• Panen Bawang Putih

    Kebangkitan dan kejayaan bawang putih mulai teruji. Hari ini Selasa,7 Agustus 2018 dilakukan panen musim tanam I 2018 hasil budidaya kelompok tani binaan KPw BI Tegal dan Dinas Tan dan KP Kab.Tegal sebanyak 67 h.....Read more

  • Petani Milenial

    Tegal memiliki beberapa produk unggulan hasil pertanian yang patut dibanggakan hal ini disampaikan dihadapan Bupati Tegal, Ibu Dra Hj. Umi AzizahRead more

  • Panen Raya

    Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal, Ir. Khofifah, MM mengatakan tanam padi Oktober 2017 waktu lalu telah menghasilkan panen pada Januari 2018 seluas 1.200 hektar dan Februari seluas 6.880 hektar. target luas tambah tanam (LTT) Desember 2017 seluas 12.000 Ha Produktivitas di sini 6,76 ton per hektar.Read more

  • Panen Raya di Bulakpacing

    Pada sambutannya Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan berpesan agar dalam program Kabupaten Tegal Go Organik bisa dilaksanakan tidak hanya oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan saja tetapi semua pihak ikut menyukseskan program tersebut. Read more

  • Pasar Tani

    Pembukaan Pasar Tani oleh Pj. Bupati Tegal ; Bapak Sinoeng Noegroho Rachmadi beserta istri, yang dihadiri pula oleh Sekda Kab. Tegal beserta jajarannya, Kepala Dinas Tan & KP dan Sekdin, Penyuluh Pertanian, UPTD dan para petani, KTNA se Kabupaten Tegal.Read more

  • Workshop Perhiptani

    amis 6 April bertempat di Hotel Grand Dian telah dilaksanakan workshop penyuluh pertanian. Acara ini merupakan inisiatif dari PERHIPTANI Kabupaten Tegal untuk membangkitkan sistem penyuluhan di Kabupaten Tegal. Peserta Work Shop dari Penyuluh Pertanian PNS, Penyuluh Pertanian Swadaya, Penyuluh Pertanian Swasta dan Pemerhati Pertanian. Read more


Menyongsong Kebangkitan Petani:

Pandemi covid-19 Bukan Kiamat, Hadapi, Jalani, dan Atasi

 

Oleh:

Rokhlani

Penyuluh Pertanian Madya

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal

 

e-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.


Pendahuluan

Kabupaten Tegal merupakan salah satu Kabupaten Jawa Tengah dengan mayoritas penduduk sebagai petani, nelayan, dan pekerja buruh pabrik. Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang signifikan terhadap terhadap perekonomian masyarakat Desa. Mereka umumnya mengeluhkan keterbatasan mobilitas seperti biasanya. Bagi yang biasa jualan, mereka tidak bisa jualan. Sementara itu, bagi petani meskipun mereka dapat tetap beraktivitas di sawah, namun komoditas yang dihasilkan seperti sesayuran menjadi tidak laku. Pandemi Covid-19 setidaknya membuat mereka stress, bingung, dan panic. Meskipun Pemerintah telah menyalurkan bantuan Rp 600.000 per KK namun, rupanya belum dapat mengatasi permasalahan.

COVID-19 yang terus menerus menyebarluas semakin memperpnjang kecemasan masyarakat terutama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal ini disebabkan karena sebagian besar masyarakat banyak yang tidak lagi bekerja atau berdagang. Masyarakat yang bekerja secara informal dengan pendapatan harian dan pendapatan tidak pasti juga mengalami penurunan pendapatan yang relatif rendah. Penurunan pendapatan akan membuat konsumsi di masyarakat yang bekerja di sektor informal juga menurun. Hal ini akan mendorong kontraksi di sisi perminatan agregat.

Pada triwulan I-2020, pertumbuhan ekonomi nasional masih positif sebesar 2,97%. Namun pada triwulan II, pertumbuhan ekonomi sudah minus 5,32%. Negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Italia, Perancis, Jerman, dan Korea Selatan juga mengalami hal yang sama, bahkan pertumbuhan ekonominya sudah mencapai minus 17%-20% (Setneg, 2020). Kemenkeu telah merilis berita bahwa pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2020 berkisar minus 2,9% hingga minus 1,1%. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia akan memasuki resesi ekonomi (Kemenkeu, 2020)

 

Dampak Pandemic Covid-19  di sektor pertanian

Setidaknya ada 4 dampak serangan wabah covid-19.  Pertama ketika meningkatnya tingkat kepedulian, social distance,  mengurangi perjalanan, mengurangi keramaian, akan memengaruhi stabilitas supply dan demand barang dan jasa serta harga yang kemungkinan meningkat. Kedua, rantai Paskokan Panggan Melambat dan akan terjadi Kekurangan karena penyaluran logistik pertanian terganggu. Ketiga, berdampak pada kesehatan petani yang dapat menimbulkan kepanikan dan keterpurukan produksi pangan, mengingat petani didominasi oleh petani usia lanjut. Keempat, kerusakan Sumber Daya Pangan, karena terutama komoditas sesayuran dan bebuahan rentan dihinggapi virus, mengingat  sesayuran dan bebuahan mudah membusuk.

 

Sektor Pertanian harus mendapat perhatian khusus

Sektor pertanian merupakam salah satu sektor yang melakukan aktivitas perekonomian yang esensial.  Pertanian adalah sektor penopang ketahanan pangan (food security) dikala krisis ekonomi. Ini bukan hanya sebatas bertahan hidup tapi juga masalah asupan gizi masyarakat. Sampai saat ini, belum ada pihak manapaun yang berani memastikan  pandemi Covid-19 kapan berakhir. Kita harus menghindari/mewaspadai krisis Covid-19 jangan sampai berubah menjadi krisis pangan. Selain itu, perlu kita perhatikan bahwa kemiskinan lebih dominan ada di pedesaan. Mempertahankan aktivitas ekonomi di pedesaan menjadi relevan agar peningkatan angka kemiskinan dapat diredam. Selain sebagai bagian penting dari sistem penyediaan pangan, di saat krisis ternyata sektor pertanian dapat menjadi jaring pengaman sosial (sosial safety net) alamiah. Sektor pertanian, di saat normal-pun, masih merupakan sektor penyerap tenaga kerja terbanyak di Indonesia, apalagi ketika ada krisis ekonomi.

Sementara itu, perlu diperhatikan dengan serius bahwa  risiko terpapar virus Corona di sektor pertanian dan pedesaan tidak dapat diabaikan. Meskipun aktivitas produksinya dilakukan di luar ruangan,  akan tetapi perlu diingat bahwa rerata umur petani di Kabupaten Tegal petani, berada di kisaran pra-lansia dan lansia, 45-60an tahun yang rentan dan beresiko jika terpapar virus Covid-19. Selain itu, juga diperparah kondisi geografis pedesaan yang terpencil dan jauh dari fasilitas kesehatan yang cukup.

Petani adalah salah satu profesi yang sering mengalami ketidakpastian, baik dari alam maupun dari realisasi pasar. Krisis pandemi Covid-19 menambah sumber ketidakpastian di kalangan petani. Menurut penulis, Pimpinan Pusat dan Daerah perlu memperbanyak dialog dengan para petani dan stakeholder lebih intensif untuk menggali permasalahan di lapangan. Tidak hanya, Dinas yang menangani pertanian, akan tetapi melibatkan dinas lain untuk berkolaborasi membantu petani. Untuk ini, perlu mengoptimalkan kelembagaan dan meningkatkan sense-of-sectoral crisis, perlu dibuat pokja (kelompok kerja) khusus penanganan sektor pertanian di masa pandemi Covid-19.

 

Peluang Saat  Pandemi covid-19

Pandemi COVID-19 yang terjadi sejak awal 2020 di satu sisi menjadi bencana besar,  tetapi disisi lain terdapat keuntungan. Pertama, Pembelian daring mulai bergeser dari produk yang sifatnya keinginan (wants) ke produk kebutuhan (needs). Perubahan ini akan menguntungkan karena sebagian besar produk pertanian adalah kebutuhan pokok. Ini berarti akan terjadi peningkatan produk-produk pertanian atau minimal akan sama dengan sebelum pandemi. Kedua, konsumen mulai mengurangi makan di restoran (eating out) dan beralih ke layanan pesan antar (delivery).

Pola pembelian makanan “pesan antar” yang sebelumnya sesekali menjadi lebih rutin. Implikasinya bagi usaha perhotelan, restoran, dan kafe (horeka) akan terdampak karena terjadi penurunan permintaan untuk di makan di tempat. Ketiga, Kebijakan Work From Home (WFH) telah mengembalikan ibu rumah tangga untuk lebih rutin memasak makanan sendiri di rumah. Situasi ini berpotensi menjadikan permintaan untuk produk segar pertanian akan meningkat, seperti sayuran dan daging. Keempat, pasangan rumah tangga milenial dengan pola pikir kepraktisannya, juga diprediksi akan lebih banyak memasak makanan sendiri, namun dengan bahan yang siap masak (ready to cook) dan dapat dimasak sewaktu-waktu (frozen food). Fenomena ini bisa berdampak terhadap semakin meningkatnya permintaan komoditas pangan berupa bahan/produk siap olah beku. Kelima, Pola belanja secara daring yang berulang (umumnya untuk kebutuhan dasar dan penting) akan mendorong berkembangnya pola berlangganan. Pola ini akan menyebabkan peningkatan intensitas belanja secara daring yang diperkirakan akan berkembang semakin pesat pada masa new normal dan pada masa masa mendatang.

 

Kiat Bisnis Tetap Survive di Tengah Pendemi Covid-19

Setiap pebisnis tentu menginginkan usahanya sukses dan tetap survive di tengah pandemic corona ini. Ada kiat-kiat tertentu agar bisnis tetap survive walau di landa badai. Berikut penulis sajikan tips bisnis menurut Rohmah (2020). Pertama, memiliki kepercayaan diri dan kemandirian yang tinggi. Setiap pebisnis harus memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Bisnis apapun yang dilakukan tentu memiliki faktor risiko. Tanpa kepercayaan yang tinggi bisnis tidak dapat berjalan karena tidak berani untuk menanggung segala risikonya. Bila sudah memiliki kepercayaan diri, dengan modal yang kecil pun sudah bisa memulai usaha. Seorang pebisnis juga harus memiliki mental wirausaha dan kemandirian yang tinggi sehingga tidak malas-malasan dalam menjalankan usahanya. Mental wirausaha itu sangat penting, karena dalam menjalankan usahanya tentu seorang pebisnis akan mengalami berbagai permasalahan, sehingga siap jatuh bangun dalam membangun bisnisnya. Jika tidak memiliki mental wirausaha, bisa dipastikan pebisnis itu akan putus asa dan gulung tikar.

Kedua, Berbisnis yang halal, mulai  dari modal, proses, hingga penjualan. Modal usaha sangatpenting, meski demikian harus didapatkan dengan cara yang baik, tidak curang. Proses dalam berbisnis pun juga dijalankan dengan cara-cara yang baik pula, jujur, tidak melakukan monopoli, dan kecurangan. Pada dasarnya jika berbuat kecurangan imbasnya kembali pada diri sendiri. Selain itu yang tidak kalah penting adalah barang-barang yang diperjualbelikan itu barang-barang yang halal, baik, dan tidak membahayakan tubuh manusia.

Ketiga, Melakukan ekspor dan impor barang. Pebisnis harus memiliki pangsa pasar yang luas. Dengan melakukan kegiatan ekspor dan impor barang berarti telah memperluas pangsa pasar. Semakin luas pangsa pasar yang diciptakan, maka semakin besar target penjualan dan keuntungan yang didapatkan. Seorang pebisnis harus kreatif mencari dan menciptakan peluang pasar, meningkatkan produktivitas, dan efisien.

Keempat, Menj aga kepercayaan relasi bisnis. Hal ini sangat penting bagi maju mundurnya usaha yang dilakukan. Menjaga kepercayaan relasi bisnis dengan cara menjaga kualitas barang dan juga menepati pembayaran sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan. Cara yang digunakan untuk menjaga kepercayaan pelanggan adalah dengan memberikan servis yang baik dan memuaskan. Juga barang yang dijual kualitasnya baik dan tidak ada cacat.

Kelima, Melakukan promosi barang yang diperdagangkan, yaitu  dengan membuat iklan baik di media elektronik maupun media cetak. Pada era sekarang promosi dapat dilakukan dengan mudah, yaitu melalui social media yang memiliki follower sangat banyak dan luas, dapat menjangkau berbagai belahan dunia. Dengan promosi ini calon konsumen dapat mengetahui kualitas, bentuk, dan harga dari komoditas yang ditawarkan. Promosi dapat lebih menarik konsumen dengan memberikan taster dan diskon harga pada awal launching produk.

 Keenam, Berbisnis barang kebutuhan dasar. Bisnis yang sangat menjanjikan adalah bisnis barang kebutuhan dasar. Hal ini dikarenakan barang kebutuhan dasar memiliki dua sifat, yaitu long lasting dan fast moving. Dalam dunia bisnis long lasting diartikan mampu bertahan dalam waktu yang lama untuk dikelola sebagai sebuah usaha, karena usaha yang peluangnya tidak menentu, kemungkinan kecil bisa menghasilkan keuntungan yang signifikan. Barang kebutuhan dasar akan selalu dicari dan diperlukan oleh seluruh lapisan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mereka, karena kebutuhan ini sifatnya primer. Barang kebutuhan dasar juga memiliki sifat fast moving, yaitu terus dicari-cari konsumen karena barang tersebut merupakan kebutuhan primer. Seluruh lapisan masyarakat memerlukan barang tersebut, maka akan selalu ada permintaan untuk membeli barang tersebut. Permintaan yang tinggi akan membuat barang kebutuhan primer tersebut cepat laku terjual. Barang kebutuhan dasar itu di antaranya adalah makanan, minuman, pakaian, alat kesehatan dan kebersihan lingkungan. Jenis barang-barang ini meru-pakan komoditas yang prospektif untuk berbisnis.

Ketujuh, Leadership/kepemimpinan. Seorang pemimpin harus memiliki jiwa kepemimpinan, mudah beradaptasi dengan orang lain, dan terbuka dengan saran dan kritik. Hal ini demi kemajuan bisnis yang dijalankan. Tanpa kepemimpinan yang baik sebuah bisnis tidak akan sukses. Saran dan kritik diterima agar bisnis yang dijalankan selalu inovatif, kreatif, dan fleksibel.

Kedelapan, menggunakan teknologi informasi dalam berbisnis. Dewasa ini masyarakat sudah mulai terbiasa dengan konsumsi digital, apalagi dengan adanya wabah corona pemerintah membuat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masyarakat harus membatasi geraknya di luar rumah. Dengan adanya pelayanan belanja online masyarakat akan sangat terbantu, dan juga ini merupakan kesempatan pebisnis untuk melayani dan menarik konsumen sebanyak-banyaknya.

 

Penutup

Pandemi corona telah melumpuhkan sendi-sendi perekonomian. Perusahaan Negara banyak yang mengalami kerugian. Sektor usaha swasta pun berangsur runtuh. Masyarakat menjerit karena banyak yang tidak bisa bekerja mencari nafkah, sementara itu kebutuhan hidup tetap menuntut. Sebagai penutup tulisan ini, penulis sajikan kutipan " (Q.S. al-Baqarah [2]: 155-156). “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihiraaji'uun

 

Daftar Pustaka

Kementerian Keuangan. 2020a. Jaga kesehatan dan dorong perekonomian melalui stabilisasi makro ekonomi dan akselerasi belanja. (online). Diakses tanggal 30 September 2020 https://www.kemenkeu.go.id/ publikasi/siaran-pers/.

Livana, PH., R.H. Suwoso, T. Febrianto, D. Kushindarto, F. Aziz. 2020. Dampak Pandemi Covid-19 Bagi Perekonomian Masyarakat Desa. Indonesian Journal of Nursing and Health Sciences 1(1):37-48.

Rokhmah, S.N. 2020. Adakah Peluang Bisnis di Tengah Kelesuan Perekonomian Akibat Pandemi Coronavirus Covid-19?. Buletin Adalah: Buletin Hukum dan Keadilan 4(1):63-74.

Sekretariat Negara. 2020. Pidato Presiden RI pada sidang tahunan MPR RI dan sidang bersama DPR RI dan DPD RI dalam rangka HUT ke-75 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (online). Diakses tanggal 30 September 2020. https://www.setneg.go.id/baca/index/pidato_presiden_ri_pada_sidang_tahunan_mpr_ri

Sihaloho ED. 2020. Dampak Covid-19 terhadap perkenomian Indonesia. Bandung (ID): Departemen Ilmu Ekonomi, Universitas Padjajaran.

 

Budidaya TURIMAN

 

Slawi - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan dan BPTP Jawa Tengah melakukan sosialisasi kegiatan “TURIMAN” yaitu Tumpang Sari Tanaman untuk berbagai komoditas yaitu padi – jagung, padi – kedelai dan jagung – kedelai yang diselenggarakan di Kecamatan Pagerbarang Kabupaten Tegal pada hari Rabu tanggal 26 September 2018 yang diikuti oleh petani, penyuluh dan petugas, bidang pertanian Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal.

Selengkapnya...

UPAYA MENDUKUNG GRATIEKS KOMODITAS MELATI DI KABUPATEN TEGAL

 

Oleh:

Rokhlani, S.P., M.P. 

Penyuluh Pertanian Madya 

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal 

e-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

 

 ABSTRAK

Melati merupakan komoditas florikultura di Kabupaten Tegal yang layak diunggulkan dalam mendukung Gratieks. Keragaan daerah sentra melati di Kabupaten Tegal terdapat di empat kecamatan dan 13 desa yaitu Kecamatan Kramat (Desa Kramat, Maribaya, Plumbungan, Padaharja, Dampyak, Bongkok, Munjungangung), Kecamatan Suradadi (Desa Jatibogor, Sidaharja, Purwahamba), Kecamatan Warurejo (Desa Demangharjo, Kedungkelor)  dan Kecamatan Lebaksiu (Desa Lebakgoah). Setiap tahun produktivitas melati cenderung naik 36-37% dengan rerta produksi 2.766.701 kg. Namun, masih ditemuai kendala seperti sering terjadinya bencana rob, penurunan produkstivitas lahan, kondisi tanaman perlu diremajakan, sehingga dengan menekan atau mengatasi permasalahan diharapkan produksi  melati dapat meningkat lagi. Bagi pengusaha perlu menerapkan staretgi S-O (Strength-Opportunity), yaitu dengan melakukan penetrasi pasar agar volume eksport dapat ditingkatkan.

Kata Kunci: Florikultura, melati, gratieks, eksport


PENDAHULUAN

Melati merupakan salah satu komoditas bernilai ekonomi tinggi, kegunaannya tidak hanya sebagai tanaman hias pot dan taman, tetapi juga sebagai pengharum teh, bahan baku industri parfum, kosmetik, obat tradisional, bunga tabur pusara, penghias ruangan, dekorasi pelaminan, dan pelengkap dalam upacara adat (Suyanti et al, 2003). Terdapat 200 jenis melati yang telah diidentifikasi oleh para ahli botoni dan baru sekitar 9 jenis melati yang umum dibudidayakan yaitu melati hutan (J. multiflorum), melati raja (J. rex), melati cablanca (J. officinale), J. revotulum, J. mensy, J. parkery,  melati autralia (J. simplicifolium), melati hibrida dan melati (J. sambac) (Rukmana, 1997). Bunga melati berbentuk terompet dengan warna bervariasi tergantung pada jenis dan spesiesnya. Umumnya bunga melati tumbuh di ujung tanaman. Susunan mahkota bunga tunggal atau ganda (bertumpuk), beraroma harum tetapi ada beberapa jenis melati tidak ada beberapa jenis melati tidak memiliki aroma. (Hieronymus, 2013).

Tegal adalah salah satu kabupaten yang terletak di bagian barat laut provinsi Jawa Tengah, Indonesia yang memiliki luas 876,10 km2.Kabupaten Tegal secara geografis terletak pada koordinat 108o576-109o2130 BT dan 6o5041 - 7o1530 LS. Panjang garis pantai 30 km dan panjang perbatasan darat dengan daerah lain adalah 27 Km. Wilayah Kabupaten Tegal terdiri dari daratan seluas 878,7 KM2 dan lautan seluas 121,50 km2.Mempunyai letak yang strategis pada jalan Semarang - Tegal - Cirebon serta Semarang - Tegal - Purwokerto dan Cilacap, dengan fasilitas pelabuhan di Kota Tegal. Kabupaten Tegal yang memiliki agroekologi unik di sepanjang Pantai Utara hingga di berbatasan dengan  Kabupaten Pemalang, terdapat rangkaian perbukitan terjal dan sungai besar yang mengalir, yaitu Kaligung dan Kali Erang, keduanya bermata air di hulu Gunung Slamet, sangat potensial untuk pengembangan melati.

Berikut adalah data keragaan Kebun dan Pertanaman Melati  tigatahun terakhir (2017–2019) di Kabupaten Tegal

Tahun

LuasTanam (m2)

Produksi (kg)

Produktivitas (kg/m2)

2017

3.419.250

2.663.142

0,78

2018

2.095.440

2.200.981

1,05

2019

2.088.440

3.435.980

1,65

Sumber: Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal, 2019

 

Berdasarkan data diatas, produksi melati di tahun 2017-2018 mengalami penurunan sebesar 17% sedangkan pada tahun 2018-2019 mengalami peningkatan dengan rerata peningkatan sebesar 56%. Selain itu, produktivitas pertanaman melati juga mengalami kenaikan sebesar 36-57% setiap tahunnya.Sementara itu, untuk menggambarkan keragaan kebun melati di Kabupaten Tegal pada tahun 2019 berdasarkan usia pertanaman disajikan pada Tabel di bawah ini.

No

Kecamatan

Luas Total

(m2)

Usia Pertanaman Melati

< 1 tahun

1– 4 tahun

> 4 tahun

Luas

%

Luas

%

Luas

%

1.

Kramat

930.000

77.000

8,28

432.700

46,53

420.300

45,19

2.

Suradadi

768.440

-

-

300.000

39

468.440

61

3.

Warurejo

340.000

-

-

100.000

29,41

240.000

70,59

4.

Lebaksiu

50.000

10.000

20

40.000

80

-

-

Total

2.088.440

87.000

4,16

872.700

41,79

1.128.740

54,05

Sumber: Dinas Pertanian Kabupaten dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal, 2019

Berdasarkan data diatas, dari luas total tanaman melati sebesar 2.088.440 m2. Usia pertanaman melati dibawah 1 tahun didapatkan  data luas tanam sebesar 87.000 m2 atau 4,16%. Kemudian luas tanam pertanaman melati meningkat pada usia 1–4 tahun yaitu sebesar 872.700 m2 atau 41,79%, dan terus meningkat pada usia lebih dari 4 tahun dengan luas sebesar 1.128.740 m2 atau 54,05%. Hal ini membuat Kabupaten Tegal sebagai salah satu sentra melati terbesar di Indonesia dan menjadi tempat pusat ekspor melati ke luar negeri.

 

Outlook

Berdasarkan data dari Badan Karantina Pertanian, nilai ekspor bunga Melati dari Jawa Tengah selama bulan Agustus 2018 sampai Januari 2019 mencapai Rp 200,55 miliar. Bahkan, komoditas bunga ini diekspor ke beberapa negara seperti Singapura, Malaysia, Thailand dan Arab Saudi (http://buttmkp.karantina.pertanian.go.id/?p=799, 2019). Berikut disajikan data volume dan frekuensi expor bunga melati kabupaten Tegal

 

No.

 

Negara Tujuan

Data Agustus-Desember 2018

Data Januari-Juni 2019

Vol. (Kg)

Frek. (kali)

Vol. (Kg)

Frek. (kali)

1.

Malaysia

251.475

413

413

413

2.

Singapore

41.368

114

114

114

3.

Thailand

282.600

229

229

229

4.

Saudi Arabia

64.375

86

86

86

 

TOTAL

 639.818

842

684.735

856

 Sementara itu, berdasarkan data laporan dari UPT : Balai Karantina Pertanian Kelas I Semarang - WILKER : Wilker Pelabuhan Laut Tegal, pada tahun 2020 Kabupaten Tegal juga telah melakukan ekport bunga melati segar sebanyak 1.500.490 kg dengan nilai eksport mencapai Rp 102,73 milyar. Hal ini menunjukkan, meskipun dalam masa pandemi  Covid-19, ekspor melati Kabupaten Tegal masih bagus. Keragaan daerah sentra melati di Kabupaten Tegal, yaitu terdapat di empat kecamatan dan 13 desa yaitu Kecamatan Kramat, Kecamatan Suradadi, Kecamatan Warurejo dan Kecamatan Lebaksiu, berada di 13 desa yaitu Desa Kramat, Maribaya, Plumbungan, Padaharja, Dampyak, Bongkok, Munjungangung, Jatibogor, Sidaharja, Purwahamba, Demangharjo, Kedungkelor, Lebakgoah. Jumlah kelompok tani yang ada di Kabupaten Tegal berjumlah 16 kelompok dan petani berjumlah 975 orang. Luas areal melati di Kabupaten Tegal menurut Dinas Pertanian setempat adalah sebesar 2.088.440 m2, dengan populasi per 100 m2 adalah 500–600 tanaman. Rerata produksi per hari sebesar 0,46 kg/100m2 dan rerata produksi per bulan adalah sebesar 288.450 kg. Berikut adalah Keragaan Daerah Sentra Melati di Kabupaten Tegal.

No

Kecamatan

 

Desa

Jumlah

 KT

Melati

JumlahPetaniMelati (orang)

Luas Areal

(m2)

Populasi per 100 m2

Produksi per hari (kg)

Rata-rata produksi per bulan (kg)

1.

Kramat

Kramat

1

11

40.000

500

150

4.500

 

 

Maribaya

1

301

600.000

600

3000

90.000

 

 

Plumbungan

1

90

200.000

600

950

28.500

 

 

Padaharja

1

5

30.000

500

100

3.000

 

 

Dampyak

1

1

10.000

600

50

1.500

 

 

Bongkok

1

10

30.000

600

120

3.600

 

 

munjungagung

1

8

20.000

600

100

3.000

 

Jumlah

 

7

426

930.000

 

4470

134.100

2.

Suradadi

Jatibogor

-

36

50.000

500

200

6.000

 

 

Sidaharja

3

220

600.000

500

2.700

81.000

 

 

Purwahamba

1

89

118.440

500

540

16.200

 

Jumlah

 

4

345

768.440

 

3.440

103.200

3.

Warurejo

Demangharjo

1

30

50.000

500

225

6.750

 

 

Kedungkelor

3

170

290.000

500

1.305

39.150

 

Jumlah

 

4

200

340.000

 

1.530

45.900

4.

Lebasksiu

Lebakgoah

1

4

50.000

600

175

5.250

Jumlah

1

4

50.000

 

175

5.250

JumlahTotal

16

975

2.088.440

 

9.615

288.450

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Analisa Usaha Tani Kabupaten Tegal

No

Kecamatan

Desa

Biaya UsahaTani/1.000 m2

Rata-rata produksi/1.000 m2/bulan

Harga ditingkat petani sesuai grade (Rp/kg)

Penerimaan per 1.000 m2/th (Rp)

Tujuan Pasar *)

1.

Kramat

Kramat

8.000.000

  112,5  

15.000

.20.250.000

Lokal & ekspor

 

 

Maribaya

7.500.000

150

17.000

30.600.000

Lokal & ekspor

2.

Suradadi

Jatibogor

7.000.000

120

18.000

25.920.000

Lokal

 

 

Sidaharja

7.000.000

135

18.000

29.160.000

Lokal & ekspor

 

 

Purwahamba

7.000.000

136,78

18.000

29.544.480

Lokal & ekspor

3.

Warurejo

Demangharjo

7.500.000

135

17.000

27.540.000

Jakarta

 

 

Kedungkelor

7.500.000

135

17.000

27.540.000

Jakarta

4.

Lebaksiu

Lebakgoah

8.500.000

105

17.000

21.420.000

Lokal & Ekspor

 

Sumber: Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan  Kabupaten Tegal, 2019.


Issues & Problems

Masalah dalam pengembangan melati di Kabupaten Tegal di antaranya adalah rendahnya produktivitas melati yang diusahakan. Rerata provitas melati selama tiga tahun 2017-2019 baru mencapai 1,16 kg/m2. Selain itu, kualitas dan kontinuitas suplai produk melati masih rendah. Masalah lainnya adalah kondisi tanaman yang tidak terawat dengan baik sehingga kurang produktif.  Degradasi dan alih fungsi lahan juga menjadi masalah tersendiri, karena menyebabkan berkurangnya luas pertanaman melati.

Selain itu, permasalahan pengembangan melati di Kabupaten Tegal dikarenakan wilayah pantai utara sering mengalami bencana rob, hal inilah yang menjadi salah satu penyebab menurunnya luas tanam bunga melati karena rusaknya lahan tanaman melati. Selain itu, meningkatnya kadar garam yang ada di dalam tanah membuat lahan sukar ditanami bunga melati. Kendala lain yang muncul adalah permasalahan irigasi, apabila pada musim kemarau tanaman bunga melati tidak dapat memproduksi bunga melati karena kurangnya ketersediaan air, fluktuasi harga jual dan besarnya peran tengkulak terhadap petani. Permasalahan tersebut yang membuat petani tidak ingin mengelola lahannya dan beralih ke pekerjaan lain seperti buruh atau nelayan, beberapa petani memilih menanam komoditas lain, menjual atau menyewakan lahannya.

 

HASIL IDENTIFIKASI

Metode yang digunakan untuk mengidentifikasi masalah dan menganalisis masalah digunakan analisis situasi (situasional analysis) dan analisis SWOT (strength, weakness, opportunities, Threats). Sementara itu,  untuk menyusun solusi dan strategi menggunakan Ansoff Matrix . Berikut disajikan data hasil identifikasi.

a.        Situational Analysis: Internal Considerations, External Forces

Internal Considerations

External Forces

Potensi:

a.     Kabupaten Tegal merupakan salah satu sentra budidaya bunga melati di Jawa Tengah;

b.     Kabupaten Tegal memiliki sumberdaya alam yang sangat  cocok untukbudidaya melati.

c.     Produktivitas pertanaman melati cenderung mengalami kenaikan dengan sebesar 36-57% setiap tahunnya. Provitas melati tahun 2017 (0,78 kg/m2), tahun 2019 (1,05 kg/m2), dan Tahun 2019 (1.69 kg/m2)

Potensi:

a.     Kabupaten Tegal memiliki agroekologi unik di sepanjang Pantai Utara,  terdapat rangkaian perbukitan terjal dan sungai besar yang mengalir, yaitu Kali Gung dan Kali Erang, keduanya bermata air di hulu Gunung Slamet.

b.     Trend peningkatan permintaan melati dari Indonesia terutama dari negara Malaysia, Singapura, Thailand, dan Arab Saudi dengan volume ekport tahun 2018 (639.818 kg), tahun 2019 (684.735 kg), Tahun 2020 (1.500.490 kg)

Hambatan:

a.      Keterbatasan modal petani

b.     Belum tersedianya peralatan pasca panen yang dapat digunakan untuk menjaga kualitas bunga melati agar tetap baik

c.      Banyak tanaman tua yang belum diremajakan.

 

 

Hambatan:

a.     Petani masih sukar memanfaatkan fasilitas KUR, karena adanya persratan agunan

b.     Kebijakan pemerintah berkaitan dengan bantuan alsintan cenderung lebih mengutamakan untuk tanaman pangan

c.     Belum tersedianya penangkar bibit melati

d.     Terbatasnya tenaga pemetik bunga melati

 

Berdasarkan hasil analisis matrik SWOT di atas maka dapat diperoleh 4 alternatif strategi yaitu: (1) Penetapan strategi penetrasi pasar (2) Meningkatkan promosi (3) Melakukan pengembangan produk (4) Meningkatkan kualitas produk dan menjaga kepercayaan pelanggan. Bertalian dengan penetrasi pasar, pengusaha melati dapat meningkatkan pangsa pasarnya melalui penetrasi pasar dengan menerapkan konsep pemasaran yang lebih berkembang terhadap produk atau pelayanan pada pasar yang sudah ada, sedangkan untuk meningkatkan promosi pengusaha melati Pengusaha dapat meningkatkan pangsa pasarnya melalui penetrasi pasar dengan menerapkan konsep pemasaran yang lebih berkembang terhadap produk atau pelayanan pada pasar yang sudah ada.

b.    Analisis SWOT komoditas melati

Strength:

1.     Merupakan komoditas hortikultura unggulan Kabupaten Tegal, selain bawang merah

2.    Luas   lahan   tanaman   melati   cukup luas wilayah dengan keadaan geografis, topografi, iklim yang sangat mendukung

 

Weakness:

1.     Pasar lokal belum begitu menjanjikan

2.     Perlakuan teknis budidaya kurang intensif (masih diusahakan secara tradisional)

3.     Harga melati ditingkat petani masih relatif rendah, tergantung pada musim dan tengkulak.

 

Opportunities:

1.     Agroindustri melati masih sangat terbuka

2.     Dapat dipanen setiap hari

3.     Produk diversifikasinya banyak;

4.     Sudah mempunyai pasar eksport yang jelas.

5.     Kemitraan dengan pihak lain yang sangat kuat

6.     Perkembangan informasi dan komunikasi pemasaran

 

Threats:

1.     Keadaan   musim  sangat  menentukan  harga  melati

2.     Alih fungsi lahan ke non pertanian

3.     Lahan utama di sentra tanaman melati sudah jenuh karena sering terkena bencana rob.

 

Selain itu, perlu dilakukan upaya pengembangan produk dibutuhkan kerjasama yang baik antara SDM yang trampil, kualitas bunga yang diakui, dan teknologi yang canggih dan efisien. Dengan keanekaragaman produk yang ditawarkan pengusaha, diharapkan penjualan dapat meningkat dan mampu bersaing di pasaran. Hal lain yang perlu dilakukan adalah meningkatkan mutu yang ada menjadi semakin lebih baik dan berusaha meyakinkan konsumen bahwa harga mempengaruhi kualitas produk. Menjaga kepercayaan pelanggan juga menjadi hal terpenting karena menunjukkan sebuah loyalitas konsumen. Konsumen yang loyal akan datang kembali membeli produk tanaman bunga dan cenderung sulit beralih pada produk pesaing, sehingga kepercayaan pelanggan

 

SOLUSI DAN STRATEGI

Penyelesaian masalah dan strategi yang dapat dilakukan disajikan dengan ansoff matrix. Ansoff membagi matriks ke dalam empat strategi berdasarkan kombinasi antara produk baru, produk yang ada saat ini, pasar baru, dan pasar yang ada saat ini. Empat strategi tersebut adalah penetrasi pasar, pengembangan pasar, Penegembangan produk, dan Diversifikasi. Strategi penetrasi pasar dianggap paling tidak berisiko dibandingkan dengan tiga pilihan lainnya. Perusahaan eksportir  telah memiliki pengalaman historis, sehingga seharusnya mengetahui risiko, peluang dan area perbaikan dari pendekatan sebelumnya, sedangkan Strategi diversifikasi adalah yang paling agresif dan paling berisiko dibandingkan ketiga strategi lainnya.

 

Sementara itu, untuk menemukan pasar potensial baru, perusahaan eksportir  harus melakukan riset pasar yang sistematis. Kemudian, mereka menargetkan secara individual segmen pasar yang telah secara jelas teridentifikasi. Pasar baru mungkin membutuhkan perusahaan untuk mengembangkan saluran pemasaran dan distribusi yang baru untuk masing-masing pasar.

Ansoff Matrix

Market Development

1.     Pelatihan GAP (Good Agriculture Practices, GHP (Good Higiene Practices) GMP (Good Manufacturing Processing), GDP (Good Distribution Practices), bagi pelaku utama.

2.     Penyusunan SNI untuk menjadi acuan menentukan spesifikasi dan standar mutu bunga melati segar maupun sebagai bahan baku industry

3.     Promosi produk melati dan olahannya ke pasar luar negeri dan dalam negeri.

Diversification

Diversifikasi produk olahan melati  seperti teh bunga melati, minyak atsiri, dan parfum 

Market Penetration

1.     Market Intelligence Pasar Baru yang dilakukan oleh Atase Perdagangan;

2.     Peningkatan promosi pada negaranegara tujuan ekspor non tradisional;

 

Product Development

1.    Penelitian dan Pengembangan untuk meningkatkan keseragaman mutu melati Indonesia

2.    Pengembangan Export Quality Infrastructure pada industri melati Indoensia

3.    Peningkatan kemitraan antara smallholders dengan perkebunan besar dan industri melati Indonesia

 

PRO

KONTRA

1.     Program peremajaan pertanaman melati untuk meningkatkan produksi

1.     Cakupan program peremajaan pertanaman melati belum dilakukan secara masif

2.     Adanya kerjasama mitra antara petani melati  lokal dengan perusahaan.

3.     Perluasan areal tanaman melati di wilayah kecamatan lain yang cocok.

2.     Karakteristik pasar monopsoni di level hulu dan monopoli di level hilir industri melati Indonesia

3.     Alih fungsi lahan produktif untuk kepeluan non pertanian.

 

Kendala dalam mengupayakan Pengembangan Melati di Kabupaten Tegal

a.        Kendala Internal

Kendala internal yang muncul di antaranya adalah keterbatasan modal petani, meskipun banyak akses kredit yang ditawarkan kepada petani, namun rumitnya persyaratan yang harus dipenuhi menyebabkan petani enggan untuk mengakses fasilitas kredit tersebut. Kendala lain yang dihadapi adalah tenaga kerja. Tenaga kerja untuk pemeliharaan tanaman, selain mahal juga langka. Buruh tani yang ada kebanyakan berusia lanjut, sedangkan tenaga kerja  yang masih muda lebih cenderung memilih untuk bekerja di luar sektor pertanian. Kendala lain yang dihadapi adalah belum tersedianya peralatan pasca panen yang memadai yang dapat digunakan untuk menjaga kualitas bunga melati. Hal lain yang menjadi kendala adalah tanaman yang ada saat ini didominasi tanaman tua (> 4 tahun) yang belum diremajakan, sementara itu, di Kabupaten Tegal belum ada penangkar bibit melati.

b.        Kendala Eksternal

Salah satu kendala eksternal yang dihadapi saat ini adalah belum adanya kebijakan khusus untuk pengembangan melati di daerah sentra. Dukungan dimaksud adalah sokongan pembiayaan. Selain itu, belum ada kerjasama yang sinergis stakeholder (Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja, dan Dinas Perdagangan, Pasar, dan Koperasi dan pihak terkait lainnya).

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Kesimpulan

Melati merupakan komoditas florikultura di Kabupaten Tegal yang layak diunggulkan dalam mendukung Gratieks. Setiap tahun produktivitas melati cenderung naik 36-37% dengan rerta produksi 2.766.701 kg. Namun, masih ditemuai kendala seperti sering terjadinya bencana rob, penurunan produkstivitas lahan, kondisi tanaman perlu diremajakan, sehingga dengan menekan atau mengatasi permasalahan diharapkan produksi  melati dapat meningkat lagi. Bagi pengusaha perlu menerapkan staretgi S-O (Strength-Opportunity), yaitu dengan melakukan penetrasi pasar agar volume eksport dapat ditingkatkan.

Saran

1.        Perlu dilakukan reinventarisasi petani melati, pembentukan dan penguatan, serta fasilitasi badan hukum asosiasi petani melati Kabupaten Tegal

2.        Perlunya   dukungan kebijakan dari pemerintah baik pusat maupun daerah   terhadap pengembangan komoditas melati seperti    pembangunan    pabrik olahan melati,  regulasi  pasar,  sarana irigasi, dan sarana  dan prasarana lain yang dibutuhkan oleh petani melati.

3.        Perlunya  pembinaan  teknis  budidaya melati  secara    intensif    dan pengembangan pasar;

4.        Perlu  modifikasi  dalam  teknis  budidaya melati menghadapi  musim  yang  tidak  pasti

5.        Perlu diupayakan perluasan lokasi tanam lain di tempat yang lebih aman dari bencana rob.

 

 

Daftar Pustaka

BUTTMKP. 2019. BUTTMKP Siap Dukung Akselerasi Ekspor Melati Segar Tegal. (online) http://buttmkp.karantina.pertanian.go.id/?p=799. Diakses tanggal 28 April 2021.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal. 2019. Programa Penyuluhan Pertanian Tahun 2019.

Hieronymus Budi. 2013. Tumpas Penyakit 40 Daun 10 Akar Rimpang. Yogyakarta: Cahaya, Jiwa.

Rukmana. R.1997. Usaha Tani Melati. Yogyakarta: Kanisius.

 

Suyanti, Sulusi Prabawati, dan Sjaifullah. 2003. Sifat Fisik dan Komponen Kimia Bunga Melati Jasminum officinale. Buletin Plasma Nutfah; 9 (2)2 Pp. 19-22.


 

 

 

 

 

 

 

 

KOMODITAS PERTANIAN UNGGULAN BUMIJAWA

 

Slawi - Kecamatan Bumijawa yang terletak di sebelah ujung selatan Kabupaten Tegal memiliki beberapa produk unggulan hasil pertanian yang patut dibanggakan hal ini disampaikan dihadapan Bupati Tegal, Ibu Dra Hj. Umi Azizah saat audiensi di kantor Bupati Tegal pada hari Kamis, tanggal 14 Maret 2019 bersama Ibu Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan beserta perwakilan petani muda milenial dan penyuluh pertanian.

Selengkapnya...

Memaknai Istilah Pertanian Berkelanjutan

 

Oleh:

Rokhlani

Penyuluh Pertanian Madya

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kab. Tegal

 

Terminologi pertanian berkelanjutan (Sustainable Agriculture) sebagai padanan istilah agroekosistem pertama kali dipakai sekitar awal tahun1980-an oleh para pakar pertanian FAO (Food Agriculture Organization). Agroekosistem sendiri mengacu pada modifikasi ekosistem alamiah dengan sentuhan campur tangan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, serat, dan kayu untuk memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan manusia. Conway (1984dalam Nurhidayati et al 2008) juga menggunakan istilah pertanian berkelanjutan dengan konteks agroekosistem yang berupaya memadukan antara produktivitas, stabilitas, danpemerataan.

 

Konsep pertanian berkelanjutan mulai dikembangkan sejak ditengarai adanya kemerosotan produktivitas pertanian (levelling off) akibat green revolution. Green revolution memang sukses dengan produktivitas hasil panen bebijian yang menakjubkan, namun ternyata juga memiliki sisi buruk atau eksternalitas negatif, misalnya erosi tanah yang berat, punahnya keanekaragaman hayati, pencemaranair, bahaya residu bahan kimia pada hasil-hasil pertanian,dan lain-lain.

 

Menurut para pakar ilmu tanah atau agronomi, istilah sistem pertanian berkelanjutan lebih dikenal dengan istilah LEISA (Low external Input Sustainable Agriculture) atau LISA (Low Input Sustainable Agriculture), yaitu sistempertanian yang berupaya meminimumkan  penggunaan input (benih, pupuk kimia, pestisida, dan bahan bakar) dari luar ekosistem, yang dalam jangka panjang dapat membahayakan kelangsungan hidup pertanian.

 

Kata sustainable mengandung dua makna, yaitu maintenance dan prolong. Artinya, pertanian berkelanjutan harus mampu merawat atau menjaga (maintenance) untuk jangka waktu yang panjang (prolong).Suatu sistem pertanian bisa dikatakan berkelanjutan jika mencakup hal-hal berikut:

  • Mantap secara ekologis, yang berarti bahwa kualitas sumber daya alam dipertahankan dan kemampuan agroekosistem secara keseluruhan dari manusia, tanaman, dan hewan sampai organisme tanah ditingkatkan. Kedua haliniakanterpenuhijikatanahdikeloladankesehatantanaman,hewanserta masyarakat dipertahankan melalui proses biologis. Sumberdaya lokal dipergunakan sedemikian rupa sehingga kehilangan unsur hara, biomas,dan energi dapat  ditekan serendah mungkin serta mampu mencegah pencemaran. Tekanannya adalah pada penggunaan sumberdaya yang  dapat diperbaharui.
  • Bisa berlanjut secara ekonomis, yang berarti bahwa petani bias cukup menghasilkan untuk pemenuhan kebutuhan dan atau pendapatan sendiri, serta mendapatkan penghasilan yang mencukupi untuk mengembalikan tenaga dan biaya yang dikeluarkan. Keberlanjutan ekonomis ini bisa diukur bukan hanya dalam hal produk usaha tani yang langsung namun juga dalam hal fungsisepertimelestarikansumberdayaalamdanmeminimalkanresiko.
  • Adil, yang berarti bahwa sumber daya dan kekuasaan didistribusikan sedemikian rupa sehingga kebutuhan dasar semua anggota masyarakat terpenuhi dan hak-hak mereka dalam penggunaan lahan, modal yang memadai, bantuan teknis serta peluang pemasaran terjamin. Semua orang memiliki kesempatan untuk berperan serta dalam pengambilan keputusan, baik di lapanganan maupun dalam masyarakat. Kerusuhan sosial biasanya mengancam sistem sosial secara keseluruhan,termasuk sistem pertaniannya.
  • Manusiawi, yang berarti bahwa semua bentuk kehidupan (tanaman, hewan, dan manusia) dihargai. Martabat dasar semua makhluk hidup dihormati,dan hubungan serta institusi menggabungkan nilai kemanusiaan yang mendasar, seperti kepercayaan, kejujuran, harga diri, kerjasama dan rasa saying. Integritas budaya dan spiritualitas masyarakat dijaga dan dipelihara.
  • Luwes, yang berarti bahwa masyarakat pedesaan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi usaha tani yang berlangsung terus, misalnya pertambahan jumlah penduduk, kebijakan, permintaan pasar, dan lain-lain. Hal ini meliputi bukan hanya pengembangan teknologi yang baru dan sesuai, namun juga inovasi dalam arti sosial danbudaya.

 Keberlanjutan suatu sistem pertanian berarti membudidayakan tanaman dan hewan yang memenuhi tiga tujuan sekaligus, yaitu: (1) keuntungan ekonomi, (2) manfaat sosial bagi keluarga petani dan komunitasnya, dan (3) konservasi lingkungan.Pertanian berkelanjutan bergantung pada keseluruhan sistem pendekatan yang mencakup keseluruhan tujuan yaitu kesehatan lahan dan manusiaberlangsung terus. Dengan demikian, sistem pertanian berkelanjutan lebih menitik-beratkan pada penyelesaian masalah untuk jangkapanjang daripada perlakuan angka pendek.

 

Keberlanjutan dari sistem pertanian dapat diamati dan diukur melalui indikator yang telah ditetapkan. Indikator untuk komunitas pertanian atau pedesaan adalah tercapainya 3 tujuan keberlajutan termasuk:

1.              Keberlanjutan di bidangekonomi:

a.              Keluarga dapat menyisihkan hasil /keuntungan bersih yang secara konsisten semakinmeningkat.

b.              Pengeluaran keluarga secara konsistenmenurun.

c.              Usahatanisecarakonsistenmenguntungkandaritahunketahun.

d.              Pembelian bahan pangan di luar pertanian danpupuk menurun.

e.              Ketergantungan terhadap kredit pemerintahmenurun.

2.              KeberlanjutanSosial:

a.       Pertanian  dapat mendukung usaha lain dan keluarga didalam komunitas tersebut.Terjadi sirkulasi uang di dalam ekonomilokal.

b.              Jumlah keluarga petani meningkat atautetap.

c.              Para pemuda mengambil alih usaha tani orang tua mereka dan melanjutkan usahataninya.

d.              Para lulusan sarjana kembali ke komunitasnya dipedesaan.

3.              KeberlanjutanLingkungan:

a.    Tidak   dijumpai   lahanbero  (kosong). Lahan bero diperbolehkan bila pemulihan kondisi ekologi lahan perlu  dilakukanhanya melalui’pemberoan’.

b.              Air bersih mengalir di saluran-saluran pertanian dan di perairanlainnya.

c.              Kehidupan margasatwamelimpah.

d.              Ikan-ikan  dapat  berkembang  biak  di perairan yang mengalir ke lahan pertanian.

e.              Bentang lahan pertanian penuh dengan keanekaragamanvegetasi.

Jadi, dalam sistem pertanian berkelanjutan, sumberdaya tanah dipandang sebagai faktor kehidupan yangk kompleks dan dipertimbangkan sebagai modal utama (prime capital asset) yang harus dijaga dan dirawat secara baik. Karena tanah sebagai tempat hidup berjuta-juta mikroorganisme yang mempunyai peranan penting dalam mempertahankan dan meningkatkan kesuburan tanah. Oleh karena itu, dalam sistem pertanian berkelanjutan ada istilah ”tanah hidup”. Tanah hidup harus dipertahankan dalam sistem pertanian berkelanjutan dengan menerapkan prinsip pertanian organik antara lain pemberian kompos, pupuk kandang, cover crop, pupuk hijau dll, serta menerapkan sistem pengelolaan jasad pengganggu secara terpadu menggunakan bahan-bahan alami.

Referensi:

Nurhidayati, I. Pujiwati, A. Solichah,  D. A. Basit. 2008. Pertanian Organik. Fakultas Pertanian, Universitas Islam Malang, Malang

VERIFIKASI KELOMPOK TANI CALON PENERIMA KEGIATAN BUDIDAYA TANAMAN SEHAT (BTS) PADI TAHUN 2019



Slawi - Budidaya tanaman padi intensif berpotensi meningkatkan serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).  Untuk mengantisipasinya perlu dilakukan upaya-upaya pengelolaan sesuai prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT), antara lain penerapan budidaya tanaman sehat dan pelestarian musuh alami.

 

Selengkapnya...

Rencana Strategis