Menyongsong Kebangkitan Petani:

Pandemi covid-19 Bukan Kiamat, Hadapi, Jalani, dan Atasi

 

Oleh:

Rokhlani

Penyuluh Pertanian Madya

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal

 

e-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.


Pendahuluan

Kabupaten Tegal merupakan salah satu Kabupaten Jawa Tengah dengan mayoritas penduduk sebagai petani, nelayan, dan pekerja buruh pabrik. Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang signifikan terhadap terhadap perekonomian masyarakat Desa. Mereka umumnya mengeluhkan keterbatasan mobilitas seperti biasanya. Bagi yang biasa jualan, mereka tidak bisa jualan. Sementara itu, bagi petani meskipun mereka dapat tetap beraktivitas di sawah, namun komoditas yang dihasilkan seperti sesayuran menjadi tidak laku. Pandemi Covid-19 setidaknya membuat mereka stress, bingung, dan panic. Meskipun Pemerintah telah menyalurkan bantuan Rp 600.000 per KK namun, rupanya belum dapat mengatasi permasalahan.

COVID-19 yang terus menerus menyebarluas semakin memperpnjang kecemasan masyarakat terutama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal ini disebabkan karena sebagian besar masyarakat banyak yang tidak lagi bekerja atau berdagang. Masyarakat yang bekerja secara informal dengan pendapatan harian dan pendapatan tidak pasti juga mengalami penurunan pendapatan yang relatif rendah. Penurunan pendapatan akan membuat konsumsi di masyarakat yang bekerja di sektor informal juga menurun. Hal ini akan mendorong kontraksi di sisi perminatan agregat.

Pada triwulan I-2020, pertumbuhan ekonomi nasional masih positif sebesar 2,97%. Namun pada triwulan II, pertumbuhan ekonomi sudah minus 5,32%. Negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Italia, Perancis, Jerman, dan Korea Selatan juga mengalami hal yang sama, bahkan pertumbuhan ekonominya sudah mencapai minus 17%-20% (Setneg, 2020). Kemenkeu telah merilis berita bahwa pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2020 berkisar minus 2,9% hingga minus 1,1%. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia akan memasuki resesi ekonomi (Kemenkeu, 2020)

 

Dampak Pandemic Covid-19  di sektor pertanian

Setidaknya ada 4 dampak serangan wabah covid-19.  Pertama ketika meningkatnya tingkat kepedulian, social distance,  mengurangi perjalanan, mengurangi keramaian, akan memengaruhi stabilitas supply dan demand barang dan jasa serta harga yang kemungkinan meningkat. Kedua, rantai Paskokan Panggan Melambat dan akan terjadi Kekurangan karena penyaluran logistik pertanian terganggu. Ketiga, berdampak pada kesehatan petani yang dapat menimbulkan kepanikan dan keterpurukan produksi pangan, mengingat petani didominasi oleh petani usia lanjut. Keempat, kerusakan Sumber Daya Pangan, karena terutama komoditas sesayuran dan bebuahan rentan dihinggapi virus, mengingat  sesayuran dan bebuahan mudah membusuk.

 

Sektor Pertanian harus mendapat perhatian khusus

Sektor pertanian merupakam salah satu sektor yang melakukan aktivitas perekonomian yang esensial.  Pertanian adalah sektor penopang ketahanan pangan (food security) dikala krisis ekonomi. Ini bukan hanya sebatas bertahan hidup tapi juga masalah asupan gizi masyarakat. Sampai saat ini, belum ada pihak manapaun yang berani memastikan  pandemi Covid-19 kapan berakhir. Kita harus menghindari/mewaspadai krisis Covid-19 jangan sampai berubah menjadi krisis pangan. Selain itu, perlu kita perhatikan bahwa kemiskinan lebih dominan ada di pedesaan. Mempertahankan aktivitas ekonomi di pedesaan menjadi relevan agar peningkatan angka kemiskinan dapat diredam. Selain sebagai bagian penting dari sistem penyediaan pangan, di saat krisis ternyata sektor pertanian dapat menjadi jaring pengaman sosial (sosial safety net) alamiah. Sektor pertanian, di saat normal-pun, masih merupakan sektor penyerap tenaga kerja terbanyak di Indonesia, apalagi ketika ada krisis ekonomi.

Sementara itu, perlu diperhatikan dengan serius bahwa  risiko terpapar virus Corona di sektor pertanian dan pedesaan tidak dapat diabaikan. Meskipun aktivitas produksinya dilakukan di luar ruangan,  akan tetapi perlu diingat bahwa rerata umur petani di Kabupaten Tegal petani, berada di kisaran pra-lansia dan lansia, 45-60an tahun yang rentan dan beresiko jika terpapar virus Covid-19. Selain itu, juga diperparah kondisi geografis pedesaan yang terpencil dan jauh dari fasilitas kesehatan yang cukup.

Petani adalah salah satu profesi yang sering mengalami ketidakpastian, baik dari alam maupun dari realisasi pasar. Krisis pandemi Covid-19 menambah sumber ketidakpastian di kalangan petani. Menurut penulis, Pimpinan Pusat dan Daerah perlu memperbanyak dialog dengan para petani dan stakeholder lebih intensif untuk menggali permasalahan di lapangan. Tidak hanya, Dinas yang menangani pertanian, akan tetapi melibatkan dinas lain untuk berkolaborasi membantu petani. Untuk ini, perlu mengoptimalkan kelembagaan dan meningkatkan sense-of-sectoral crisis, perlu dibuat pokja (kelompok kerja) khusus penanganan sektor pertanian di masa pandemi Covid-19.

 

Peluang Saat  Pandemi covid-19

Pandemi COVID-19 yang terjadi sejak awal 2020 di satu sisi menjadi bencana besar,  tetapi disisi lain terdapat keuntungan. Pertama, Pembelian daring mulai bergeser dari produk yang sifatnya keinginan (wants) ke produk kebutuhan (needs). Perubahan ini akan menguntungkan karena sebagian besar produk pertanian adalah kebutuhan pokok. Ini berarti akan terjadi peningkatan produk-produk pertanian atau minimal akan sama dengan sebelum pandemi. Kedua, konsumen mulai mengurangi makan di restoran (eating out) dan beralih ke layanan pesan antar (delivery).

Pola pembelian makanan “pesan antar” yang sebelumnya sesekali menjadi lebih rutin. Implikasinya bagi usaha perhotelan, restoran, dan kafe (horeka) akan terdampak karena terjadi penurunan permintaan untuk di makan di tempat. Ketiga, Kebijakan Work From Home (WFH) telah mengembalikan ibu rumah tangga untuk lebih rutin memasak makanan sendiri di rumah. Situasi ini berpotensi menjadikan permintaan untuk produk segar pertanian akan meningkat, seperti sayuran dan daging. Keempat, pasangan rumah tangga milenial dengan pola pikir kepraktisannya, juga diprediksi akan lebih banyak memasak makanan sendiri, namun dengan bahan yang siap masak (ready to cook) dan dapat dimasak sewaktu-waktu (frozen food). Fenomena ini bisa berdampak terhadap semakin meningkatnya permintaan komoditas pangan berupa bahan/produk siap olah beku. Kelima, Pola belanja secara daring yang berulang (umumnya untuk kebutuhan dasar dan penting) akan mendorong berkembangnya pola berlangganan. Pola ini akan menyebabkan peningkatan intensitas belanja secara daring yang diperkirakan akan berkembang semakin pesat pada masa new normal dan pada masa masa mendatang.

 

Kiat Bisnis Tetap Survive di Tengah Pendemi Covid-19

Setiap pebisnis tentu menginginkan usahanya sukses dan tetap survive di tengah pandemic corona ini. Ada kiat-kiat tertentu agar bisnis tetap survive walau di landa badai. Berikut penulis sajikan tips bisnis menurut Rohmah (2020). Pertama, memiliki kepercayaan diri dan kemandirian yang tinggi. Setiap pebisnis harus memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Bisnis apapun yang dilakukan tentu memiliki faktor risiko. Tanpa kepercayaan yang tinggi bisnis tidak dapat berjalan karena tidak berani untuk menanggung segala risikonya. Bila sudah memiliki kepercayaan diri, dengan modal yang kecil pun sudah bisa memulai usaha. Seorang pebisnis juga harus memiliki mental wirausaha dan kemandirian yang tinggi sehingga tidak malas-malasan dalam menjalankan usahanya. Mental wirausaha itu sangat penting, karena dalam menjalankan usahanya tentu seorang pebisnis akan mengalami berbagai permasalahan, sehingga siap jatuh bangun dalam membangun bisnisnya. Jika tidak memiliki mental wirausaha, bisa dipastikan pebisnis itu akan putus asa dan gulung tikar.

Kedua, Berbisnis yang halal, mulai  dari modal, proses, hingga penjualan. Modal usaha sangatpenting, meski demikian harus didapatkan dengan cara yang baik, tidak curang. Proses dalam berbisnis pun juga dijalankan dengan cara-cara yang baik pula, jujur, tidak melakukan monopoli, dan kecurangan. Pada dasarnya jika berbuat kecurangan imbasnya kembali pada diri sendiri. Selain itu yang tidak kalah penting adalah barang-barang yang diperjualbelikan itu barang-barang yang halal, baik, dan tidak membahayakan tubuh manusia.

Ketiga, Melakukan ekspor dan impor barang. Pebisnis harus memiliki pangsa pasar yang luas. Dengan melakukan kegiatan ekspor dan impor barang berarti telah memperluas pangsa pasar. Semakin luas pangsa pasar yang diciptakan, maka semakin besar target penjualan dan keuntungan yang didapatkan. Seorang pebisnis harus kreatif mencari dan menciptakan peluang pasar, meningkatkan produktivitas, dan efisien.

Keempat, Menj aga kepercayaan relasi bisnis. Hal ini sangat penting bagi maju mundurnya usaha yang dilakukan. Menjaga kepercayaan relasi bisnis dengan cara menjaga kualitas barang dan juga menepati pembayaran sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan. Cara yang digunakan untuk menjaga kepercayaan pelanggan adalah dengan memberikan servis yang baik dan memuaskan. Juga barang yang dijual kualitasnya baik dan tidak ada cacat.

Kelima, Melakukan promosi barang yang diperdagangkan, yaitu  dengan membuat iklan baik di media elektronik maupun media cetak. Pada era sekarang promosi dapat dilakukan dengan mudah, yaitu melalui social media yang memiliki follower sangat banyak dan luas, dapat menjangkau berbagai belahan dunia. Dengan promosi ini calon konsumen dapat mengetahui kualitas, bentuk, dan harga dari komoditas yang ditawarkan. Promosi dapat lebih menarik konsumen dengan memberikan taster dan diskon harga pada awal launching produk.

 Keenam, Berbisnis barang kebutuhan dasar. Bisnis yang sangat menjanjikan adalah bisnis barang kebutuhan dasar. Hal ini dikarenakan barang kebutuhan dasar memiliki dua sifat, yaitu long lasting dan fast moving. Dalam dunia bisnis long lasting diartikan mampu bertahan dalam waktu yang lama untuk dikelola sebagai sebuah usaha, karena usaha yang peluangnya tidak menentu, kemungkinan kecil bisa menghasilkan keuntungan yang signifikan. Barang kebutuhan dasar akan selalu dicari dan diperlukan oleh seluruh lapisan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mereka, karena kebutuhan ini sifatnya primer. Barang kebutuhan dasar juga memiliki sifat fast moving, yaitu terus dicari-cari konsumen karena barang tersebut merupakan kebutuhan primer. Seluruh lapisan masyarakat memerlukan barang tersebut, maka akan selalu ada permintaan untuk membeli barang tersebut. Permintaan yang tinggi akan membuat barang kebutuhan primer tersebut cepat laku terjual. Barang kebutuhan dasar itu di antaranya adalah makanan, minuman, pakaian, alat kesehatan dan kebersihan lingkungan. Jenis barang-barang ini meru-pakan komoditas yang prospektif untuk berbisnis.

Ketujuh, Leadership/kepemimpinan. Seorang pemimpin harus memiliki jiwa kepemimpinan, mudah beradaptasi dengan orang lain, dan terbuka dengan saran dan kritik. Hal ini demi kemajuan bisnis yang dijalankan. Tanpa kepemimpinan yang baik sebuah bisnis tidak akan sukses. Saran dan kritik diterima agar bisnis yang dijalankan selalu inovatif, kreatif, dan fleksibel.

Kedelapan, menggunakan teknologi informasi dalam berbisnis. Dewasa ini masyarakat sudah mulai terbiasa dengan konsumsi digital, apalagi dengan adanya wabah corona pemerintah membuat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masyarakat harus membatasi geraknya di luar rumah. Dengan adanya pelayanan belanja online masyarakat akan sangat terbantu, dan juga ini merupakan kesempatan pebisnis untuk melayani dan menarik konsumen sebanyak-banyaknya.

 

Penutup

Pandemi corona telah melumpuhkan sendi-sendi perekonomian. Perusahaan Negara banyak yang mengalami kerugian. Sektor usaha swasta pun berangsur runtuh. Masyarakat menjerit karena banyak yang tidak bisa bekerja mencari nafkah, sementara itu kebutuhan hidup tetap menuntut. Sebagai penutup tulisan ini, penulis sajikan kutipan " (Q.S. al-Baqarah [2]: 155-156). “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihiraaji'uun

 

Daftar Pustaka

Kementerian Keuangan. 2020a. Jaga kesehatan dan dorong perekonomian melalui stabilisasi makro ekonomi dan akselerasi belanja. (online). Diakses tanggal 30 September 2020 https://www.kemenkeu.go.id/ publikasi/siaran-pers/.

Livana, PH., R.H. Suwoso, T. Febrianto, D. Kushindarto, F. Aziz. 2020. Dampak Pandemi Covid-19 Bagi Perekonomian Masyarakat Desa. Indonesian Journal of Nursing and Health Sciences 1(1):37-48.

Rokhmah, S.N. 2020. Adakah Peluang Bisnis di Tengah Kelesuan Perekonomian Akibat Pandemi Coronavirus Covid-19?. Buletin Adalah: Buletin Hukum dan Keadilan 4(1):63-74.

Sekretariat Negara. 2020. Pidato Presiden RI pada sidang tahunan MPR RI dan sidang bersama DPR RI dan DPD RI dalam rangka HUT ke-75 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (online). Diakses tanggal 30 September 2020. https://www.setneg.go.id/baca/index/pidato_presiden_ri_pada_sidang_tahunan_mpr_ri

Sihaloho ED. 2020. Dampak Covid-19 terhadap perkenomian Indonesia. Bandung (ID): Departemen Ilmu Ekonomi, Universitas Padjajaran.

 

Rencana Strategis