MENGENAL HAMA TIKUS DAN STRATEGI PENGENDALIANNYA

Oleh:

Rokhlani

Penyuluh Pertanian Madya

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kab. Tegal

e-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

 

Pendahuluan

Tikus merupakan salah satu hama yang saat ini menjadi momok petani jagung. Baru-baru ini petani jagung di kecamatan Kedunbgbanteng Kabupaten dibuat heboh dengan serangan hama pengerat ini. Menurt Suswanto, Ketua Gapoktan Desa Kedungbanteng mengatakan bahwa hampir puluhan hektar tanaman jagung ludes diserang tikus. Selain di Tegal, serangan tikus juga mengganas di ladang jagung yang berada di Kecamatan Seputih Raman, Kabupaten Lampung Tengah, Lampung (kompas.com 5 Juni 2021).

Sementara itu, Liputan6.com juga melaporkan bahwa hama tikus menyerang tanaman jagung milik warga di delapan desa di Kecamatan Palue sejak Maret 2021. Dampkanya,  warga d Palue yang berada di wilayah kepulauan, sebelah utara Pulau Flores, terancam kelaparan. Lebih lanjut dilaporkan,  tikus menyerang jagung milik petani yang letak kebunnya berada di pegunungan. Tikus bahkan merusak jagung yang baru berbunga di enam desa. Sementara di dua desa lainnya, tikus merusak setengah tanaman jagung. Kejadian serupa juga dilaporkan detik.com pada 19 Agustus 2021. Tanaman jagung di tiga kecamatan di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, terserang hama tikus. Lebih rinci dilaporkan oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Grobogan bahwa  kawasan perbatasan hutan di Grobogan barat paling banyak terserang hama tikus sehingga panen jagung pun turun. Hampir 19 kecamatan di Grobogan semua petani menanam jagung, yang gagal tiga kecamatan.

Tikus umumnya menyerang tanaman jagung pada fase generatif atau fase pembentukan tongkol dan pengisian biji. Tongkol yang telah masak susu dimakan oleh tikus sehingga tongkol menjadi rusak dan mudah terinfeksi jamur. Bagian yang disukai tikus umumnya pada ujung tongkol sampai bagian pertengahan. Berdasarkan berita tersebut di atas, pengendalian hama tikus merupakan tantangan terbesar bagi petani jagung dan upaya pengendalian mutlak diupayakan.

 

Tikus Termasuk Binatang Sosial yang Cerdas

Percaya atau tidak, tikus merupakan salah satu binatang yang cerdas. Ada empat alasan mengapa tikus dikatakan binatang yang cerdas. Pertama, tikus sangat mudah curiga dengan setiap perubahan di lingkungannya. Salah satunya adalah kecurigaan mereka terhadap kemunculan perangkap tikus, umpan yang dipasang di sekitar lingkungan  yang biasa dilewati. Oleh karena itu,  bukan tidak mungkin apabila perangkap atau umpan yang dipasang tidak membuahkan hasil.

Kedua, tikus memiliki indra penciuman yang tajam. Tikus memanfaatkan indra penciumannya yang tajam untuk mendeteksi makanan yang tersedia di sekitarnya dan juga mengenali keberadaan tikus lainnya. Ini adalah alasan mengapa tikus umumnya takut pada bau manusia. Mereka dapat mendeteksi aroma manusia melalui minyak yang ditinggalkan oleh sidik jari manusia. Dalam hal meletakkan perangkap/umpan tikus disarankan untuk tidak dilakukan dengan tangan telanjang (harus menggunakan sarung tangan).

Ketiga, tikus merupakan hama yang lincah dan gesit. Tikus adalah salah satu jenis hama yang dikenal memiliki kemampuan yang baik untuk memanjat, menyelundup dan menggali. Tikus cukup lihai dan cerdas dalam menemukan setiap titik masuk kedalam lubang-lubang yang ada disekitarnya  dan mencari tempat berteduh serta menemukan sumber makanan untuk berkembang biak.

Keempat, tikus adalah hewan sosial yang suka berkomunikasi satu sama lain. Tikus berkomunikasi dengan tikus lainnya dengan menggunakan urin (urine making). Tikus akan keluar dari jalan mereka untuk buang air kecil pada tempat-tempat yang dilalui. Teknik komunikasi tikus ini berfungsi sebagai cara mereka menandai wilayah dari tikus lainnya di dalam suatu kelompok, dan cara ini juga berfungsi untuk mengarahkan tikus lainnya ke sumber makanan yang tersedia.

 

Perilaku Tikus

Tikus merupakan hewan nokturnal yang telah beradaptasi dengan fenologi tanaman. Secara rutin, aktifitas harian dimulai senja hari hingga menjelang fajar. Selama periode tersebut, tikus sawah mengeksplorasi sumber pakan dan air, tempat berlindung, serta mengenali pasangan dan individu dari kelompok lain. Siang hari dilalui dengan bersembunyi dalam lubang, semak belukar, atau petakan sawah. Selama terdapat sumber pakan, ruang gerak (home range) berkisar 30-200 m dan teritorial 0,25-1,10 ha. Ketika bera dan pakan mulai terbatas, sebagian besar tikus sawah berangsur pindah ke tempat yang menyediakan pakan hingga 0,7-1,0 km atau lebih, seperti pemukiman, gudang benih, penggilingan dll. Pada awal musim tanam, tikus sawah yang berhasil survive kembali ke persawahan.

Berkaitan dengan pakan dan perilaku makan, tikus tergolong hewan omnivora yang mampu memanfaatkan beragam pakan untuk bertahan hidup. Kebutuhan pakan ±10-15% dari bobot badannya dan minum air ±15-30 ml per hari. Dalam mengkonsumsi pakan, tikus sawah lebih dahulu mencicipi untuk mengetahui reaksi terhadap tubuhnya dan apabila tidak membahayakan akan segera memakannya.

Perilaku reproduksi ditunjukkan oleh pola perkembangbiakan tikus. Perkembangbiakan tikus sawah sangat tergantung keberadaan pakan. Selama bera (tidak ada makanan) tikus sawah dewasa tidak aktif reproduksi. Pada saat tidak aktif, testis tikus sawah kembali masuk dalam rongga perut (testis abdominal), dan akan kembali ke scrotum pada saat musim kawin (testis scrotal). Akses kawin terhadap sejumlah betina dikuasai oleh jantan dominan yang menguasai teritorial tertentu.

Tikus merupakan hewan terrestrial yang membuat lubang di dalam tanah sebagai tempat tinggal. Lubang yang dihuni tikus disebut “lubang aktif”. Pada umumnya, lubang aktif berisi tikus betina beserta anak-anak pradewasa. Selama aktif reproduksi, tikus jantan tinggal dalam petak lahan menunggu malam hari untuk kawin dengan betina dalam kelompoknya.

Sementara itu, perilaku sosial tikus mencakup perilaku dalam menjaga wilayah kekuasaan (territorial) dan tingkatan sosial (hierarkhi). Pada kerapatan populasi rendah hingga sedang, seekor tikus jantan dominan paling berkuasa atas sumber pakan, jalur jalan, lokasi bersarang, daripada tikus betina. Pada densitas populasi tinggi, jantan yang kalah kompetisi (subordinat) keluar mencari wilayah dan membentuk kelompok baru. Perilaku tersebut menyebabkan penyebaran populasi yang merata sehingga tikus sawah mampu mengokupasi wilayah yang luas (terutama di daerah endemik).

 

Kemampuan Indera Tikus Sawah

Penglihatan (vision) tikus beradaptasi untuk aktifitas malam hari. Meskipun buta warna, penglihatan tikus sawah sangat peka terhadap cahaya sehingga mampu mengenali bentuk benda di kegelapan malam hingga jarak pandang 10- 15m. Dalam keadaan gelap total, mobilitasnya dibantu indera penciuman, peraba, dan perasa.

Indera pendengaran (hearing) memiliki dua puncak tanggap akustik (bimodal cochlear), yaitu pada selang suara audible (suara yang dapat didengar manusia pada rentang frekuensi 20Hz-20KHz) dan pada suara ultrasonik (tidak dapat didengar manusia pada frekuensi >20Khz). Suara digunakan oleh tikus sebagai salah satu media komunikasi antar sesamanya. Misalnya, suara tikus berkelahi berbeda dengan tikus kawin, berpatroli, atau tertangkap predator.

Indera penciuman (smell)  berkembang sangat baik. Tikus sawah mampu mengenali pakan, sesama tikus, dan predator dengan hanya menggerakkan kepala turun-naik dan mengendus,. Ketajaman penciuman juga digunakan untuk mendeteksi sekresi genitalia tikus betina dan jejak pergerakan tikus kelompoknya sehingga tikus mampu mengetahui batas-batas teritorialnya. Sedangkan dengan indera perasa (taste), tikus mampu memilah pakan yang aman dan menolak pakan yang tidak disukainya. Tikus sawah mampu mendeteksi (dengan mencicipi) air minum yang diberi 3 ppm phenylthiocarbamide, suatu senyawa racun yang berasa pahit di lidah manusia.

Indera peraba (touch) berupa vibrissae dan kumis (misai) sangat membantu aktivitas tikus pada malam hari. Deteksi dilakukan dengan cara menyentuhkan sensor peraba pada permukaan lantai, dinding, dan benda lain. Dengan cara demikian, tikus dapat menentukan arah dan mengetahui ada/tidaknya rintangan. Apabila merasa aman, tikus akan bergerak antar obyek melalui jalan khusus yang selalu diulang (runway)

 

Kemampuan Fisik Tikus Sawah 

Aktivitas mengerat  merupakan upaya untuk mengurangi laju pertumbuhan gigi seri. Tikus memiliki sepasang gigi seri. Bahan yang mampu dirusak hingga 5,5 skala kekerasan geologi. Tikus sawah tidak memiliki gigi taring, sehingga terdapat celah antara gigi seri dan geraham (diastema), yang berfungsi untuk membuang sampah terbawa pakan. Selain mengerat, tikus juga memiliki aktivitas menggali (digging). Tikus sawah tergolong hewan terestrial yang membuat lubang sarangnya di dalam tanah. Kedua tungkai depan digunakan untuk menggali tanah dan menambah lorong-lorong sarangnya.

Otot-otot tungkai tikus berkembang sempurna dan relatif kuat, sehingga mampu menopang mobilitas pergerakannya. Dari kondisi diam, tikus sawah mampu melompat  lebih dari satu meter dan meloncat >50 cm. Jarak lompatan dan tinggi loncatan bertambah apabila tikus memulainya dengan awalan/berlari. Meskipun tidak pandai, tikus sawah dapat memanjat (climbing) benda-benda yang permukaannya relatif kasar. Pada saat banjir, tikus sawah mampu memanjat pohon dan bertengger untuk sementara waktu hingga keadaan lingkungan membaik.

Tikus sawah tergolong perenang tangguh. Cara berenang tikus sawah adalah dengan menendangkan tungkai belakangnya secara bergantian, moncong selalu di atas permukaan air, dan ekor mengimbangi gerakan kedua tungkai yang sedang mendayung. Kemampuan berenang biasanya digunakan untuk menyelamatkan diri dan menyeberangi sungai saat migrasi.

Selain berenang, tikus sawah juga mampu menyelam hingga >1 menit. Ketika menyelam, kedua tungkai belakang dijejakkan dengan kuat sehingga mendorongnya melaju dengan cepat. Saat meloloskan diri dari predator, tikus sawah menyelam dan muncul di tempat lain hingga >10m.

 

Kemampuan Belajar Tikus Sawah

Otak tikus sawah berkembang sempurna sehingga memiliki kemampuan belajar dan mengingat, meskipun sangat terbatas dibanding manusia. Tikus sawah mampu mengingat letak sarang, lokasi sumber pakan dan air, serta pakan beracun yang menyebabkan sakit. Berkaitan dengan kemampuan komunikasi,  tikus mengeluarkan suara peringatan untuk menyampaikan bahaya dan penanda territorial. Air seni juga sebagai penanda wilayah, pembawa pesan tingkat sosial, dan kondisi birahi tikus betina (feromon seks).

Selain itu, tikus juga memiliki kemampuan untuk mencurigai (neophobia) setiap benda baru (termasuk pakan) di lingkungannya, sehingga akan menghindari kontak dengan benda tersebut. Tikus juga memiliki kemampuan untuk tidak memakan umpan beracun tanpa didahului pemberian umpan pendahuluan (pre-baiting). Tikus yang mencicipi/memakan sedikit umpan beracun akut dan tidak mati (tetapi sakit), akan mengingatnya sehingga pengumpanan lanjutan kadang mengalami kegagalan (umpan tidak dimakan).

Seperti halnya binatang lain, untuk mengantispasi kedaan darurat, induk betina selalu membuat 2-3 pintu darurat untuk meloloskan diri jika ada ancaman yang masuk sarangnya. Ketika diempos (fumigasi), induk betina menyumbat lubang sarang dengan tubuhnya agar anak-anaknya selamat.

 

Faktor Yang Memengaruhi Populasi Tikus

Ada dua faktor yang memengaruhi perkembangan tikus yaitu faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalan meliputi kemampuan tikus dalam berkembang biak, perbandingan jenis kelamin, sifat mempertahankan diri, daur hidup, dan umur. Sedangkan faktor luar terdiri atas faktor fisis (suhu, kisaran suhu, kelembaban/hujan, cahaya/warna/bau dan angin), makanan (kuantitas dan kulaitasnya), dan hayati (predator, parasit, patogen dan daya kompetisi). Dalam hal ini yang perlu dingat bahwa keberadaan hama selalu bergantung pada daya dukung lingkungan, ketersediaan pakan dan air serta ruang/tempat tinggal.

 

Startegi Pengendalian

Pengendalian hama tikus bukanlah hal mudah untuk dilakukan dengan baik. Pengendalian yang dilakukan secara parsial banyak dilaporkan tidak membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan. Oleh karena itu, pengendalian hama tikus direkomendasikan untuk dilaksanakan secara terpadu. Pengendalaian hama terpadu (PHT) merupakan sistem pengendalian hama, yang dihubungkan dengan dinamika populasi dan lingkungan spesies hama, memanfaatkan perpaduan semua teknik dan metode yang memungkinkan secara kompatibel untuk menekan populasi hama agar selalu di bawah tingkat yang menyebabkan kerugian ekonomi.

Bertalian dengan pelaksanaan PHT pada tanaman jagung ada beberapa hal yang perlu diperhatikan di antaranya adalah memperhitungkan fase pertumbuhan tanaman jagung, pengendalian dilakukan pada daerah yang seluas-luasnya, pengendalian dilakukan secara masal oleh semua petani,masyarakat dan instansi (dibuat organisasi),  dilakukan secara serentak pada waktu yang bersamaan, kontinuitas (secara terus-menerus dan teratur).

Sementara itu, dalam hal pengorganisasian PHT, harus disiapkan Tim PHT khusus untuk mengendalikan hama tikus. Tim PHT yang terlatih dan handal yang dapat merancang penerapan PHT dengan tepat dan efisien serta memiliki SOP yang jelas yang sesuai dengan tahapan PHT dan yang terpenting dapat bekerja secara berkesinambungan. Tak kalah penting dalam penerapam PHT adalah melakukan kegiatan monitoring dan pemetaan keberadaan hama tikus di lapangan. Kegiatan ini dilakukan dengan cara melakukan identifikasi kerusakan tanaman oleh hama, identifikasi jenis tikus, dan identifikasi lokasi sarang tikus.

Namun, tidak selamanya upaya pengendalian yang dilakukan berhasil dengan baik. Tidak sedikit yang gagal dalam melakukan pengendalian. Kegagalan tersebut dapat disebabkan karena Kesalahan dalam mengidentifikasi permasalahan tikus di lapangan, masih selalu menyediakan makanan, air, dan tempat tinggal (sarang) bagi tikus dan kesalahan dalam strategi penerapan PHT. Berikut adalah beberapa metode pengendalian hama tikus yang dapat diterapkan.

 

Pengendalian hayati

Pengendalian hayati dilakukan dengan memanfaatkan predator seperti kucing, ular, dan  burung hantu. Penggunaan patogen sebagai agen pengendali tidak dianjurkan karena berdampak negatif bagi manusia. Cara termudah adalah dengan memberikan lingkungan yang sesuai dan tidak mengganggu atau membunuh musuh alami tikus sawah. Pada ekosistem sawah irigasi, peran musuh alami kurang nyata dalam menekan populasi tikus. Ragam pemangsa tikus yang ada di sawah/ladang cukup beragam di antaranya kucing, anjing, garangan, burung hantu, burung kowak maling, alap-alap tikus, kobra hitam, kobra raja, ular bajing hijau, dan ular boa/sanca. Patogen berupa mikroorganisme penyebab sakit dan kematian tikus, meliputi berbagai jenis cacing, bakteri, virus, dan protozoa. Beragam cacing parasitik di dalam tubuh tikus sawah ternyata tidak menimbulkan kematian secara langsung, dan hanya menurunkan kualitas hidup inangnya. Pengunaan bakteri salmonella (dicampur dalam umpan) telah dikembangkan di Vietnam, meskipun tersebut berbahaya bagi manusia. Sedangkan di Australia sudah  mengembangkan metode pemandulan (imunokontrasepsi) dengan suatu jenis virus yang spesifik.

 

Pengendalian Mekanik

Pengendalian secara mekanik dapat dilakukan dengan menggunakan pemagaran dengan plastik, pemasangan bubu perangkap, perangkap hidup, perangkap berperekat sampai penggunaan bebunyian.

 

Pengendalian Dengan Pestisida Nabati

Pestisida nabati adalah pestisida yang dibuat dengan memanfaatkan bahan alami yang ada di sekitar kita untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman, seperti tumbuhan. Pestisida nabati memiliki keuntungan relatif aman, ramah lingkungan, murah dan mudah didapatkan dan tidak menyebabkan keracunan serta tidak akan menyebabkan hama menjadi resisten. Sedangkan kekurangannya yaitu penggunaanya harus berulang-ulang, tidak tanah lama, daya kerjanya lambat dan tidak membunuh hama secara langsung.

Ada beberapa jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai bahan pestisida nabati. Salah satu tanaman yang digunakan untuk mengendalikan hama tikus pada padi sawah adalah menggunakan cabai (Capsicum annum), jengkol (Phitecellobium lobatum) dan papaya tua (Carica papaya). Buah papaya tua langsung diberikan pada tikus hasilnya mati, sedangkan jengkol dan cabai menggunakan air hasil rendaman dari kedua jenis tanaman ini yang kemudian disemprotkan sehingga hama tikus menjadi berkurang nafsu makannya.

Buah jengkol mengandung minyak atsiri, saponin, alkaloid, terpenoid, steroid, tannin, glikosoda, protein, karbohidrat, kalsium, fosfor dan vitamin. Cabai mengandung minyak atsiri, piperin dan piperidin yang berfungsi sebagai repellent dan mengganggu preferensi makan hama. Sedangkan buah papaya tua sebagai racun (enzim albuminose) atau kaloid carpine dalam mengendalikan tikus dengan potensi yang cukup besar karena buah papaya mengandung bahan aktif papain yang dapat digunakan sebagai rodentisida.

Pembuatan pestisida nabati dengan bahan jengkol yaitu (1) sebelumnya buah jengkol dikupas kulit luarnya maupun kulit arinya, selanjutnya kupasan jengkol direndam dengan air, dengan perbandingan 1 kg:10 liter air selama 24-36 jam sehingga air rendaman mengeluarkan aroma yang sangat menyengat yang dapat mengusir hama tikus. Pestisida nabati tersebut diaplikasikan dengan cara dengan meletakkan atau menyemprotkan larutan jengkol pada tanaman jagung.

Seperti halnya pembuatan pestisida dari bahan jengkol, pembuatan pestisida nabati dengan cabai dapat dilakukan dengan sangat mudah. Proses pembutannya dilakukan dengan cara menumbuk cabai sampai halus kemudian direndam selama semalam, disaring,  dan dapat langsung disemprotkan pada tanaman jagung.

Tahapan Pembuatan pestisida nabati dengan bahan buah pepaya tua dilakukan dengan cara  mengupas buah papaya tua yang belum masak, dipotong kecil-kecil sebesar dadu,  kemudian disebarkan pada tempat yang biasa dilewati tikus. Hal yang harus diperhatikan  dalam proses pembuatan rodentisida nabati buah papaya, mulai dari pengupasan sampai penyebarannya harus menggunakan sarung tangan karena indera penciuman tikus sangat tajam terhadap bau dan sentuhan tangan manusia, sehingga kemungkinan tikus tidak akan memakan potongan buah papaya tua yang diberikan.

Selainn beberapa rodentisida nabati di atas, ternyata ada formula khusus dari tanaman brotowali yang dikombinasikan dengan jengkol. Cara pebuatannya adalah potonglah batang brotowali (7 kg/hektar) yang sudah di bersihkan. Kemudian di tumbuk/diblender dan ditambah air secukupnya. Selanjutnya, kupas jengkol (7 kg/hektar) dengan pisau kemudian iris jengkol yang sudah di buang kulitnya kemudian direndam selama 2 hari. Setelah 2 hari direndam kemudian dihaluskan ditambah air secukupnya. Setelah semua dihaluskan (brotowali, jengkol) kemudian di ambil airnya dengan menggunakan saringan. Hasil air saringan tadi di campur kemudian diaduk secara merata, dan larutan siap digunakan.

 

Pengendalian secara kimiawi

Pengendalian secara kimia dilakukan dengan menggunakan bahan beracun baik dalam bentuk ready mix bait atau ready mix dust yang banyak di jumpai di pasaran seperti Klerat Storm dan Ramontal. Penggunaan emposan menggunakan bahan fumigasi juga cukup efektif menekan populasi hama tikus. Beberapa rodentisida yang sering digunakan adalah AMMIKUS 65PS (bahan aktif belerang 65%, racun pernafasan), ANTIKUS 0,75P (bahan aktif kumatetralil 0,75%, antikoagulan), ERAKUS 80P (bahan aktif seng fosfida 80%, racun lambung), POSPIT 80P (seng fosfida 80%, racun saraf dan pernafasan).

 

Pengendalian secara elektrik

Pengendalian secara elektrik dapat dilakukan dengan sengatan listrik, pengusir tikus menggunakan suara ultrasonik, dan cahaya yang dapat digunakan untuk menyinari lahan secara periodik. Salah satu pengusir tikus di antaranya adalah pengusir tikus berbasis Ultrasonik. Pengusir tikus ini dapat bekerja 24 jam karena menghasilkan energi listrik secara mandiri. Panel surya telah terpasang di atas alat sehingga dapat mendukung prinsip precission farming (pertanian presisi). Prinsip kerja sistem kendali ini adalah mengganggu sistem pendengaran tikus yang berada di areal jangkauan alat, sehingga tikus tidak nyaman untuk berada di sekitar lahan.

Sistem ini menggunakan mikrokontroler atmega 328 dengan board arduino uno. Aktuator yang digunakan adalah tweeter ultrasonic sebanyak 4 unit. Sensor yang digunakan adalah passive infrared resistor (PIR) sebanyak 4 sensor. Alat pengusir hama tikus rancangan mampu menghasilkan gelombang suara dari 20 Khz hingga 50 Khz. Pendengaran tikus berada pada rentang frekunsi antara 5 Khz-90 Khz. Akan tetapi, tikus terganggu saat mendengar suara pada kisaran frekuensi ultrasonic >20 Khz hingga 60 Khz. Aktuator dan sensor dipasang mengelilingi kerangka sistem kendali. Panel surya 50 Watt peak dipasang pada sistem kendali untuk membantu sistem kendali mendapatkan energi listrik mandiri.

Pengusir tikus rancangan Fakultas Pertanian Universitas Lampung mampu menjangkau 1.200 m2, sedangkan sensor mampu mendeteksi keberadaan gangguan pada kisaran 78,53 m2. Jarak maksimal sensor dengan sumber gangguan adalah 5 meter. Saat ada gerakan, maka speaker ultrasonic akan menyala. Sistem kendali dapat mengenali gangguan dan menyalakan aktuator sebesar 100 %. Respon sistem kendali untuk mengaktifkan aktuator saat tikus berada pada area sensor PIR adalah 0,12 detik. Rerata waktu tikus menghindar dan menjauhi umpan karena pengaruh gelombang suara ultrasonik adalah 4 detik. Hasil ini menunjukkan bahwa sistem kendali telah mampu mendeteksi dan mengganggu hama tikus saat berada pada jangkauan sistem kendali.

 

Kesimpulan

1.    Tikus hama yang sangat cerdas, memiliki perilaku yang unik, mempunyai kemampuan indera penglihatan, pendengaran, penciuman, dan peraba yang sangat baik fungsinya. Tikus juga mempunyai kemampuan fisik dan kemampuan belajar yang sama baiknya sehingga dapat terjamin kelangsungan hidupnya.

2.    Pengendalihan hama tikus tidak dapat dilakukan hanya dengan mengandalkan metode tertentu saja, akan tetapi perlu mengkombinasikan beberapa metode pengendalian secara terpadu sehingga pengendalian yang dilakukan dapat efektif dan efisien.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim. 1999. Techniques manual for rodent management in Southeast Asia. CSIRO wildlife and ecology. Rodent research group. Canberra.

Badan Penelitian dan Pengambangan Pertanian. 2018. Mudah Kendalikan Hama Tikus pada Tanaman Jagung. (on lien) http://balitsereal.litbang.pertanian.go.id/ diakses tanggal 09 Oktober 2021.

Brown PR, LKP Leung, Sudarmaji, and GR Singleton. 2003. Movements of the ricefield rat, Rattus argentiventer, near a trap-barrier system in rice crops in West Java, Indonesia. J.Pest Management 49(20):123-129

Enni SR, Krispinus KP. 1998a. Kandungan Senyawa Alelokimia Kulit Buah Jengkol (Pithecellobium lobatum Benth.) dan Pengaruhnya Terhadap Pertumbuhan Beberapa Gulma Padi. Semarang: Lembaga Penelitian 1KW.

Fakultas Pertanin Universitas Lampung. 2020. Pengendalian Hama Tikus pada Tanaman (Teknologi Pengusir Hama Tikus di Lahan Pertanian). (online) https://fp.unila.ac.id/ diakses tanggal 09 Oktober 2021.

Hariono. 2009. Rangcangan Penyuluhan Pengendalian Hama Tikus (Rattus argentiventer) Pada Tanaman (Oryza sativa L.) Dengan Menggunakan Rodentisida Nabati Buah Papaya Tua (Carica papaya), Kulit Gamal dan cabai.

Lukmanjaya, G , F. D. Kusuma, H. Susanti. 2012.  “Brotokol” Pengusir Hama Tikus Ramah Lingkungan Penopang Pertanian. Jurnal Ilmiah Mahasiswa,2(1). pp.49-55.

Meehan AP. 1984. Rats and Mice. Their Biology and Control. West Sussex : Rentokil Ltd. Murakami O. 1992. Tikus Sawah. Laporan Akhir Kerjasama Teknis Indonesia-Jepang Bidang Perlindungan Tanaman Pangan (ATA-162). Ditlintan. pp: 1-12

Nolte DL, J Jacob, Sudarmaji, R Hartono, NA Herawati, and AW Anggara. 2002. Demographics and burrow use of rice-field rats in Indonesia. Proc.20th Vertebrate Pest Conf. Univ. California Davis : March 4-7 2002. pp: 75-85

Priyambodo S. 2003. Pengendalian Hama Tikus Terpadu. Jakarta : Penebar Swadaya. Priyambodo S. 2005. Makalah pelatihan bioekologi dan pengelolaan tikus. PKPHT IPB.

Rahmini dan Sudarmaji. 2000. Pergerakan tikus sawah, Rattus argentiventer, pada lokasi pertanaman padi dengan perlakuan tanaman perangkap dalam Trap Barrier System (TBS). Prosiding Seminar Nasional Biologi XVI, Kampus ITB : 26-27 Juli 2000. pp 164-168.

Rochman, Sudarmaji, dan AW Anggara. 2005. Bio-ekologi hama tikus sawah. Makalah dan bahan ajar Lokakarya Pengelolanan Tanaman Terpadu (PTT) - Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) di Balai Penelitian Tanaman Padi, 12-13 Desember 2005.

Sudarmaji dan AW Anggara. 2000. Migrasi musiman tikus sawah (Rattus argentiventer) pada daerah pola tanam pad-padi-bera di Sukamandi Subang Jawa Barat. Prosiding Seminar Nasional Biologi XVI, Kampus ITB : 26-27 Juli 2000. pp 173-177.

Rencana Strategis