertumbuhan patogen adalah antibiosis dan dapat menginduksi resistensi tanaman. Mekanisme induksi resistensi tanaman oleh Trichoderma spp. terjadi karena adanya peningkatan aktivitas jalur sikimat, sehingga meningkatkan produksi senyawa fenol. Senyawa fenol memiliki turunan yang dapat bersifat racun langsung terhadap patogen sehingga berfungsi sebagai fitoaleksin (Harman, dkk., 2004).

 

Ketahanan yang terinduksi umumnya bersifat sistemik, karena daya pertahanan ditingkatkan tidak hanya pada bagian tanaman yang terinfeksi utama, tetapi juga pada jaringan terpisah tempat yang tidak terinfeksi (Darwis, 2010).  Jamur Trichoderma spp. juga memiliki beberapa kelebihan seperti mudah diisolasi, daya adaptasi luas, dapat tumbuh dengan cepat pada berbagai substrat, jamur ini juga memiliki kisaran mikroparasitisme yang luas dan tidak bersifat patogen pada tanaman (Arwiyanto, 2003).

 

Kemampuan masing-masing spesies Trichoderma spp. dalam mengendalikan jamur patogen berbeda-beda, hal ini dikarenakan morfologi dan fisiologinya berbeda-beda. Beberapa spesies Trichoderma spp. telah dilaporkan sebagai agensia hayati adalah Trichoderma harzianum, Trichoderma viridae, dan Trichoderma koningii, dan lain-lain yang tersebar luas.

Mekanisme induksi resistensi tanaman oleh Trichoderma spp. terjadi karena adanya peningkatan aktivitas jalur sikimat, sehingga meningkatkan produksi senyawa fenol. Senyawa fenol memiliki turunan yang dapat bersifat racun langsung terhadap patogen sehingga berfungsi sebagai fitoaleksin (Harman, dkk., 2004).

Ketahanan yang terinduksi umumnya bersifat sistemik, karena daya pertahanan ditingkatkan tidak hanya pada bagian tanaman yang terinfeksi utama, tetapi juga pada jaringan terpisah tempat yang tidak terinfeksi (Darwis, 2010). Aplikasi Trichoderma spp. pada rizosfer tanaman jagung diduga dapat memicu jumlah enzim peroksidase dan enzim polifenol-oksidase tanaman. Enzim peroksidase berperan dalam penguatan dinding sel tanaman, selanjutnya penguatan dinding sel tanaman akan menghambat infeksi jamur.

 

 

III.     PEMBAHASAN

 

 Serangan organisme pengganggu tanaman atau sering disebut OPT yang berupa hama maupun penyakit masih menjadi kendala dalam budidaya tanaman. Pada tanaman jagung,  penyakit utama yang sering menyerang adalah penyakit bulai. Kerusakan akibat penyakit ini bisa mencapai seratus persen. Menurut Sudjana, dkk. (1991), penyakit bulai atau downy mildew disebabkan oleh jamur Peronosclerospora maydis yang menyerang daun jagung, dan dapat menyebabkan kehilangan hasil sampai 90%. Tanaman jagung yang sudah terserang penyakit bulai tidak akan berproduksi.

 

Besarnya kerugian yang dialami petani jagung karena serangan penyakit bulai ini perlu ditekan dengan upaya pengendalian. Upaya pengelolaan penyakit bulai dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu dengan penanaman kultivar tahan, pengaturan waktu dan jarak tanam, sanitasi, serta perlakuan benih dengan fungisida yang berbahan aktif metalaksil.

 

Pengendalian dengan fungisida sintetis tersebut dapat berdampak buruk terhadap lingkungan, punahnya musuh alami, timbulnya residu dalam tanaman, menimbulkan resiko kesehatan pada penggunanya dan sering kali gagal dalam menghadapi peningkatan serangan patogen. Terjadinya peningkatan penyakit bulai di beberapa daerah penghasil jagung di Indonesia, yang sekalipun telah diberi perlakuan dengan fungisida sintetis yang berbahan aktif metalaksil, merupakan indikasi telah terjadinya perubahan ketahanan tanaman jagung terhadap peningkatan patogen penyebab penyakit bulai (Wakman dan Djatmiko, 2002 dalam Sudihartha, 2017).

 

Hasil berbagai penelitian memberikan informasi bahwa ada cara pengendalian penyakit bulai yang ramah lingkungan yakni dengan pemanfaatan agensia hayati jamur Trichoderma spp. Investasi jamur Trichoderma ke dalam tanah akan menekan pertumbuhan jamur lain yang merugikan.

 

Beberapa hasil penelitian Alfizar, dkk., (2013) yang dikutip oleh Sudihartha dilaporkan bahwa Trichoderma spp. dapat mengendalikan patogen pada tanaman diantaranya Rhizoctonia oryzae pada padi, Colletotrichum capsici pada cabai, Fusarium oxysporum pada pisang dan Sclerotium rolfsii.  Hasil Penelitian Sudihartha, 2017 bahwa Trichoderma viride isolat Gadingrejo, Trichoderma viride isolat PT NTF, Trichoderma viride isolat Klinik Tanaman dan Trichoderma harzianum isolat Tegineneng mampu menekan keterjadian penyakit bulai pada tanaman jagung hingga 11 HST.

 

Jamur Trichoderma spp. merupakan mikroorganisme tanah bersifat saprofit yang secara alami menyerang jamur patogen dan bersifat menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman khususnya jagung. Jamur Trichoderma spp. adalah jenis jamur yang banyak dijumpai pada hampir semua jenis tanah dan pada berbagai habitat. Trichoderma spp. adalah salah satu jenis jamur yang dapat dimanfaatkan sebagai agensia hayati pengendali patogen tanah. Jamur ini dapat berkembang biak dengan cepat pada daerah perakaran tanaman (Wahyuno, dkk., dalam Sudihartha, 2017).

 

Spesies Trichoderma spp. disamping sebagai organisme pengurai, dapat pula berfungsi sebagai agensia hayati. Trichoderma spp. dalam peranannya sebagai agensia hayati bekerja berdasarkan mekanisme antagonis yang dimilikinya. Trichoderma spp. juga merupakan jamur parasit yang dapat menyerang dan mengambil nutrisi dari jamur lain. Kemampuan dari Trichoderma spp. ini yaitu mampu memarasit jamur tanaman dan bersifat antagonis, karena memiliki kemampuan untuk menghambat pertumbuhan jamur lain (Gusnawati, dkk., 2014).

 

Menurut Oanh, dkk. (2006) yang dikutip dalam Sudihartha (2017) Trichoderma spp. juga dapat meningkatkan ketahanan tanaman dengan cara mengaktifkan gen-gen ketahanan dalam tanaman. Telah diteliti bahwa Trichoderma spp. dapat memperkuat akar tanaman, berkoordinasi dalam menginduksi ketahanan tanaman dan peningkatan laju fotosintesis daun. Trichoderma spp. juga mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman dan memberikan perlindungan terhadap infeksi akibat penyakit bulai. Kolonisasi jamur Trichoderma spp. yang terlibat memiliki kemampuan untuk menjaga akar, menembus tanaman, dan menahan metabolit beracun yang dihasilkan penyakit dalam menanggapi invasi (Vargas, dkk., 2009 dalam Sudihartha, 2017).

 

IV.     SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan Simpulan yang didapat berdasarkan tinjauan pustaka :

1.    Penyakit bulai pada jagung disebabkan oleh jamur patogen Peronosclerospora maydis yang dapat merugikan petani menyebabkan kehilangan sampai dengan 90 persen.

2.    Jamur Trichoderma spp. dapat dimanfaatkan sebagai agensia hayati yang ramah lingkungan untuk menekan perkembangan jamur patogen penyebab penyakit bulai pada tanaman jagung.

Saran

Perlu dilakukan pengkajian terapan di lapangan secara berkelanjutan untuk mendapatkan formula investasi jamur Trichoderma spp. Pada pertanaman jagung yang dapat efektif mengendalikan penyakit bulai.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Alfizar, Marlina, dan Susanti, F. 2013. Kemampuan antagonis Trichoderma sp. terhadap beberapa jamur patogen in vitro. Jurnal Floratek. 8(2) : 10-15.

Arwiyanto. 2003. Pengendalian hayati penyakit layu bakteri tembakau. Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia. 3(1) : 54-60.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Tegal. 2017. Kabupaten Tegal Dalam Angka 2017.

Basir, M. dan Dahlan, M. 2001. Penampilan karakter agronomik dan stabilitas hasil hibrida jagung (Zea mays L.) Genjah. Prosiding Kongres IV dan Simposium Nasional PERIPI. 23 – 24 Oktober 2001. Yogyakarta.

Darwis, H.S. 2010. Induksi resistensi konidia Trichoderma koningii terhadap Phytophthora nicotianae pada beberapa varietas tembakau Deli. Jurnal Agrium. 16(2) : 46-56.

Gusnawati, H.S., Taufik, M., Triana, L., dan Asniah. 2014. Karakterisasi morfologis Trichoderma spp. indigenus Sulawesi Tenggara. Jurnal Agroteknos. 4(2) : 87-93.

Harman, G.E., Howell, C.R., Chet, I. dan Lorito, M. 2004. Trichoderma spesies opportunistic, avirulent plant symbionts. Microbiology. 2(2) : 43-56.

Masdiar, B., Bahagiawati, A.H., dan Tantera D.M. 1981. Proses sporulasi Peronosclerospora maydis (RAC) SHAW dan faktor luar yang mempengaruhinya. Kongres Nasional PFI ke VI di Padang. Padang.

Moayedi, G. dan Mostowfizadeh-ghalamfarsa, R. 2009. Antagonistic activities of Trichoderma spp. on Phytophthora root rot of sugar beet. Iran Agricultural Research. 28(2) : 8-18.

Murni, A.M. dan Arief, R.W. 2008. Teknologi Budidaya Jagung. Disunting Irawan, Bambang Etab. Balai Besar Pengakajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Suprapto dan Marzuki, A.R. 2005. Bertanam Jagung. Penebar Swadaya. Jakarta. 59 hlm.

Sudihartha. F.F.N, 2017. Pengaruh Beberapa Isolat Trichoderma Spp. Terhadap Keterjadian Penyakit Bulai (Peronosclerospora Maydis) Dan Pertumbuhan Tanaman Jagung (Zea Mays

Rencana Strategis