strategi penguatan bump

STRATEGI PENGUATAN BUMP PT. TEGAL MANDIRI SEJAHTERA

 

Oleh:

Rokhlani

Penyuluh Pertanian Madya

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal

 

 

 

ABSTRAK

 

Petani telah mengorganisasikan dirinya sedemikian rupa untuk menyesuaikan diri dengan kondisi dan hambatan alam, infrastruktur, maupun sosial politik agar dapat memenuhi semua kebutuhan hidup ekonominya. Kabupaten Tegal memiliki 1.379 kelompok tani, 287 gabungan kelompok tani, 200 Kelompok Wanita Tani, 284 perkumpulan petani pemakai air, dan 156 unit pelayanan jasa alsintan. pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang No 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, UU No 1 Tahun 2003 tentang Lembaga Keuangan Mikro dan Undang-undang No 17 Tahun 2012 tentang Koperasi, dimana kelompok tani, Gapoktan, serta LKM disarankan menjadi Badan Usaha Milik Petani (BUMP) dengan tujuan agar organisasi petani memiliki legalitas hukum untuk memudahkan akses terhadap berbagai lembaga formal.

 

Selengkapnya...

STRATEGI PENGUATAN BUMP PT. TEGAL MANDIRI SEJAHTERA

STRATEGI PENGUATAN BUMP PT. TEGAL MANDIRI SEJAHTERA

 

Oleh:

Rokhlani

Penyuluh Pertanian Madya

 

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal

Petani telah mengorganisasikan dirinya sedemikian rupa untuk menyesuaikan diri dengan kondisi dan hambatan alam, infrastruktur, maupun sosial politik agar dapat memenuhi semua kebutuhan hidup ekonominya. Kabupaten Tegal memiliki 1.379 kelompok tani, 287 gabungan kelompok tani, 200 Kelompok Wanita Tani, 284 perkumpulan petani pemakai air, dan 156 unit pelayanan jasa alsintan. pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang No 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, UU No 1 Tahun 2003 tentang Lembaga Keuangan Mikro dan Undang-undang No 17 Tahun 2012 tentang Koperasi, dimana kelompok tani, Gapoktan, serta LKM disarankan menjadi Badan Usaha Milik Petani (BUMP) dengan tujuan agar organisasi petani memiliki legalitas hukum untuk memudahkan akses terhadap berbagai lembaga formal.

Startegi penguatan BUMP PT. Tegal Mandiri Sejahtera agar tetap eksis dapat dilakukan dengan menerapkan dua strategi dasar yaitu penguatan manajemen organisasi dan penguatan manajemen usaha tani. Penguatan manajemen organisasi  dilakukan dengan melakukan analisis kebutuhan organisasi, analisis tugas, dan analisis kebutuhan karyawan BUMP. Penguatan manajemen usaha tani sangat penting dilakukan  untuk membentuk dan membangun jiwa agribisnis dan kewirausahaan petani melalui pengembangan jejaring dan kemitraan di bidang pertanian mulai dari hulu hingga hilir. Penguatan melalui pengembangan jejaring dan kemitraan dapat dilakukan melalui proses pemetaan, menggali dan mengumpulkan informasi, penjajagan kerjasama, penyusunan rencana kerjasama, membuat kesepakatan, penandatanganan akad kerjasama, pelaksanaan kegiatan, sampai kepada kegiatan monitoring dan evaluasi.   

 

Kata Kunci: Petani,usaha, berdaya, sejahtera, agribisnis

 

 

Pendahuluan

Petani mengorganisasikan dirinya dalam berbagai kebutuhan mulai dari untuk menghadapi kelaparan dan kemiskinan, juga dalam hal politik dan ekonomi (Penunia, 2011). Lebih lanjut dikatakan bahwa dengan mengorganisasikan diri, petani juga lebih mudah memeroleh informasi, dan juga mencapai economies of scale, menekan biaya dan memfasilitasi kegiatan pengolahan dan pemasaran. Organisasi petani (Marketing-oriented Farmer Organizations) membantu anggotanya dalam pembelian input dan proses pemasaran. Petani telah mengorganisasikan dirinya (self organizing) sedemikian rupa, dengan menyesuaikan pada kondisi dan hambatan alam, infrastruktur maupun sosial politik agar dapat memenuhi semua kebutuhan hidup ekonominya. Selain itu, mereka juga membangun dan menjalankan berbagai relasi sosial atas berbagai basis relasi, umumnya basis relasi patroon-clien (Wahyuni et al, 2016).

Sementara itu, untuk memperbaiki kapasitas organisasi petani, pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang No 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, UU No 1 Tahun 2003 tentang Lembaga Keuangan Mikro dan Undang-undang No 17 Tahun 2012 tentang Koperasi, dimana kelompok tani, Gapoktan, serta LKM disarankan menjadi Badan Usaha Milik Petani (BUMP) yaitu Koperasi, CV, PT dan asosiasi. Tujuannya adalah agar organisasi petani memiliki legalitas hukum untuk memudahkan akses terhadap berbagai lembaga formal termasuk fasilitas perbankan.

 

Kondisi Umum Pertanian di Kabupaten Tegal

Kabupaten Tegal merupakan salah satu Kabupaten di Jawa Tengah dengan Ibu Kota Slawi, terletak pada koordinat 108o57'6"-109o21'30" BT dan 6o50'41" - 7o15'30" LS. Kabupaten Tegal memiliki luas wilayah lebih kurang  87.878,56 Ha dan lautan seluas 121,50 km2, dibagi dalam 18 wilayah Kecamatan, 281 Desa, dan 6 Kelurahan, yang secara topografis terdiri dari 3 kategori daerah yaitu : (1) dataran rendah pantai meliputi tiga kecamatan yaitu Kramat, Suradadi dan Warureja, (2) dataran rendah, meliputi Kecamatan Slawi, Adiwerna, Dukuhturi, Tarub, Talang, Lebaksiu, Pagerbarang, sebagian Kramat, sebagian Suradadi, sebagian Pangkah, sebagian Warureja dan sebagian Kedungbanteng, dan (3) dataran tinggi meliputi Kecamatan Jatinegara, Bojong dan Bumijawa.

Kabupaten Tegal beriklim tropis, dengan rerata curah hujan sepanjang tahun 2018 sebesar 114,03 mm. Banyaknya curah hujan bergantung pada kelembaban udara yang tinggi, tetapi tekanan udara rendah dengan kecepatan angin, suhu udara dan lama penyinaran matahari serta penguapan sedang-sedang saja. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Pebruari sebanyak 551,4 mm dengan kelembaban 86 persen, Tekanan Udara 1009,5 milibar, Kecepatan rata-rata angin 4,00 knots, Suhu udara rata-rata 26,50C dan Lama penyinaran matahari 118,1 jam.

Jenis tanah yang ada di wilayah Kabupaten Tegal adalah: Alluvial, Lithosol, Podsolik merah dan kuning, sedangkan jenis tanah yang mendominasi adalah alluvial (35%) dan lathosol (23,52%). Berdasarkan Buku Kabupaten Tegal Dalam Angka tahun 2019 , luas lahan sawah yang meliputi sawah irigrasi, sawah tadah hujan/non irigasi, sawah pasang surut dan sawah lainnya/polder, rembesan, dan lain-lain tercatat seluas 38.735 ha (sekitar 44,08%) dari luas daratan keseluruhan. Lahan sawahtersebut setiap tahunnya cenderung mengalami penurunan luasan.

 

Keadaan Sosial Ekonomi Kabupaten Tegal

Berdasarkan data dari BPS, pekerjaan utama masyarakat Kabupaten Tegal di peringkat ketiga setelah sektor industri pengolahan dan perdagangan adalah sekor pertanian. Selain itu, dapat dilihat pula dalam data PDRB menurut lapangan usaha, dimana sekor pertanian juga menempati urutan  ketiga terbesar penyumbang PDRB setelah sektor industri pengolahan dan perdagangan. Peranan sektor pertanian menjadi penting karena merupakan salah satu kegiatan utama dalam menggerakan kegiatan ekonomi di Kabupaten Tegal. Dengan kata lain jika kondisi pertaniannya produktif maka pendapatan masyarakat akan meningkat. Begitu pun sebaliknya jika kondisi pertanian mengalami penurunan produktivitas maka akan berimbas kepada penurunan tingkat pendapatan dan daya beli masyarakat.

 

Kelembagaan Pelaku Utama di Kabupaten Tegal

Pelaku utama pertanian di Kabupaten Tegal terdiri atas petani, pekebun, atas inisiatif sendiri dengan difasilitasi oleh penyuluh dan pemerintah wilayah setempat, telah membentuk lembaga pelaku utama. Data tahun 2019 tercatat ada 1.379 kelompok tani (Poktan), 287 gabungan kelompok tani (Gapoktan), 200 Kelompok Wanita Tani (KWT), 284 perkumpulan petani pemakai air (P3A), dan 156 unit pelayanan jasa alsintan (UPJA).

Lembaga pelaku utama sangat penting keberadannya dalam pembangunan pertanian. Penumbuhan kelembagaan pelaku utama tersebut berpedoman pada Permentan No 82/Permentan/OT.140/8/2013, tentang pedoman Pembinaan kelompok tani dan gabungan kelompok tani, yang diarahkan pada tumbuhnya suatu kerjasama yang bersumber dari kesadaran para pelaku utama dengan cara bergabung dalam kelompok untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya.

Kemampuan tumbuh dan berkembang organisasi petani sangat beragam. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal  menginformasikan bahwa perkembangan organisasi petani sangat beragam, namun sangat sedikit yang berjalan baik. Kelembagaan petani masih dihadapkan pada beberapa permasalahan antara lain: kompetensi SDM, infrastruktur yang terbatas, teknologi yang rendah, akses pembiayaan permodalan yang terbatas, akses informasi teknologi dan pasar terbatas, kualitas pengelolaan usahatani dan produksi belum memenuhi skala ekonomi, serta pengetahuan manajemen operasional bisnisnya belum dikelola secara profesional.

Kenyataan lain menunjukkan bahwa program pembangunan pertanian yang dititik beratkan dalam pencapaian swasembada dan peningkatan nilai ekspor khususnya komoditas strategis, yang dilakukan melalui pembangunan insfrastruktur, penyediaan sarana produksi, penyediaan alat dan mesin pertanian, serta didukung oleh sistem pengawalan dan pendampingan yang intensif, guna mendorong terjadinya peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani, ternyata semakin sukar untuk dijangkau petani kecil. Untuk itu, diperlukan petani dan kelembagaan petani yang menguasai teknologi pertanian yang memadai, dan memiliki kemampuan bersaing agar mampu bertahan di tengah persaingan ekonomi dunia.

Sementara itu, upaya meningkatkan produktivitas, efisiensi usahatani, dan daya saing petani tersebut dilakukan melalui pengembangan kelembagaan ekonomi petani, termasuk di dalamnya penguatan kapasitas kelembagaan petani, dalam bentuk Badan Usaha Milik Petani (BUMP). Melalui inovasi kelembagaan ekonomi petani dalam bentuk BUMP ini diharapkan petani dapat dengan mudah menjangkau sistem pembiayaan perbankan, karena usaha pertanian sudah dikelola layaknya korporasi profesional dengan menerapkan manajemen dan mekanisasi pertanian, mulai dari produksi, pengelolaan pasca panen, sampai distribusi dan pemasaran (hulu – hilir). Sehubungan dengan hal tersebut, petani Kabupaten Tegal  harus berusahatani agribisnis secara berkelompok hingga memenuhi standar skala ekonomi, dengan berbasis kawasan, agar efisien dan mengutungkan. Salah satu strategi adalah dengan mengkorporasikan petani. Hal ini selaras dengan upaya untuk mendorong kebijakan reformasi pangan, agar produksi pangan yang selama ini terpecah-pecah dengan luasan yang kecil, ke depan dapat  dikelola secara korporasi atau modern.

 

Peran Pemerintah Daerah Kabupaten Tegal dalam Pembentukan BUMP

Berdasarkan UU Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, pada pasal 69 ayat (1) disebutkan bahwa “Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya berkewajiban mendorong dan memfasilitasi terbentuknya Kelembagaan Petani dan Kelembagaan Ekonomi Petani”. Kelembagaan petani sebagaiman dimaksud dalam pasal tersebut terdiri atas: Kelompoktani, Gabungan Kelompoktani, Asosiasi Komoditas Pertanian dan Dewan Komoditas Pertanian Nasional. Kelembagaan Ekonomi tersebut berupa Badan Usaha Milik Petani (BUMP). BUMP dibentuk dari, oleh, dan untuk petani melalui Gabungan Kelompoktani dengan penyertaan modal yang seluruhnya dimiliki oleh Gabungan Kelompoktani.

Secara umum pembentukan BUMP dimaksudkan untuk; meningkatkan pelayanan kepada petani (standar pelayanan minimal), agar berkembang usahataninya, memberdayakan kelompoktani (Poktan) dan gabungan kelompoktani (Gapoktan) dalam mengembangkan usaha agribisnisnya dengan berbasis kawasan pertanian, dan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani beserta keluarganya serta meningkatkan perekonomian di pedesaan.

Di Kabupaten Tegal, BUMP telah didirikan dalam bentuk korporasi yaitu PT. Tegal Mandiri Sejahtera. Korporasi ini begerak di bidang pertanian yang meliputi pengolahan Hasil Pertanian, penyediaan jasa alat mesin pertanian, penyediaan sarana produksi pertanian dan kegiatan perekonomian lainnya yang dibutuhkan oleh para petani dan masyarakat pada umumnya serta mampu meningkatkan nilai tambah bagi petani dan masyarakat. Pembentukan BUMP PT. Tegal Mandiri Sejahtera dilakukan melalui rembugtani yang melibatkan Pemerintah Daerah Kabupaten Tegal, dalam hal ini adalah Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal.

 

Pengelolaan BUMP PT. Tegal Mandiri Sejahtera

BUMP PT. Tegal Mandiri Sejahtera dijalankan dengan menggunakan prinsip kooperatif, partisipatif, emansipatif, transparansi, akuntabel, dan sustainabel, dengan mekanisme berdasarkan keanggotaan petani yang dijalankan secara profesional, dan mandiri. Semua komponen yang terlibat di dalam BUMP PT Tegal Mandiri Sejahtera harus mampu melakukan kerjasama yang baik demi pengembangan dan kelangsungan hidup usaha mulai dari hulu sampai dengan hilir, dengan unit usaha penyediaan sarana produksi, unit usaha pelayanan perbankan, unit usaha alat dan mesin pertanian, unit usaha pengolahan dan unit usaha pemasaran hasil produksi pertanian.

BUMP PT Tegal Mandiri Sejahtera sebagai badan usaha yang dibangun atas inisiatif petani, kelompok tani dan gabungan kelompoktani menganut asas mandiri, mengutamakan perolehan modalnya berasal dari petani sebagai anggota dan pihak jasa perbankan atau lainnya. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan BUMP PT Tegal Mandiri Sejahtera dapat memperoleh modal dari pemerintah Pusat maupun pemerintah daerah.

 

Strategi Penguatan

1.         Penguatan manajemen organisasi,

Penguatan manajemen organisasi BUMP PT Tegal Mandiri Sejahtera dapat ditempuh melalui pelatihan sebagai dasar tumbuhnya komitmen petani, kelompoktani, dan Gapoktan dalam pembentukan BUMP. Keberadaan suatu organisasi sangat didukung adanya tiga pilar utama agar dapat berjalan dengan baik. Keberadaan SDM yang baik, sistem penataan organisasi yang baik, serta proses bisnis yang biasanya dianggap sebagai target capaian organisasi dalam visi-misi adalah merupakan pilar pilar dalam organisasi. Aspek SDM baik dari sisi kuantitas maupun kualitas dapat dilihat dari sisi knowledge, skill, dan attitude. Oleh sebab, itu capacity building dapat dikatakan sebagai proses peningkatan kemampuan pengetahuan, dan keterampilan, serta sikap dan perilaku.

Berkembangnya suatu organisasi sangat dipengaruhi adanya kepedulian dan kualitas SDM dalam menggerakkan organisasi. Dengan demikian, proses peningkatan kapasitas (capacity building) dan pembangunan karakter (caracter building) SDM menjadi hal yang mutlak dilakukan. Dalam proses penguatan BUMP, pola pelatihan berbasis kompetensi dapat dijadikan sebagai cara meningkatkan performa SDM organisasi dalam menjalankan tugasnya. Oleh karenanya, pengembangan kapasitas sangat terkait dengan kemampuan SDM, kemampuan institusi, dan kemampuan sistem organisasi. Proses peningkatan kapasitas SDM kepengurusan BUMP dilakukan melalui tiga tahap. Pertama, pengembangan SDM melalui pelatihan, sistem rekruitmen yang transparan, dan perbaikan pola manajerial dan teknis. Kedua, pengembangan keorganisasian BUMP yang mencakup pada aspek menganalisis postur struktur organisasi berdasarkan peran dan fungsi, proses pengembangan SDM, dan gaya manajemen organisasi. Ketiga, pengembangan jaringan kerja (network) BUMP yang dilakukan melalui penguatan koordinasi, memperjelas fungsi jaringan, serta interaksi formal dan informal.

Pelatihan dan pengembangan adalah usaha yang terencana dari organisasi untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan anggotanya. Pelatihan lebih ditekankan pada peningkatan kemampuan untuk melakukan pekerjaan yang spesifik pada saat ini dan pengembangan lebih ditekankan pada peningkatan pengetahuan untuk melakukan pekerjaan di masa yang akan datang. Kepengurusan BUMP yang baru direkrut belum memahami secara benar bagaimana melakukan pekerjaan, dan perubahan dalam lingkungan kerja dan tenaga kerja.

Pelatihan dimaksudkan untuk meningkatkan daya saing organisasi BUMP PT Tegal Mandiri Sejahtera dan memperbaiki produktivitas. Selain itu, pelatihan dimaksudkan agar pengurus BUMP PT. Tegal Mandiri Sejahtera dapat menyesuaikan dengan peraturan-peraturan yang ada. misalnya, standar pelaksanaan pekerjaan yang dikeluarkan oleh asosiasi industri dan pemerintah, untuk menjamin kualitas produksi atau keselamatan dan kesehatan kerja dari BUMP itu sendiri. Analisis kebutuhan pelatihan adalah penentuan kebutuhan pelatihan dan pengembangan yang akan dilakukan. Kegiatan ini perlu mendiagnosis kompetensi organisasi BUMP PT. Tegal Mandiri Sejahtera saat ini dan kompetensi yang dibutuhkan agar sesuai dengan perubahan lingkungan dan masa yang akan datang. Analisis kebutuhan dilakukan pelatihan melalui langkah-langkah yang dimulai dari; a) analisis kebutuhan organisasi, b) analisis kebutuhan tugas, dan c) analisis kebutuhan kepengurusan BUMP.

a)    Analisis kebutuhan organisasi;

Analis kebutuhan organisasi yang dimaksud adalah mengidentifikasi strategi organisasi, lingkungan organisasi pada saat ini dan masa yang akan datang untuk mencapai tujuan. Tantangan lingkungan menghendaki kompetensi kepengurusan BUMP PT. Tegal Mandiri Sejahtera, ditandai dengan lingkungan persaingan yang semakin ketat sebagai akibat globalisasi; perubahan teknologi dari manual menjadi mesin, kecenderungan peningkatan penggunaan tenaga kontrak maupun tenaga asing (outsourcing); dan adanya keanekaragaman dari kepengurusan organisasi BUMP itu sendiri. Oleh sebab itu, fokus pada pengguna demikian mutlak dilakukan BUMP PT. Tegal Mandiri Sejahtera, karena sesungguhnya pelayanan publik itu tergantung pada keberadaan pengguna yang membutuhkan jasa pelayanan.

b)    Analisis tugas;

Yang dimaksud analisis tugas dalam artikel ini adalah menganalisis tugas-tugas yang harus dilakukan dalam setiap jabatan yang ada di kepengurusan BUMP, yang dapat dipelajari dari perilaku peran tersebut, dan informasi analisis jabatan yaitu uraian tugas, persyaratan tugas dan standar unjuk kerja yang terhimpun dalam informasi sumber daya manusia organisasi. Pada tingkatan ini, pengembangan dilakukan untuk mengembangkan prosedur dan mekanismemekanisme pekerjaan serta membangun hubungan atau jejaring kerja organisasi. Dalam organisasi, jejaring kerja jelas sangat dibutuhkan untuk setiap tingkatan manajemen yang biasa dikenal dengan perencanaan, pengorganisasian, pembagian kerja, pengawasan. Oleh karena itu, dalam setiap tahapan harus didukung adanya penguasaan tentang caracara berinteraksi dengan orang lain untuk dapat menciptakan jejaring kerja dengan siapa saja, agar mendapatkan respon positif dalam organisasi. Hal ini penting dan tentu harus dilakukan oleh keseluruhan SDM organisasi BUMP, karena target capaian organisasi tidak mungkin dapat diselesaikan oleh seorang diri, tetapi harus diselesaikan dengan berkolaborasi untuk mencapai hasil yang sinergis.

c)     Analisis kebutuhan karyawan BUMP

Analisis kebutuhan karyaman adalah menganalisis mengenai apakah ada pengurus BUMP yang kurang dalam kesiapan tugas-tugas atau kurangnya kemampuan, keterampilan dan pengetahuan yang dapat diketahui dari penilaian kinerja, observasi lapangan. Dalam hal ini pengembangan diarahkan pada kompetensi teknis dan kompetensi manajerial bagi kepentingan kepengurusan BUMP melalui pengelompokan-pengelompokan pekerjaan. Perlu diketahui bahwa kompetensi merupakan satu kesatuan utuh yang menggambarkan potensi pengetahuan, keterampilan, dan sikap, yang dimiliki seseorang terkait dengan pekerjaannya untuk dapat diaktualisasikan dalam bentuk tindakan nyata.

 

2.         Penguatan manajemen usahatani;

Penguatan manajemen usaha tani sangat penting dilakukan  dalam untuk membentuk dan  membangun jiwa agribisnis dan kewirausahaan petani melalui pengembangan jejaring dan kemitraan di bidang pertanian mulai dari hulu hingga hilir.  Membangun jiwa agribisnis dan kewirausahaan merupakan suatu kemampuan dalam menciptakan nilai tambah di pasar melalui proses pengelolaan sumber daya dengan cara-cara baru dan berbeda yang dilakukan melalui penemuan atau pengembangan teknologi baru baik berupa penemuain ilmiah baru ataupun perbaikan produk barang dan jasa yang ada ataupun cara-cara baru untuk menghasilkan barang lebih banyak dengan sumber daya yang lebih efisien. Untuk dapat menumbuhkembangkan hal tersebut secara cepat sehingga permasalahan dalam pengelolaan sumberdaya pertanian khususnya dalam penyiapan input, mengubah input menjadi produk dengan usaha tenaga kerja dan manajemen, serta menempatkan output menjadi berharga, dapat dilakukan melalui pengembangan jaringan kerjasama (networking) dan kemitraan (partenership) yang baik di setiap lini organisasi BUMP.

Penguatan melalui pengembangan jejaring dan kemitraan dapat dilakukan melalui proses pemetaan, menggali dan mengumpulkan informasi, penjajagan kerjasama, penyusunan rencana kerjasama, membuat kesepakatan, penandatanganan akad kerjasama, pelaksanaan kegiatan, sampai kepada kegiatan monitoring dan evaluasi. Proses tersebut dapat dituangkan dalam perjanjian kerja. Proses tersebut secara rinci diuraikan sebagai berikut:

a)    Pemetaan

Pemetaan tentang lembaga/organisasi/badan usaha lainnya yang sekiranya memungkinkan dapat diajak bermitra baik diwilayah sekitarnya maupun jangkauan yang lebih luas. Pemetaan dilakukan terhadap lembaga atau organisasi di antaranya yaitu: lembaga pemerintah, lembaga perbankan/ keuangan yang ada di Kabupaten Tegal, organisasi kemasyarakatan dan sosial yang memiliki kesamaan visi, misi, dan tujuan, lembaga sertifikasi, dunia usaha dan dunia industry asosiasi, dan lain-lain.

b)    Menggali Informasi;

Menggali dan mengumpulkan informasi tentang tujuan organisasi, ruang lingkup pekerjaan (bidang garapan), visi, misi, dan lain sebagainya. Informasi ini berguna untuk menjajagi kemungkinan membangun jaringan dan kemitraan. Pengumpulan informasi dapat dilakukan dengan pendekatan personal, informal dan formal

c)     Menganalisis Informasi;

Berdasarkan data dan informasi yang terkumpul selanjutnya dilakukan analisis dan  menetapkan mana pihak-pihak yang perlu ditindak lanjuti untuk penjajagan kerjasama yang relevan dengan permasalahan dan kebutuhan yang dihadapi.

d)    Penjajagan Kerjasama;

Hasil analisis data dan informasi, perlu dilakukan penjajagan lebih mendalam dan intensif dengan pihak-pihak yang memungkinkan diajak kerjasama. Penjajagan dapat dilakukan dengan cara melakukan audensi atau presentasi tentang program menabung pohon.

e)    Penyusunan Rencana Kerja;

apabila beberapa pihak telah sepakat untuk bekerja sama, maka langkah selanjutnya adalah penyusunan rencana kerja sama. Dalam perencanaannya harus melibatkan pihak-pihak yang akan bermitra sehingga semua aspirasi dan kepentingan setiap pihak dapat terwakili.

f)      Membuat Kesepakatan;

Para pihak yang ingin bermitra perlu untuk merumuskan peran dan tanggung jawab masing-masing pihak pada kegiatan yang akan dilakukan bersama yang dituangkan dalam Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU).

g)    Penandatanganan Akad Kerjasama (MoU);

Nota Kesepakatan yang sudah dirumuskan selanjutnya ditandatangani oleh pihak-pihak yang bermitra.

h)    Pelaksanaan Kegiatan;

Pelaksanaan kegiatan merupakan tahapan implementasi dari rencana kerjasama yang sudah disusun bersama dalam rangka mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Pelaksanaan kegiatan sesuai dengan tanggungjawab dan peran masing-masing pihak yang bermitra.

i)      Monitoring dan Evaluasi;

Tujuan monitoring adalah memantau perkembangan pelaksanaan kegiatan sehingga dapat dicegah terjadinya penyimpangan (deviasi) dari tujuan yang ingin dicapai. Hasil monitoring dapat dijadikan dasar untuk melakukan evaluasi. Hasil evaluasi oleh pihak-pihak yang bermitra akan dipakai sebagai dasar dalam melakukan perbaikan dan pengambilan keputusan yang selanjutnya dirumuskan apakah kerjasama akan dilanjutkan pada tahun berikutnya atau tidak. Apabila pihak-pihak yang bermitra memandang penting untuk melanjutkan kerjasama, maka BUMP PT. Tegal Mandiri Sejahtera dan mitra kerjasama perlu merencanakan kembali kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahun berikutnya. Dalam perencanaan selanjutnya perlu mempertimbangkan hasil evaluasi dan refleksi sebelumya.

 

Simpulan

Penguatan Badan Usaha Milik Petani PT. Tegal Mandiri Sejahtera dapat dilakukan dengan menerapkan dua strategi dasar yaitu penguatan manajemen organisasi dan penguatan manajemen usaha tani. Penguatan manajemen organisasi  dilakukan dengan melakukan analisis kebutuhan organisasi, analisis tugas, dan analisis kebutuhan karyawan BUMP. Penguatan manajemen usaha tani sangat penting dilakukan  dalam untuk membentuk dan  membangun jiwa agribisnis dan kewirausahaan petani melalui pengembangan jejaring dan kemitraan di bidang pertanian mulai dari hulu hingga hilir. Penguatan melalui pengembangan jejaring dan kemitraan dapat dilakukan melalui proses pemetaan, menggali dan mengumpulkan informasi, penjajagan kerjasama, penyusunan rencana kerjasama, membuat kesepakatan, penandatanganan akad kerjasama, pelaksanaan kegiatan, sampai kepada kegiatan monitoring dan evaluasi.   

 

 

Daftar Pustaka

Penunia, E. A. 2011. The Role of Farmers’ Organizations in Empowering and Promoting the Leadership of Rural Women. Asian Farmers Association for Sustainable Rural Development (AFA) Philippines. UN Women In cooperation with FAO, IFAD and WFP. Expert Group Meeting Accra, Ghana. 20-23 September 2011.

Pertev, R. 1994. The Role of Farmers and Farmers' Organizations. Mediterranean Committee of the International Federation of Agricultural Producers (IFAP), Paris (France) (h ttp://om.cih eam.org/article.ph p?ID PD F=9 4400041)

UU Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani

Wahyuni1, S , Cut R. Adawiyah,  dan Syahyuti. 2016. Strategi Merealisasikan Badan Usaha Milik Petani. Prosiding Seminar Nasional Pertanian Peternakan Terpadu, Purworejo, 12 Maret 2016. Pp. 259-269.

kajian pustaka trikoderma

 

IDENTITAS  PENULIS


 Sudirman,SST, lahir di Desa Tarub Kecamatan Tarub Kabupaten Tegal pada tanggal 9 Mei 1964 Anak ke-lima dari lima bersaudara dari pasangan Sutarjo (Almarhum) dan Tamen (Almarhum). Pendidikan yang pernah di tempuh adalah SD Negeri Tarub lulus pada Tahun 1979, SMP Negeri Tarub lulus pada Tahun 1983, SUPMNegeri Tagal lulus pada Tahun 1986, dan pada Tahun 1995 lulus STPP Magelang Jurusan Penyuluh Pertanian

Pada Tahun 1986  Kami di angkat sebagai penyuluh Honor di tempatkan di Profinsi Nusa Tenggara Timur, dan Pada Tahun 1989  kami diangkat sebagai CPNS  dan ditugaskan sebagai Penyuluh Pertanian yang ditempatkan  di Kabupaten Manggarai ,Sedangkan  mulai tahun 2000 kami di pindahkan dari  Penyuluh Pertanian  Kab.Manggarai Profinsi NTT  di pindahkan  sebagai Penyuluh Pertanian  Kabupaten Tegal Profinsi Jawa Tengah sampai saat ini kami ditugaskan  di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan  Kab.Tegal  Profinsi Jawa Tengah  sebagai Penyuluh Prtanian  merangkaf di Kelompok Jabatan Fungsional dengan Jabatan Penyuluh Pertanian Muda  dengan Pangkat  IV/b

Pada tahun 1989 penulis menikah dengan Ibu Muminah dan telah dikaruniai tiga orang anak yaitu Bayu Sugara,Hadijah Ayu Rukmana dan Ayu Zikro.  Dari tiga orang anak yang masih kuliah tinggal satu orang


 KATA PENGANTAR

 Syukur lhamdulilah atas kehadirat Allah Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan  Penulisan Karya ilmiah yang berjudul Kajian Pustaka Tentang Pemanfaatan Trichoderma Spp  Sebagai Jamur Antagonis Ramah Lingkungan Untuk Pengendalian Penyakit Bulai  Pada Tanaman Jagung (Zea Mays).

 Melalui kesempatan ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada:

1.        Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kab. Tegal

2.        Kepala UPTD Tan & KP Kecamatan Tarub

3.        Rekan sejawat Penyuluh Pertanian Kecamatan Tarub

4.        Para Pengurus  Kelompok Tani dan anggotanya.

5.        Dan pihak lain yang tidak sempat kami sebutkan

 Mudah mudahan kajian pustaka ini dapat memberikan manfaat tentang pengetahuan penyakit bulai pada tanaman jagung, dan tentang Trichoderma spp dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan penyakit bulai yang ramah lingkungan.

 

Tarub,     Oktober 2018

ttd

                                                                 Penyusun

 

Selengkapnya...

potensi padi organik

KATA PENGANTAR

 

Atas berkat  Allah Yang Maha Esa dan limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami   dapat menyelesaikan  Penulisan Karya ilmiah yang berjudul Kajian Pustaka Tentang Potensi Pengembangan Padi (Oryza Sativa L.)Organik Di Kecamatan Tarub Kabupaten Tegal

Selengkapnya...

upaya peningkatan

Upaya Peningkatan Produktivitas Padi Dengan

Pengaturan Jarak Tanam Pada Sistem  Tanam Jajar Legowo

 

Oleh:

Rokhlani

Penyuluh Pertanian Madya

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal

 

 

Pendahuluan

Teknologi produksi padi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan produksi diantaranya adalah tanam dengan jajar legowo. Istilah legowo di ambil dari bahasa jawa, yaitu berasal dari kata”lego” berarti luas dan ”dowo berarti memanjang. Sistem tanam jajar legowo merupakan sistem tanam yang memperhatikan larikan tanaman, tanam berselang seling antara 2 atau lebih baris tanaman padi dan satu baris kosong.

Selengkapnya...

Rencana Strategis