Emping Jagung

 

13.

Nama Kelompok Usaha

:

Kelompok Wanita Tani (KWT) Sekar Tani

 

Produk yang dihasilkan

:

Emping jagung

 

Nama kontak person

:

Nunu

 

Alamat

:

Desa Blubuk Kecamatan Dukuhwaru

 

No. HP

:

087830040964

 

Kondisi permintaan pasar yang tinggi membuat berbagai pihak mulai melirik emping jagung sebagai salah satu komoditi usaha yang patut diperhitungkan. Salah satu diantaranya adalah Ibu Nunu (salah satu anggota KWT Sekar Tani). Wanita yang lahir di Malang, 53 tahun yang lalu tersebut sejak 4 tahun yang lalu mulai menekuni produksi emping jagung skala industri di rumahnya Desa Blubuk Kecamatan Dukuhwaru. Di tahun 2010 terbentuklah KWT Sekar Tani dengan Supeni sebagai ketuanya. Sejak produk ini (emping jagung) diperkenalkan di wilayah Kabupaten Tegal khususnya Slawi, respon pasar sangatlah positif, bahkan ketika lebaran sering kebanjiran order, sehingga tidak ada alasan untuk tidak menekuninya. Ditemui langsung di lokasi produksinya, Bu Nunu mengaku bahwa usaha tersebut merupakan perwujudan salah satu mimpinya yang ingin memberdayakan masyarakat di sekitarnya.

 

Emping jagung yang ditawarkan Bu Nunu memiliki rasa yang lain yaitu pedas manis rasa bumbu balado tradisionil. Cita rasa pedas manis pada emping jagung ini diolah dari bumbu tradisionil yaitu cabe, gula, bawang dan beberapa bumbu lainnya yang membuat emping jagung pedas manis ini tetap sehat dan tidak berbahaya apabila dikonsumsi.

Emping jagung pedas manis terbungkus rapi dalam kemasan plastik Polypropylene dengan ketebalan 0,10 mm, sehingga tidak mudah terjadi kebocoran kemasan yang dapat menimbulkan emping jagung pedas manis menjadi lembab dan tidak renyah. Emping jagung pedas manis dalam kemasan memiliki daya tahan produk hingga 6 bulan dimulai dari masa produksinya. Kemasan emping jagung pedas manis dikemas kecil-kecil ± 20 gr, kemudian dikemas lagi 1 pak (1 pak isi 20 kemasan kecil). Selain itu juga tersedia dalam bentuk loss atau curah (kemasan 250 gram). Harga per kilonya kurang lebih sebesar 24 ribu rupiah, sedang harga per pak-nya 7 ribu rupiah.  Dalam satu bulan omsetnya bisa mencapai 3 – 4 juta.

Untuk bahan baku, Bu Nunu selama ini menggunakan berbagai jenis jagung, terutama pioneer P21 yang dikenal sebagai jagung varietas unggulan. Jagung tersebut dibelinya dari petani dengan harga Rp 3.200,00/ kg. Dengan menggunakan jagung varietas unggulan, hasil jadi produknya juga berkualitas, yakni memiliki kadar air yang rendah (6 %), sehingga cita rasa empingnya sangat kompetitif. Menurutnya apabila menggunakan bahan baku sembarang, emping jagung yang dihasilkannya akan berwarna pucat dan tidak bisa mengembang. Sedangkan untuk peralatan seperti alat pencuci, pengukus dan penggiling jagung dimodifikasi sendiri oleh suaminya yang pernah bekerja di PT. Nurtanio, Bandung.

Pemasarannya baru meliputi wilayah Slawi dan sekitarnya serta di pasar-pasar tradisional. Selama melakoni usahanya itu, Bu Nunu masih sering terkendala dengan proses pengeringan. Proses pengeringan menggunakan matahari langsung. Karena kondisi cuaca yang kadang tidak menentu, maka proses pengeringan terkadang menjadi kendala. Untuk mengantisipasi kendala tersebut, beliau memiliki strategi produksi, yaitu memperbanyak stok produk ketika cuaca sedang bersahabat. Bu Nunu berharap ke depannya bisa lebih memperluas cakupan area pemasaran produk emping jagungnya.

 

Rencana Strategis