Melati kuncup segar dan melati roncean

 

8.

Nama Kelompok Usaha

:

Kelompok Tani Melati Jaya

 

Produk yang dihasilkan

:

Melati kuncup segar dan melati roncean

 

Nama kontak person

:

Sutoyo

 

Alamat

:

Desa Kedungkelor Rt.02/04

Kecamatan Warureja

 

No. HP

:

0818 8578 11

 

Sebagai salah satu sentra produksi melati di Jawa Tengah, Kabupaten Tegal, memiliki tiga kecamatan penghasil melati, yaitu Kramat, Suradadi, dan Warureja. Dari tiga kecamatan di wilayah pesisir Pantai Utara itu, total luas lahan melati mencapai 371,3 hektar. Menurut data di Dinas Tanbunhut Kabupaten Tegal, produksi melati di Tegal pada 2013 mencapai 9.451 ton  dengan luas lahan panen mencapai 371,3 hektar.

Pemanfaatan bunga melati awalnya terbatas untuk campuran pembuatan teh dan perlengkapan pada acara resepsi pernikahan (ronce). Namun beberapa tahun belakangan ini, bunga melati merupakan salah satu komoditi ekspor dalam bentuk segar dengan negara tujuan Singapura, Malaysia, dan Thailand. Kondisi inilah yang membuat secercah harapan bagi petani melati. Harga melati semula sekitar Rp.4.000,- /kg menjadi di atas Rp.20.000/kg, bahkan pada saat musim resepsi pernikahan harga bisa mencapai di atas Rp.100.000,-/kg. Sampai saat ini di Kabupaten Tegal baru terdapat satu perusahaan eksportir bunga melati yakni PT Alamanda Sejati Utama dengan volume ekspor berkisar 3 ton per hari.

 

Salah satu petani bunga melati di Desa Kedungkelor, Sutoyo juga memasok melati ke perusahaan eksportir melati. Negara yang paling banyak mengimpor melati Indonesia adalah negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Hindu atau Buddha.Sutoyo mengatakan ada perbedaan permintaan antara negara dengan agama tersebut. Untuk ekspor, varietas melati yang banyak diminati adalah melati emprit dan melati kebo. Dari kedua varietas itu, untuk agama Hindu biasanya minta yang kuncup polos ada mahkotanya. Kalau yang Budha biasanya yang kuncup gundul tanpa mahkota.

Sutoyo mengatakan penanaman bunga melati sangat tergantung dengan ada atau tidaknya sinar matahari. Semakin banyak sinar matahari maka kualitas melati semakin bagus, warna bunga semakin putih dan semakin wangi.

Sayangnya, Sutoyo mengaku sumber daya manusia para petani terutama dalam hal sistem pertanian melati di Indonesia masih kalah saing dengan pertanian di negara tetangga seperti Thailand. Di Thailand, jarak tanam 1x1,5 meter. Di sini jaraknya 0,2x0,6 meter sehingga tanaman terinjak-injak dan sinar matahari tidak bisa masuk dengan sempurna, akhirnya bunga tidak tumbuh maksimal.

Sutoyo mengaku, sebagai petani melati dirinya hanya mendapatkan untung 30 persen dari penjualan melati. Sisanya sudah dianggarkan untuk bayar pemetik Rp 6.000 dan untuk ongkos produksi yang lain (biaya pembelian peralatan, benih, pupuk pestisida, biaya pengolahan tanah, biaya penanaman dan penyiraman dan biaya pemeliharaan). Menurut Sutoyo, biaya produksi yang dikeluarkan dari umur tanaman 0 sampai 6 bulan sekitar Rp. 25.490.000,-, dengan kentungan yang diperoleh di bulan ke-7 sebesar kurang lebih Rp. 5 juta rupiah.

Untuk memperluas areal pemasarannya, di tahun 1997 Sutoyo membuka lapak di Pasar Bunga Rawa Belong. Usahanya berkembang pesat, karena melati banyak dibutuhkan warga Jakarta dan sekitarnya dalam acara-acara resmi seperti acara pernikahan, dll. Sejak itu, pedagang melati mulai banyak di Pasar Rawa Belong sehingga dibentuklah Asosiasi Pedagang Melati Rawa Belong pada tahun 2004 dengan Sutoyo sebagai ketuanya.

 

Rencana Strategis