• Panen Bawang Putih

    Kebangkitan dan kejayaan bawang putih mulai teruji. Hari ini Selasa,7 Agustus 2018 dilakukan panen musim tanam I 2018 hasil budidaya kelompok tani binaan KPw BI Tegal dan Dinas Tan dan KP Kab.Tegal sebanyak 67 h.....Read more

  • Petani Milenial

    Tegal memiliki beberapa produk unggulan hasil pertanian yang patut dibanggakan hal ini disampaikan dihadapan Bupati Tegal, Ibu Dra Hj. Umi AzizahRead more

  • Panen Raya

    Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal, Ir. Khofifah, MM mengatakan tanam padi Oktober 2017 waktu lalu telah menghasilkan panen pada Januari 2018 seluas 1.200 hektar dan Februari seluas 6.880 hektar. target luas tambah tanam (LTT) Desember 2017 seluas 12.000 Ha Produktivitas di sini 6,76 ton per hektar.Read more

  • Panen Raya di Bulakpacing

    Pada sambutannya Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan berpesan agar dalam program Kabupaten Tegal Go Organik bisa dilaksanakan tidak hanya oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan saja tetapi semua pihak ikut menyukseskan program tersebut. Read more

  • Pasar Tani

    Pembukaan Pasar Tani oleh Pj. Bupati Tegal ; Bapak Sinoeng Noegroho Rachmadi beserta istri, yang dihadiri pula oleh Sekda Kab. Tegal beserta jajarannya, Kepala Dinas Tan & KP dan Sekdin, Penyuluh Pertanian, UPTD dan para petani, KTNA se Kabupaten Tegal.Read more

  • Workshop Perhiptani

    amis 6 April bertempat di Hotel Grand Dian telah dilaksanakan workshop penyuluh pertanian. Acara ini merupakan inisiatif dari PERHIPTANI Kabupaten Tegal untuk membangkitkan sistem penyuluhan di Kabupaten Tegal. Peserta Work Shop dari Penyuluh Pertanian PNS, Penyuluh Pertanian Swadaya, Penyuluh Pertanian Swasta dan Pemerhati Pertanian. Read more

Bakteri Fotosintesis: Pengkelasan, Pembuatan dan Cara Aplikasi yang Tepat

 

Oleh:

Rokhlani, S.P., M.P.

Penyuluh Pertanian Madya

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Tegal

 

Pendahuluan

Tetumbuhan telah memanfaatkan energi matahari selama ratusan juta tahun. Ganggang dan bakteri fotosintetik telah melakukan hal yang sama dalam waktu yang lebih lama, semua dengan efisiensi dan ketahanan yang luar biasa. Para penggiat tani organik tentu sudah tidak asing lagi dengan istilah PSB (Photosynthetic Bacteria), Bakteri fotosintetik (PSB) telah banyak dimanfaatkan dalam bidang pertanian untuk mendorong pertumbuhan tanaman dan meningkatkan kualitas tanaman. Bakteri fotosintesis atau photosynthetic bacteria (PSB) merupakan bakteri autotrof yang dapat berfotosintesis.  PSB memiliki pigmen yang disebut bakteriofil a atau b yang dapat memproduksi pigmen warna merah, hijau, hingga ungu untuk menangkap energi matahari sebagai bahan bakar fotosintesis.  Bakteri fotosintetik merupakan bakteri yang dapat mengubah bahan organik menjadi asam amino atau zat bioaktif dengan bantuan sinar matahari.

Pustaka lain menyebutkan bahwa bakteri PSB atau yang disebut juga bakteri merah, merupakan kelas mikroorganisme yang memiliki kemampuan unik mengubah energi cahaya menjadi energi kimia yang selanjutnya bisa dimanfaatkan oleh tumbuhan. Bakteri ini sangat berguna bagi tanaman dikarenakan tanaman hanya dapat mengambil energi matahari hanya pagi dan sore hari. Pada siang hari, energi matahari sangat besar sekali sehingga tanaman tidak menyerap dengan baik. Tingkat respirasi tanaman menjadi lebih tinggi. Penyerapan energi matahari yang kurang lebih hanya 6 (enam) jam perhari dapat mengakibatkan penurunan hasil buah  dan sayur karena fotosintesis tidak berjalan optimal. Solusinya yaitu dengan bantuan dari luar. Bakteri PSB bersifat fotoautotrof, pigmen yang berperan dalam menangkap cahaya untuk fotosintesis adalah bakterioklorofil atau b serta beragam karotenoid yang memberi rentang warna antara ungu, merah, coklat, dan orange.

PSB (Photosynthetic Bacteria) atau bakteri fotosintetis merupakan bakteri autotrof yang dibuat memakai sinar matahari untuk dapat merubah bahan-bahan organik menjadi asam amino dan zat bioaktif. Fungsi PSB ini mengambil energi matahari yang terlalu tinggi, untuk diserap tanaman lalu menyalurkannya ke organ daun tanaman dengan energi yang lebih kecil yang mampu diserap tanaman. Maka tanaman akan melakukan fotosintesis secara maksimal hingga 12 jam. Efek dari penyerapan ini yaitu kualitas tanaman semakin bagus dan cepat tumbuh. Sehingga PSB berpotensi untuk dijadikan dalam pembuatan pupuk. Sumber asam amino polisakarida dan asam nukleat dari PSB sangat dibutuhkan oleh tanaman. Tanaman yang diberi PSB akan memberi buah dengan rasa yang lebih enak, dapat meningkatkan pertumbuhan akar, dan akan memperkuat tanaman sehingga lebih tahan terhadap hama.

Apa Manfaat Bakteri fotosintesis?

Bakteri fotosintesis memberikan manfaat untuk tanaman, ternak, dan ternyata bermanfaat pada proses pengolahan limbah. Ada beberapa manfaat bakteri fotosintesis untuk ternak, di antaranya dapat membantu tanaman menambahkan nitrogen ke tanaman, menambahkan gas hidrogen sulfida di dalam tanah dari proses dekomposisi bahan organik, mempercepat pertumbuhan tanaman, sebagai sumber mineral asam amino, asam nukleat, senyawa aktif fisiologis dan polisakarida, meningkatkan kualitas rasa tanaman, meningkatkan pertumbuhan akar tanaman, dapat mengurangi biaya penggunaan pupuk kimia dan mampu memperkuat tanaman terhadap serangan hama dan patogen. Sedangkan manfaat PSB pada ternak diantaranya adalah dapat membantu mengurangi gas dan limbah di tempat penampungan hewan, menambahan pada nutrisi mampu menambah berat badan ternak dan ikan, meningkat kualitas warna dan rasa daging menjadi lebih baik dan membantu melindungi hewan dari bakteri jahat. Selain bidang pertanian PSB juga banyak dimanfaatkan dalam pengendalian limbah yang mencemari lingkungan, pengembalian ekosistem, peternakan, industri kimia dan farmasi.

Klasifikasi Photosynthetic Bacteria (PSB)

Photosynthetic Bacteria (PSB) secara garis besar dapat dibagi menjadi dua kelompok

1.                           Bakteri Fotosintesis Oksigenik (Oxygenic Photosynthetic Bacteria)

Bakteri fotosintesis oksigenik melakukan fotosintesis dengan cara yang mirip dengan tanaman. Mereka mengandung pigmen pemanen cahaya, menyerap karbon dioksida, dan melepaskan oksigen. Cyanobacteria atau Cyanophyta adalah satu-satunya bentuk bakteri fotosintesis oksigen yang diketahui sampai saat ini. Namun, ada beberapa spesies Cyanobacteria. Mereka sering berwarna biru kehijauan dan dianggap berkontribusi terhadap keanekaragaman hayati di Bumi dengan membantu mengubah atmosfer kekurangan oksigen awal Bumi menjadi lingkungan yang kaya oksigen. 

Transformasi ini berarti bahwa sebagian besar organisme anaerob yang berkembang tanpa adanya oksigen pada akhirnya menjadi punah dan organisme baru yang bergantung pada oksigen mulai muncul. Cyanobacteria sebagian besar ditemukan di air tetapi dapat bertahan hidup di darat, di bebatuan, dan bahkan di kulit binatang (atau bulu), dan di karang. Mereka juga dikenal endosimbion, yang berarti mereka dapat hidup di dalam sel atau tubuh organisme lain dengan cara yang saling menguntungkan. Cyanobacteria juga cenderung hidup dalam kondisi cuaca ekstrem, seperti Antartika, dan menarik bagi para ilmuwan karena mereka mungkin mengindikasikan kesempatan untuk hidup di planet lain seperti Mars.

2.         Bakteri Fotosintesis Anoksigenik (Anoxygenic Photosynthetic Bacteria)

Bakteri Fotosintesis Anoksigenik mengonsumsi karbon dioksida tetapi tidak melepaskan oksigen. Ini termasuk bakteri Hijau dan Ungu dan juga Filotrof Anoksigenik Fototrof (FAP), Phototrophic Acidobacteria, dan Phototrophic Heliobacteria. Berikut adalah perbedaan antara jenis-jenis bakteri ini:  

 

Bakteri Sulfur Ungu

Bakteri ungu dapat dibagi menjadi dua jenis utama - Chromatiaceae, yang menghasilkan partikel belerang di dalam sel mereka, dan Ectothiorhodospiraceae, yang menghasilkan partikel belerang di luar sel mereka. Mereka tidak dapat berfotosintesis di tempat-tempat yang memiliki banyak oksigen, sehingga mereka biasanya ditemukan di air yang stagnan atau mata air belerang yang panas. Alih-alih menggunakan air untuk berfotosintesis, seperti tanaman dan cyanobacteria, bakteri sulfur ungu menggunakan hidrogen sulfida sebagai agen pereduksi mereka, itulah sebabnya mereka mengeluarkan sulfur daripada oksigen. Bakteri ungu mungkin merupakan bakteri fotosintesis yang paling banyak dipelajari, digunakan untuk semua jenis upaya ilmiah termasuk teori tentang kemungkinan kehidupan mikrobiologis di planet lain.

 

Bakteri Non-sulfur Ungu

Bakteri non-sulfur ungu tidak melepaskan sulfur karena alih-alih menggunakan hidrogen sulfida sebagai zat pereduksi, mereka menggunakan hidrogen. Sementara bakteri ini dapat mentolerir sejumlah kecil sulfur, mereka mentolerir jauh lebih sedikit daripada bakteri sulfur ungu atau hijau, dan terlalu banyak hidrogen sulfida beracun bagi mereka.

 

 

 

Bakteri Sulfur Hijau

Bakteri sulfur hijau umumnya tidak bergerak (non-motil), dan dapat datang dalam berbagai bentuk seperti bola, batang, dan spiral. Bakteri ini telah ditemukan jauh di laut dekat Meksiko. Mereka juga ditemukan di bawah laut dekat Indonesia. Bakteri ini dapat bertahan hidup dalam kondisi ekstrem, seperti jenis bakteri fotosintesis lainnya, menunjukkan potensi evolusi untuk hidup di tempat-tempat yang dianggap tidak dapat dihuni.

 

Acidobacteria Phototrophic

Acidobacteria Phototrophic ditemukan di banyak tanah dan cukup beragam. Beberapa bersifat acidophilic, artinya mereka berkembang dalam kondisi yang sangat asam. Namun, tidak banyak yang diketahui tentang pengelompokan bakteri ini, karena mereka cukup baru, yang pertama ditemukan pada tahun 1991.

 

Phototrophic Heliobacteria

Phototrophic Heliobacteria juga ditemukan di tanah, terutama sawah jenuh air, seperti sawah. Mereka menggunakan jenis bakterioklorofil tertentu, berlabel g, yang membedakan mereka dari jenis bakteri fotosintesis lainnya. Mereka adalah photoheterotroph, yang berarti bahwa mereka tidak dapat menggunakan karbon dioksida sebagai sumber utama karbon mereka.

 

Phototrophs anoxygenic filamen hijau dan merah (FAPs)

Phototrophs anoxygenic filamen hijau dan merah (FAPs) sebelumnya disebut bakteri non-sulfur hijau, sampai ditemukan bahwa mereka juga dapat menggunakan komponen sulfur untuk bekerja melalui proses mereka. Bakteri jenis ini menggunakan filamen untuk bergerak. Warnanya tergantung pada jenis bakterioklorofil yang digunakan organisme tertentu.
Yang unik dari bentuk bakteri ini adalah dapat berupa fotoautotrofik, yang berarti mereka menciptakan energi sendiri melalui energi matahari; chemoorganotropic, yang membutuhkan sumber karbon atau photoheterotrophic, yang, seperti dijelaskan di atas, berarti mereka tidak menggunakan karbon dioksida untuk sumber karbon mereka.

Sementara itu, menurut karakteristik fisiologis dan ekologis, PSB dapat dipisahkan menjadi 4 kategori utama: 

1.       Bakteri Sulfur Ungu (Chromatiaceae)

Habitat Bakteri Sulfur Ungu  adalah air yang mengandung limbah organik, tanah dan air yang agak asam

2.       Bakteri Non-sulfur Ungu (Rhodospirillaceae)

Habitat Bakteri Non-sulfur Ungu adalah air yang mengandung belerang dan terpapar cahaya, daerah pinggiran pantai yang tercemar limbah dan lingkungan yang ekstrem (panas, dingin, alkali, dan hipersalin)

3.       Bakteri Sulfur Hijau (Chlorobiaceae

Habitat Bakteri Sulfur Hijau adalah air yang terpapar cahaya dan mengandung belerang atau sulfida

4.       Bakteri Non-sulfur Hijau (Chloroflexacea

Habitat Bakteri Non-sulfur Hijau adalah daerah yang memiliki konsentrasi oksigen yang rendah (Lu et al., 2019b)

 

 

Bagimana cara pembuatan PSB

Untuk membuat PSB tidaklah sukar, karena bahan dan cara membuatnya cukup mudah. Bahan yang dibutuhkan adalah 2 butir telur, 2 sendok makan penyedap makanan/MSG, 4 sendok makan saos ikan, Botol bekas air mineral ukuran 1500 ml, dan air bersih  secukupnya. Cara membuatnya adalah dengan mencampurkan telur, MSG, dan saos ikan, kocok hingga tercampur rata. Selanjutnya, Isi botol air mineral dengan air bersih tetapi jangan sampai penuh, sisakan untuk rongga udara. Masukkan 3 sendok makan campuran bahan sebelumnya dalam botol berisi air  dan tutup rapat botol dan kocok hingga air menjadi keruh, dan yang terakhir jemur botol berisi larutan tadi di tempat yang terkena sinar matahari langsung minimal 8 jam dalam sehari selama 15 - 30 hari, dan larutan dalam botol berubah warna menjadi merah. Setelah itu, PSB siap digunakan.

 

Aplikasi PSB

Bertalian dengan cara aplikasi, ternyata tidak ribet seperti yang dibayangkan oleh petani pada umumnya. Cara aplikasinya adalah dengan melarutkan PSB sebanyak 10-15 mL ke dalam  2 liter air bersih dan disemprotkan pada daun, batang serta tanah di sekitar tanaman atau dapat juga diaplikasikan dengan cara mengencerkan larutan dengan perbandingan 1:20 L, yang artinya 1 Liter arutan ditambahkan dengan 20 Liter, pemakaian pada siang hari karena bakteri ini aktif pada siang hari.

PSB dapat diaplikasikan untuk mengendalikan penyakit pada tanaman ditambah lagi penggunaan PSB akan meningkatkan sistem Imun dari tanaman tersebut. Penelitian menyebutkan bahwa PSB dapat mengatasi penyakit bercak-bercak kuning pada daun tembakau yang disebabkan oleh virus TMV (Tobacco Mosaic Virus).

 

 Referensi:

Cahyadi. 2021. Cara Membuat Bakteri Fotosintesis. (online) https://disdik.purwakartakab.go.id/cara-membuat-bakteri-fotosintesis-?fb_comment_ id=4186670041448915_4186999708082615 diakses tanggal 17 Mei 2022.

Kurnianingrum, I. 2021. Mengenal Bakteri Fotosintetik sebagai Agen Hayati Pemacu Laju Fotosintesis Tanaman. (online) https://bbppbinuang.bppsdmp.pertanian.go.id/mengenal-bakteri-fotosintetik-sebagai-agen-hayati-pemacu-laju-fotosintesis-tanaman/ diakses tanggal 17 Mei 2022.

Kiral. 2020. Cara Cepat Membuat Bakteri Fotosintesis (PSB) 2 Hari Sudah Merah. (online) https://lombokorganik.id/cara-cepat-membuat-bakteri-fotosintesis-psb-2-hari-sudah-merah/ diakses tanggal 17 Mei 2022.

 

Lu et al., 2019b. H. Lu, G. Zhang, Z. Zheng, F. Meng, T. Du, S. HeBio-conversion of photosynthetic bacteria from non-toxic wastewater to realize wastewater treatment and bioresource recovery: a review. Bioresour. Technol., 278 (2019), pp. 383-399

 Puyol et al., 2017. D. Puyol, E.M. Barry, T. Hülsen, D.J. BatstoneA mechanistic model for anaerobic phototrophs in domestic wastewater applications: photo-anaerobic model (PAnM). Water Res., 116 (2017), pp. 241-253


Menyongsong Kebangkitan Petani:

Pandemi covid-19 Bukan Kiamat, Hadapi, Jalani, dan Atasi

 

Oleh:

Rokhlani

Penyuluh Pertanian Madya

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal

 

e-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.


Pendahuluan

Kabupaten Tegal merupakan salah satu Kabupaten Jawa Tengah dengan mayoritas penduduk sebagai petani, nelayan, dan pekerja buruh pabrik. Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang signifikan terhadap terhadap perekonomian masyarakat Desa. Mereka umumnya mengeluhkan keterbatasan mobilitas seperti biasanya. Bagi yang biasa jualan, mereka tidak bisa jualan. Sementara itu, bagi petani meskipun mereka dapat tetap beraktivitas di sawah, namun komoditas yang dihasilkan seperti sesayuran menjadi tidak laku. Pandemi Covid-19 setidaknya membuat mereka stress, bingung, dan panic. Meskipun Pemerintah telah menyalurkan bantuan Rp 600.000 per KK namun, rupanya belum dapat mengatasi permasalahan.

COVID-19 yang terus menerus menyebarluas semakin memperpnjang kecemasan masyarakat terutama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal ini disebabkan karena sebagian besar masyarakat banyak yang tidak lagi bekerja atau berdagang. Masyarakat yang bekerja secara informal dengan pendapatan harian dan pendapatan tidak pasti juga mengalami penurunan pendapatan yang relatif rendah. Penurunan pendapatan akan membuat konsumsi di masyarakat yang bekerja di sektor informal juga menurun. Hal ini akan mendorong kontraksi di sisi perminatan agregat.

Pada triwulan I-2020, pertumbuhan ekonomi nasional masih positif sebesar 2,97%. Namun pada triwulan II, pertumbuhan ekonomi sudah minus 5,32%. Negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Italia, Perancis, Jerman, dan Korea Selatan juga mengalami hal yang sama, bahkan pertumbuhan ekonominya sudah mencapai minus 17%-20% (Setneg, 2020). Kemenkeu telah merilis berita bahwa pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2020 berkisar minus 2,9% hingga minus 1,1%. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia akan memasuki resesi ekonomi (Kemenkeu, 2020)

 

Dampak Pandemic Covid-19  di sektor pertanian

Setidaknya ada 4 dampak serangan wabah covid-19.  Pertama ketika meningkatnya tingkat kepedulian, social distance,  mengurangi perjalanan, mengurangi keramaian, akan memengaruhi stabilitas supply dan demand barang dan jasa serta harga yang kemungkinan meningkat. Kedua, rantai Paskokan Panggan Melambat dan akan terjadi Kekurangan karena penyaluran logistik pertanian terganggu. Ketiga, berdampak pada kesehatan petani yang dapat menimbulkan kepanikan dan keterpurukan produksi pangan, mengingat petani didominasi oleh petani usia lanjut. Keempat, kerusakan Sumber Daya Pangan, karena terutama komoditas sesayuran dan bebuahan rentan dihinggapi virus, mengingat  sesayuran dan bebuahan mudah membusuk.

 

Sektor Pertanian harus mendapat perhatian khusus

Sektor pertanian merupakam salah satu sektor yang melakukan aktivitas perekonomian yang esensial.  Pertanian adalah sektor penopang ketahanan pangan (food security) dikala krisis ekonomi. Ini bukan hanya sebatas bertahan hidup tapi juga masalah asupan gizi masyarakat. Sampai saat ini, belum ada pihak manapaun yang berani memastikan  pandemi Covid-19 kapan berakhir. Kita harus menghindari/mewaspadai krisis Covid-19 jangan sampai berubah menjadi krisis pangan. Selain itu, perlu kita perhatikan bahwa kemiskinan lebih dominan ada di pedesaan. Mempertahankan aktivitas ekonomi di pedesaan menjadi relevan agar peningkatan angka kemiskinan dapat diredam. Selain sebagai bagian penting dari sistem penyediaan pangan, di saat krisis ternyata sektor pertanian dapat menjadi jaring pengaman sosial (sosial safety net) alamiah. Sektor pertanian, di saat normal-pun, masih merupakan sektor penyerap tenaga kerja terbanyak di Indonesia, apalagi ketika ada krisis ekonomi.

Sementara itu, perlu diperhatikan dengan serius bahwa  risiko terpapar virus Corona di sektor pertanian dan pedesaan tidak dapat diabaikan. Meskipun aktivitas produksinya dilakukan di luar ruangan,  akan tetapi perlu diingat bahwa rerata umur petani di Kabupaten Tegal petani, berada di kisaran pra-lansia dan lansia, 45-60an tahun yang rentan dan beresiko jika terpapar virus Covid-19. Selain itu, juga diperparah kondisi geografis pedesaan yang terpencil dan jauh dari fasilitas kesehatan yang cukup.

Petani adalah salah satu profesi yang sering mengalami ketidakpastian, baik dari alam maupun dari realisasi pasar. Krisis pandemi Covid-19 menambah sumber ketidakpastian di kalangan petani. Menurut penulis, Pimpinan Pusat dan Daerah perlu memperbanyak dialog dengan para petani dan stakeholder lebih intensif untuk menggali permasalahan di lapangan. Tidak hanya, Dinas yang menangani pertanian, akan tetapi melibatkan dinas lain untuk berkolaborasi membantu petani. Untuk ini, perlu mengoptimalkan kelembagaan dan meningkatkan sense-of-sectoral crisis, perlu dibuat pokja (kelompok kerja) khusus penanganan sektor pertanian di masa pandemi Covid-19.

 

Peluang Saat  Pandemi covid-19

Pandemi COVID-19 yang terjadi sejak awal 2020 di satu sisi menjadi bencana besar,  tetapi disisi lain terdapat keuntungan. Pertama, Pembelian daring mulai bergeser dari produk yang sifatnya keinginan (wants) ke produk kebutuhan (needs). Perubahan ini akan menguntungkan karena sebagian besar produk pertanian adalah kebutuhan pokok. Ini berarti akan terjadi peningkatan produk-produk pertanian atau minimal akan sama dengan sebelum pandemi. Kedua, konsumen mulai mengurangi makan di restoran (eating out) dan beralih ke layanan pesan antar (delivery).

Pola pembelian makanan “pesan antar” yang sebelumnya sesekali menjadi lebih rutin. Implikasinya bagi usaha perhotelan, restoran, dan kafe (horeka) akan terdampak karena terjadi penurunan permintaan untuk di makan di tempat. Ketiga, Kebijakan Work From Home (WFH) telah mengembalikan ibu rumah tangga untuk lebih rutin memasak makanan sendiri di rumah. Situasi ini berpotensi menjadikan permintaan untuk produk segar pertanian akan meningkat, seperti sayuran dan daging. Keempat, pasangan rumah tangga milenial dengan pola pikir kepraktisannya, juga diprediksi akan lebih banyak memasak makanan sendiri, namun dengan bahan yang siap masak (ready to cook) dan dapat dimasak sewaktu-waktu (frozen food). Fenomena ini bisa berdampak terhadap semakin meningkatnya permintaan komoditas pangan berupa bahan/produk siap olah beku. Kelima, Pola belanja secara daring yang berulang (umumnya untuk kebutuhan dasar dan penting) akan mendorong berkembangnya pola berlangganan. Pola ini akan menyebabkan peningkatan intensitas belanja secara daring yang diperkirakan akan berkembang semakin pesat pada masa new normal dan pada masa masa mendatang.

 

Kiat Bisnis Tetap Survive di Tengah Pendemi Covid-19

Setiap pebisnis tentu menginginkan usahanya sukses dan tetap survive di tengah pandemic corona ini. Ada kiat-kiat tertentu agar bisnis tetap survive walau di landa badai. Berikut penulis sajikan tips bisnis menurut Rohmah (2020). Pertama, memiliki kepercayaan diri dan kemandirian yang tinggi. Setiap pebisnis harus memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Bisnis apapun yang dilakukan tentu memiliki faktor risiko. Tanpa kepercayaan yang tinggi bisnis tidak dapat berjalan karena tidak berani untuk menanggung segala risikonya. Bila sudah memiliki kepercayaan diri, dengan modal yang kecil pun sudah bisa memulai usaha. Seorang pebisnis juga harus memiliki mental wirausaha dan kemandirian yang tinggi sehingga tidak malas-malasan dalam menjalankan usahanya. Mental wirausaha itu sangat penting, karena dalam menjalankan usahanya tentu seorang pebisnis akan mengalami berbagai permasalahan, sehingga siap jatuh bangun dalam membangun bisnisnya. Jika tidak memiliki mental wirausaha, bisa dipastikan pebisnis itu akan putus asa dan gulung tikar.

Kedua, Berbisnis yang halal, mulai  dari modal, proses, hingga penjualan. Modal usaha sangatpenting, meski demikian harus didapatkan dengan cara yang baik, tidak curang. Proses dalam berbisnis pun juga dijalankan dengan cara-cara yang baik pula, jujur, tidak melakukan monopoli, dan kecurangan. Pada dasarnya jika berbuat kecurangan imbasnya kembali pada diri sendiri. Selain itu yang tidak kalah penting adalah barang-barang yang diperjualbelikan itu barang-barang yang halal, baik, dan tidak membahayakan tubuh manusia.

Ketiga, Melakukan ekspor dan impor barang. Pebisnis harus memiliki pangsa pasar yang luas. Dengan melakukan kegiatan ekspor dan impor barang berarti telah memperluas pangsa pasar. Semakin luas pangsa pasar yang diciptakan, maka semakin besar target penjualan dan keuntungan yang didapatkan. Seorang pebisnis harus kreatif mencari dan menciptakan peluang pasar, meningkatkan produktivitas, dan efisien.

Keempat, Menj aga kepercayaan relasi bisnis. Hal ini sangat penting bagi maju mundurnya usaha yang dilakukan. Menjaga kepercayaan relasi bisnis dengan cara menjaga kualitas barang dan juga menepati pembayaran sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan. Cara yang digunakan untuk menjaga kepercayaan pelanggan adalah dengan memberikan servis yang baik dan memuaskan. Juga barang yang dijual kualitasnya baik dan tidak ada cacat.

Kelima, Melakukan promosi barang yang diperdagangkan, yaitu  dengan membuat iklan baik di media elektronik maupun media cetak. Pada era sekarang promosi dapat dilakukan dengan mudah, yaitu melalui social media yang memiliki follower sangat banyak dan luas, dapat menjangkau berbagai belahan dunia. Dengan promosi ini calon konsumen dapat mengetahui kualitas, bentuk, dan harga dari komoditas yang ditawarkan. Promosi dapat lebih menarik konsumen dengan memberikan taster dan diskon harga pada awal launching produk.

 Keenam, Berbisnis barang kebutuhan dasar. Bisnis yang sangat menjanjikan adalah bisnis barang kebutuhan dasar. Hal ini dikarenakan barang kebutuhan dasar memiliki dua sifat, yaitu long lasting dan fast moving. Dalam dunia bisnis long lasting diartikan mampu bertahan dalam waktu yang lama untuk dikelola sebagai sebuah usaha, karena usaha yang peluangnya tidak menentu, kemungkinan kecil bisa menghasilkan keuntungan yang signifikan. Barang kebutuhan dasar akan selalu dicari dan diperlukan oleh seluruh lapisan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mereka, karena kebutuhan ini sifatnya primer. Barang kebutuhan dasar juga memiliki sifat fast moving, yaitu terus dicari-cari konsumen karena barang tersebut merupakan kebutuhan primer. Seluruh lapisan masyarakat memerlukan barang tersebut, maka akan selalu ada permintaan untuk membeli barang tersebut. Permintaan yang tinggi akan membuat barang kebutuhan primer tersebut cepat laku terjual. Barang kebutuhan dasar itu di antaranya adalah makanan, minuman, pakaian, alat kesehatan dan kebersihan lingkungan. Jenis barang-barang ini meru-pakan komoditas yang prospektif untuk berbisnis.

Ketujuh, Leadership/kepemimpinan. Seorang pemimpin harus memiliki jiwa kepemimpinan, mudah beradaptasi dengan orang lain, dan terbuka dengan saran dan kritik. Hal ini demi kemajuan bisnis yang dijalankan. Tanpa kepemimpinan yang baik sebuah bisnis tidak akan sukses. Saran dan kritik diterima agar bisnis yang dijalankan selalu inovatif, kreatif, dan fleksibel.

Kedelapan, menggunakan teknologi informasi dalam berbisnis. Dewasa ini masyarakat sudah mulai terbiasa dengan konsumsi digital, apalagi dengan adanya wabah corona pemerintah membuat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masyarakat harus membatasi geraknya di luar rumah. Dengan adanya pelayanan belanja online masyarakat akan sangat terbantu, dan juga ini merupakan kesempatan pebisnis untuk melayani dan menarik konsumen sebanyak-banyaknya.

 

Penutup

Pandemi corona telah melumpuhkan sendi-sendi perekonomian. Perusahaan Negara banyak yang mengalami kerugian. Sektor usaha swasta pun berangsur runtuh. Masyarakat menjerit karena banyak yang tidak bisa bekerja mencari nafkah, sementara itu kebutuhan hidup tetap menuntut. Sebagai penutup tulisan ini, penulis sajikan kutipan " (Q.S. al-Baqarah [2]: 155-156). “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihiraaji'uun

 

Daftar Pustaka

Kementerian Keuangan. 2020a. Jaga kesehatan dan dorong perekonomian melalui stabilisasi makro ekonomi dan akselerasi belanja. (online). Diakses tanggal 30 September 2020 https://www.kemenkeu.go.id/ publikasi/siaran-pers/.

Livana, PH., R.H. Suwoso, T. Febrianto, D. Kushindarto, F. Aziz. 2020. Dampak Pandemi Covid-19 Bagi Perekonomian Masyarakat Desa. Indonesian Journal of Nursing and Health Sciences 1(1):37-48.

Rokhmah, S.N. 2020. Adakah Peluang Bisnis di Tengah Kelesuan Perekonomian Akibat Pandemi Coronavirus Covid-19?. Buletin Adalah: Buletin Hukum dan Keadilan 4(1):63-74.

Sekretariat Negara. 2020. Pidato Presiden RI pada sidang tahunan MPR RI dan sidang bersama DPR RI dan DPD RI dalam rangka HUT ke-75 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (online). Diakses tanggal 30 September 2020. https://www.setneg.go.id/baca/index/pidato_presiden_ri_pada_sidang_tahunan_mpr_ri

Sihaloho ED. 2020. Dampak Covid-19 terhadap perkenomian Indonesia. Bandung (ID): Departemen Ilmu Ekonomi, Universitas Padjajaran.

 

UPAYA MENJAMIN EKSISTENSI DAN PERAN KELEMBAGAAN PETANI DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN DI KABUPATEN TEGAL

 

Oleh:

Rokhlani, S.P., M.P.

Penyuluh Pertanian Madya

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Tegal

 

 


Pendahuluan

Diakui atau tidak pembangunan pertanian di Kabupaten Tegal sangat dipengaruhi oleh keberadaan petani dengan rerata skala usaha yang relatif kecil. Data penggunaan lahan Kabupaten Tegal pada tahun 2019 berdasarkan Buku Kabupaten Tegal Dalam Angka, luas lahan sawah yang meliputi sawah irigasi, sawah tadah hujan/non irigasi, sawah pasang surut dan sawah lainnya/polder, rembesan, dan lain-lain tercatat seluas 38.735 ha (sekitar 44,08%) dari luas daratan keseluruhan. Lahan sawahtersebut setiap tahunnya cenderung mengalami penurunan luasan,  Tahun 2014 (39.789 ha), 2015 (39.488 ha),  2016 (39.036 ha), dan 2018 (87.879 ha).  Luas Lahan Baku Sawah sesuai dengan SK Ketetapan Menteri ATR/Kepala BPN-RI No. 686/SK-PG.03.03/XII/2019 tahun 2019 tanggal 17 Desember 2019 dikoreksi menjadi 38.964 ha atau 45% dari seluruh wilayah Kabupaten  Tegal.

Dominasi petani kecil di Kabupaten Tegal  setiap tahun semakin bertambah jumlahnya dengan tingkat kesejahteraan yang masih rendah. Skala usaha pertanian yang kecil menghambat petani untuk meningkatkan pendapatannya sehingga petani sukar keluar dari lingkaran kemiskinan. Tidak hanya masalah skala usaha taninya, masyarakat petani miskin dihadapkan pada rendahnya produktivitas, infrastruktur yang terbatas, aksesibilitas yang rendah rendah terhadap informasi permodalan, teknologi, dan pasar serta rendahnya kapasitas petani.

Tidak dapat dipungkiri bahwa peranan kelembagaan petani, sangat menentukan keberhasilan pembangunan pertanian di Kabupaten Tegal. Kelembagaan petani di pedesaan berkontribusi dalam akselerasi pengembangan sosial ekonomi petani, kemampuan mengkases informasi pertanian, permodalan, infrastruktur, pasar dan adopsi inovasi dibiadang pertanian dalam arti luas. Di samping itu, keberadaan kelembagaan petani akan memudahkan bagi pemerintah dan pemangku kepentingan lain dalam memfasilitasi dan memberikan penguatan pada petani.

Namun kenyataan memperlihatkan kecenderungan masih lemahnya kelembagaan petani di Kabupaten Tegal, serta besarnya hambatan dalam menumbuhkan kelembagaan pada masyarakat petani. Kelembagaan petani yang seyogyanya diharapkan mampu membantu petani keluar dari persoalan kesenjangan ekonomi petani, namun sampai saat ini masih belum berfungsi secara optimal. Hal ini terlihat dari aspek perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan kegiatan, pengendalian dan pelaporan kegiatan serta pengembangan kepemimpinan kelembagaan petani.

Sementara itu, derasnya arus globalisasi dan liberalisasi ekonomi sebagai implikasi diratifikasi General Agreement on Tariffs and Trade  (GATT) dan World Trade Organization (WTO) merupakan kenyataan berat yang harus dihadapi.  Diperlukan penguasaan teknologi pertanian yang memadai dan kemampuan bersaing dari para petani agar mampu bertahan di tengah persaingan ekonomi dunia. Upaya meningkatkan produktivitas, efisiensi usahatani, dan daya saing petani salah satunya dilakukan melalui penguatan kapasitas kelembagaan petani.

Bertalian dengan pembinaan kelembagaan petani, secara rinci telah diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 67/Permentan/Sm.050/12/2016. Kelembagaan petani dimaksud dalam peraturan menteri tersebut terdiri atas kelompok tani, gabungan kelompok tani, asosiasi komoditas pertanian, dan dewan komoditas pertanian. Untuk meningkatan kapasitas kelembagaan petani yang dilakukan pembinan oleh kelembagaan penyuuhan dan penyuluh pertanian lapangan (PPL).

Sampai saat ini, masih dijumpai kendala berkaitan dengan pelaksanaan program pembangunan pertanian yang semakin sukar dijangkau oleh petani dengan usaha kecil. Situasi ekonomi yang carut marut akibat serangan Covid-19, ketersediaan infrastruktur yang kurang memadai dan terbatas, serta kebijakan yang masih belum berpihak kepada petani kecil,  menyebabkan petani dan buruh tani terdesak ke arah marginalisasi secara ekonomi dan sosial. Selain penguasaan atas lahan pertanian yang sempit, nilai tukar petani (NTP) yang rendah, kebijakan pertanian yang tidak berpihak ke petani semakin mendorong terpuruknya petani ke dalam kemiskinan.

Berdasarkan uraian di atas, pada artikel ini akan dijabarkan tentang pentingnya keberadaan kelembagaan petani dalam pembangunan pertanian berkelanjutan di Kabupaten Tegal dan berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk menjamin keberadaan kelembagaan petani di Kabupaten Tegal.

 

Pentingnya Eksistensi Kelembagaan Petani dalam Pembangunan Pertanian Berkelanjutan

Menurut Rivai dan Anugrah (2011),  Pembangunan pertanian memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional. Peran strategis tersebut ditunjukkan oleh perannya dalam penyediaan bahan pangan, bahan baku industri, pakan dan bioenergi, penyerap tenaga kerja, sumber devisa negara, sumber pendapatan, dan pelestarian lingkungan melalui praktik usaha tani yang ramah lingkungan. Lebih lanjut dikatakan bahwa pembangunan pertanian di Indonesia diarahkan menuju pembangunan pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture), sebagai bagian dari implementasi pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Pembangunan pertanian (termasuk pembangunan perdesaan) yang berkelanjutan merupakan isu penting strategis yang menjadi perhatian dan pembicaraan disemua negara dewasa ini. Pembangunan pertanian berkelanjutan selain sudah menjadi tujuan, tetapi juga sudah menjadi paradigma pola pembangunan pertanian.

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang mewujudkan kebutuhan hidup saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk mewujudkan kebutuhan hidupnya. Pelaksanaan pembangunan ekonomi yang berkeadilan sosial dilakukan tanpa mengorbankan lingkungan, sehingga pembangunan yang dilaksanakan saat ini harus sudah memikirkan pula kebutuhan hidup generasi berikutnya.

Sementara itu, apabila kita amati dengan pendekatan dan praktek pertanian konvensional  saat ini oleh petani di Kabupaten Tegal,  merupakan praktek pertanian yang tidak mengikuti prinsip pembangunan berkelanjutan. Hal ini selaras pendapat Untung (2006) yang menyatakan bahwa pertanian konvensional dilandasi oleh pendekatan industrial dengan orientasi pertanian agribisnis skala besar, padat modal, padat inovasi teknologi, penanaman benih/varietas tanaman unggul secara seragam spasial dan temporal, serta ketergantungan pada masukan produksi, termasuk penggunaan berbagai jenis agrokimia (pupuk dan pestisida), dan alat mesin pertanian.

Globalisasi ekonomi telah berdampak pada suatu keharusan bahwa pada pola pendekatan pembangunan pertanian ke depan, diarahkan kepada “Paradigma Pembangunan Pertanian Berkelanjutan” yang berada dalam konteks pembangunan manusia. Paradigma pembangunan pertanian ini, bertumpu pada kemampuan bangsa untuk mewujudkan kesejahteraaan masyarakat dengan kemampuan sendiri, dengan memperhatikan potensi kelestarian lingkungannya (Sumodiningrat, 2000).

Berkaitan dengan keberhasilan pembangunan pertanian berkelanjutan, peran kelembagaan petani sangat penting. Kelembagaan petani yang dimaksud di sini adalah lembaga petani yang berada pada kawasan lokalitas (local institution), yang berupa organisasi keanggotaan (membership organization) atau kerjasama (cooperatives) yaitu petani-petani yang tergabung dalam kelompok kerjasama (Uphoff, 1986). Kelembagaan petani dibentuk pada dasarnya mempunyai beberapa peran, yaitu tugas dalam organisasi (interorganizational task) untuk memediasi masyarakat dan negara, tugas sumberdaya (resource tasks) mencakup mobilisasi sumberdaya lokal (tenaga kerja, modal, material, informasi) dan pengelolaannya dalam pencapaian tujuan masyarakat, tugas pelayanan (service tasks) mungkin mencakup permintaan pelayanan yang menggambarkan tujuan pembangunan atau koordinasi permintaan masyarakat lokal, dan (d) tugas antar organisasi (extra-organizational task) memerlukan adanya permintaan lokal terhadap birokrasi atau organisasi luar masyarakat terhadap campur tangan oleh agen-agen luar (Esman dan Uphoff dalam Garkovich, 1989).

Kelembagaan merupakan keseluruhan pola ideal, organisasi, dan aktivitas yang berpusat di sekeliling kebutuhan dasar. Suatu kelembagaan pertanian dibentuk selalu bertujuan untuk memenuhi berbagai kebutuhan petani sehingga lembaga mempunyai fungsi kelembagaan merupakan konsep yang berpadu dengan struktur, artinya tidak saja melibatkan pola aktivitas yang lahir dari segi sosial untuk memenuhi kebutuhan manusia, tetapi juga pola organisasi untuk melaksanakannya.

Pengelolaan sumberdaya usahatani oleh petani menyangkut pengaturan masukan, proses produksi, serta keluaran sehingga mencapai produktivitas yang tinggi. Usaha pertanian sendiri meliputi kegiatan-kegiatan in-put, produksi, dan out-put (Uphoff, 1986). Dalam pengelolaan faktor-faktor produksi, proses produksi, sampai dengan pengolahan hasil diperlukan kelembagaan petani. Kegiatan usaha pertanian akan berhasil jika petani mempunyai kapasitas yang memadai. Untuk dapat mencapai produktivitas dan efisiensi yang optimal petani harus menjalankan usaha bersama secara kolektif.

Kelembagaan petani yang efektif ini diharapkan mampu mendukung pembangunan pertanian. Penguatan kelembagaan petani sangat diperlukan dalam rangka perlindungan dan pemberdayaan petani. Oleh karena itu, petani dapat menumbuhkembangkan kelembagaan dari, oleh, dan untuk petani guna memperkuat dan memperjuangkan kepentingan petani itu sendiri sesuai dengan perpaduan antara budaya, norma, nilai, dan kearifan lokal petani.

Keberadaan kelembagaan petani didasarkan atas kerjasama yang dapat dilakukan oleh petani dalam mengelola sumberdaya pertanian. Kegiatan bersama (group action atau cooperation) oleh para petani diyakini oleh Mosher (1991) sebagai faktor pelancar pembangunan pertanian. Aktivitas bersama sangat diperlukan apabila dengan kebersamaan tersebut akan lebih efektif dalam mencapai tujuan yang diinginkan bersama.

 

Membentuk Petani Mandiri, Modern, dan Inovatif Melalui Kelembagaan Petani

Kemandirian petani, menurut Soedijanto (2004), meliputi: (a) Kemandirian material, artinya memiliki kapasitas untuk memanfaatkan secara optimal potensi sumberdaya alam yang mereka miliki sendiri tanpa harus menunggu bantuan orang lain atau tergantung dari luar; (b) Kemandirian intelektual, artinya memiliki kapasitas untuk mengkritisi dan mengemukakan pendapat tanpa dibayangi oleh rasa takut atau tekanan dari pihak lain; (c) Kemandirian pembinaan, artinya memiliki kapasitas untuk mengembangkan diri sendiri melalui proses belajar tanpa harus tergantung pihak luar; dan (d) Sebagai manusia yang interdepensi, artinya dalam melaksanakan kegiatannya selalu terdapat saling ketergantungan dengan manusia lain di dalam masyarakatnya sebagai suatu sistem social.

Lebih kanjut dijelaskan bahwa sarana untuk mencapai kemandirian adalah adanya keswadayaan. Swadaya adalah setiap tindakan sukarela yang dilakukan oleh seorang individu atau kelompok manusia yang bertujuan untuk pemuasan kebutuhan-kebutuhan atau aspirasi-aspirasi individual atau kolektif. Pemilikan yang terbatas dan akses pemilikan yang juga terbatas terhadap sumberdaya menyebabkan tingkat kemandirian yang rendah. Dalam hal ini ketergantungan terhadap faktor eksternal menjadi sangat tinggi. Penyatuan potensi, serta penumbuhan nilai-nilai untuk menghargai diri sendiri dan sesama, kepercayaan, komunikasi dan kerjasama, yang diwujudkan dalam suatu wadah kelompok, pada akhirnya menjadi organisasi, diyakini sebagai strategi dalam meningkatkan kemandirian masyarakat.

Kemandirian petani diyakini sebagai muara dari suatu usaha pembangunan pertanian. Sarana untuk mencapai kemandirian adalah adanya keswadayaan. Kemandirian dan keswadayaan individu dapat terwujud melalui proses sosial dalam kelembagaan yang ada di masyarakat (ECDPM, 2006). Kemampuan petani merupakan salah satu prasyarat bagi petani untuk berpartisipasi dalam pembangunan pertanian. Hal tersebut dapat dilakukan melalui pengembangan kelembagaan. Pengembangan kelembagaan bagi masyarakat petani dianggap penting karena beberapa alasan. Pertama, banyak masalah pertanian yang hanya dapat dipecahkan oleh suatu lembaga petani. Kedua, organisasi masyarakat memberikan kelanggengan atau kontinuitas pada usaha-usaha untuk menyebarkan dan mengembangkan teknologi, atau pengetahuan teknis kepada masyarakat. Ketiga, untuk menyiapkan masyarakat agar mampu bersaing dalam struktur ekonomi yang terbuka (Bunch, 1991). Kerjasama petani dapat mendorong penggunaan sumberdaya lebih efisien, sarana difusi inovasi dan pengetahuan (Reed, 1979).

Partisipasi petani merupakan manifestasi keberdayaan masyarakat. Petani yang berdaya, menurut Susetiawan (2000) adalah petani yang secara politik dapat mengartikulasikan kepentingannya, secara ekonomi dapat melakukan proses tawar-menawar dengan pihak lain dalam kegiatan ekonomi, secara sosial dapat mengelola mengatur komunitas dan mengambil keputusan secara mandiri, dan secara budaya diakui eksistensinya.

Pemahaman tentang pemberdayaan petani merupakan suatu strategi yang menitikberatkan pada bagaimana memberikan peran yang proporsional agar petani dapat berperan secara aktif dalam aktivitas sosial kemasyarakatan. Petani hendaknya berpartisipasi dalam program pembangunan pertanian berkelanjutan karena beberapa alasan di antarana,  petani memiliki informasi yang sangat penting untuk merencanakan program, petani lebih termotivasi untuk bekerja sama dalam program jika ikut bertanggung-jawab di dalamnya dan petani berhak berhak mengambil keputusan mengenai tujuan yang ingin dicapai, serta  banyaknya permasalahan pembangunan pertanian, tidak mungkin dipecahkan secara perorangan. Partisipasi kelompok sasaran dalam keputusan kolektif sangat dibutuhkan.

Menurut Claude dan Zamor (1985) Strategi pembangunan pertanian memerlukan partisipasi masyarakat petani dalam perencanaan dan pengelolaannya karena berbagai pertimbangan diantaranya dalam rangka meningkatkan integrasi, meningkatkan hasil dan merangsang penerimaan yang lebih besar terhadap kriteria hasil, membantu menghadapi permasalahan nyata dari kesenjangan tanggapan terhadap perasaan, kebutuhan, masalah, dan pandangan komunitas lokal, membawa kualitas hasil (output) lebih tinggi dan berkualitas, meningkatkan jumlah dan ketepatan informasi, dan memberikan operasi yang lebih ekonomis dengan penggunaan lebih banyak sumberdaya manusia lokal dan membatasi transportasi dan manajemen yang mahal

 

Strategi Pengembangan Kapasitas Kelembagaan Petani

Pengembangan kapasitas kelembagaan merupakan suatu proses perubahan sosial berencana yang dimaksudkan sebagai sarana pendorong proses perubahan dan inovasi. Proses transformasi kelembagaan pada petani melalui pembanguan atau pengembangan kelembagaan seyogyanya dapat menjadikan kelembagaan menjadi bagian penting dalam kehidupan petani untuk memenuhi kebutuhan usahataninya. Pengembangan kapasitas kelembagaan petani merupakan suatu perspektif tentang perubahan sosial yang direncanakan, yang menyangkut inovasi yang menyiratkan perubahan kualitatif dalam norma, dalam pola kelakuan, dalam hubungan kelompok, dalam persepsi baru bertalian dengan tujuan atau cara yang ditempuh.

Pengembangan kelembagaan petani diarahkan pada upaya peningkatan kapasitasnya sehingga mampu memenuhi kebutuhan anggota. Hal ini diartikan bahwa, secara sosial-ekonomis kelembagaan petani diarahkan agar mempunyai kemampuan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, sejauh mana daya inovasi dipandang oleh lingkungannya sebagai memiliki nilai intrinsik, yang dapat diukur secara operasional.

Menurut Anantanyu (2009), kapasitas kelembagaan petani, dapat tercapai dengan melihat empat indikator, yaitu (1) Tujuan kelembagaan kelompok petani tercapai, artinya: adanya kejelasan tujuan, adanya kesesuaian tujuan dengan kebutuhan anggota, dan tingkat pemenuhan kebutuhan anggota oleh kelembagaan tinggi. (2) Fungsi dan peran kelembagaan berjalan, meliputi: adanya kemampuan memperoleh, mengatur, memelihara, dan mengerahkan informasi, tenaga kerja, modal, dan material, serta kemampuan mengelola konflik, (3) Adanya keinovatifan kelembagaan, meliputi: adanya peran kepemimpinan dalam kelembagaan, fungsi kepemimpinan dalam kelembagaan berjalan, adanya nilai-nilai yang mendasari kerjasama, adanya pembagian peran anggota, adanya pola kewenangan dalam kelembagaan, adanya komitmen anggota terhadap kelembagaan, tersedia sumber-sumber pendanaan, tersedia fasilitas-fasilitas fisik, kualitas sumberdaya anggota memadai, dan adanya teknologi yang sesuai, dan (4) Keberlanjutan kelembagaan, meliputi: sentimen anggota baik, kesadaran anggota tinggi, kekompakan anggota terjadi, kepercayaan anggota besar, tersedia bantuan luar, pola komunikasi antar anggota dua arah, dan adanya kerjasama dengan pihak lain.

Salah satu peran penyuluhan pertanian adalah mengembangkan kelembagaan petani. Penyuluhan pertanian pada hakikatnya dilaksanakan untuk membantu petani agar mampu memecahkan permasalahan yang dihadapi sendiri. Penyuluhan, menurut Van den Ban dan Hawkins (1999), diartikan sebagai proses yang membantu petani dalam: menganalisis situasi yang sedang dihadapi dan melakukan perkiraan kedepan; meningkatkan pengetahuan dan mengembangkan wawasan terhadap suatu masalah, serta membantu menyusun kerangka berdasarkan pengetahuan yang dimiliki petani; memperoleh pengetahuan khusus berkaitan dengan cara pemecahan masalah yang dihadapi serta akibat yang ditimbulkan; memutuskan pilihan yang tepat yang menurut pendapat petani sudah optimal; meningkatkan motivasi petani untuk menetapkan pilihannya; dan mengevaluasi dan meningkatkan ketrampilan dalam membentuk pendapat dan mengambil keputusan.

Kelembagaan petani dalam melaksanakan perannya memerlukan pengorganisasian dengan ketrampilanketrampilan khusus untuk memberikan dorongan dan bantuan secara sistematis. Secara ideal, pengembangan kapasitas kelembagaan petani dilakukan melalui pendekatan self-help (membantu diri sendiri). Pendekatan yang berorientasi proses, membantu masyarakat dalam belajar bagaimana mengatasi masalah mereka sendiri. Penyuluhan didasarkan premis bahwa masyarakat dapat, akan, dan seharusnya bersama-sama memecahkan permasalahan yang dihadapi. Untuk itu diperlukan komitmen masyarakat untuk membantu dirinya sendiri, tanpa komitmen dalam kelembagaan akan terjadi kesenjangan kapasitas untuk mencapai efektivitas kegiatan. Dalam kelembagaan petani, perlu ada penumbuhan kesadaran bagi petani tentang pengaruh luar yang membatasi usahanya, serta identifikasi kebutuhan kebutuhan yang timbul akibat pengaruh tersebut untuk selanjutnya menentukan pemenuhannya.

Mengembangkan kapasitas kelembagaan petani adalah tugas pemerintah melalui kelembagaan penyuluhan pertanian. Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan, mendiskripsikan tugas tersebut dalam pasal 11 ayat (1) huruf c, yaitu: ”memfasilitasi pengembangan kelembagaan dan forum masyarakat bagi pelaku utama dan pelaku usaha untuk mengembangkan usahanya dan memberikan umpan balik kepada pemerintah daerah” dan pasal 13 ayat (1) huruf e, yaitu: ”menumbuh-kembangkan dan memfasilitasi kelembagaan dan forum kegiatan bagi pelaku utama dan pelaku usaha”. Kelembagaan petani merupakan sarana sekaligus sasaran penyuluhan pertanian sehingga keberadaannya sangat diperlukan (Departemen Pertanian, 2001).

Namun demikian, kondisi dilematis biasanya timbul dari kelembagaan penyuluhan karena bias kepentingan. Penguatan kapasitas kelembagaan petani memerlukan komitmen bagi kelembagaan penyuluhan, terutama kelembagaan penyuluhan pertanian pemerintah, untuk melaksanakan tugas yang semestinya. Anantanyu (2009) mengatakan bahwa langkah-langkah tindakan strategis yang perlu dilakukan dalam mengembangkan kelembagaan petani dapat dilakukan adalah pertama Peningkatan dukungan penyuluhan pertanian. Meningkatkan kompetensi penyuluh dalam memfasilitasi petani, meliputi: penguasaan materi, kemampuan berkomunikasi, sikap terhadap sasaran, serta adanya komitmen terhadap profesi. Penggunaan pendekatan penyuluhan yang tepat sesuai dengan karakteristik khalayak sasaran, meliputi: kesesuaian informasi, ketepatan metode, penggunaan berbagai teknik penyuluhan, dan penggunaan media dalam penyuluhan, sedangkan Penguatan kelembagaan penyuluhan pertanian, meliputi: ketersediaan programa penyuluhan, kemudahan akses, dukungan fasilitas yang diperlukan, dan pelaksanaan program.

Strategi kedua adalah peningkatan peran pihak luar, memfasilitasi adanya dukungan kepemimpinan lokal dan menjembatani peran pihak luar (pemerintah, swasta, dan kelembagaan lain). Strategi ketiga adalah peningkatan kedinamisan kelompok sebagai kelompok pembelajaran. Starategi dapat dilakukan dengan meningkatkan pemahaman tentang tujuan kelompok, mengembangkan struktur, mengembangkan fungsi tugas, meningkatkan pembinaan dan pengembangan kelompok, meningkatkan kekompakan kelompok, mendorong kekondusifan suasana kelompok, menciptakan ketegangan kelompok, dan mendorong keefektifan kelompok.

Strategi keempat adalah peningkatan kapasitas petani, dilakukan melalui Peningkatan pendidikan, baik formal maupun non-formal, bagi petani yang mendukung bidang usaha atau agribisnis, memfasilitasi dalam berbagai kegiatan agribisnis, mendorong kemampuan berusaha untuk meningkatkan pendapatan, memfasilitasi penyediaan sarana kegiatan agribisnis bagi petani, dan menyediakan sumber  belajar termasuk informasi yang diperlukan oleh petani.

Strategi kelima adalah peningkatan partisipasi petani dalam kelembagaan petani. Partisipasi anggota dalam kelembagaan dimaknai sebagai pilihan anggota komunitas secara aktif untuk berperan mengaktualisasikan diri dalam usaha memperbaiki kualitas hidup. Upaya peningkatan partisipasi petani dalam kelembagaan dilakukan dengan proses bertahap sesuai dengan tingkat perkembangan kelembagaan petani, yang meliputi: Penyadaran, pengorganisasian dan pemantapan. Penyadaran dilakukan dengan penumbuhan pemahaman terhadap masalah secara spesifik, Penyediaan sarana sosial, menumbuhkan kepemimpinan lokal, menumbuhkan kerjasama, membangun wawasan tentang kehidupan bersama, menciptakan komitmen kebersamaan, dan meningkatkan kemampuan berusahatani dan kemampuan sosial. Pengorganisasian dilakukan dengan peningkatan kemampuan manajemen sumberdaya, peningkatan kemampuan pengambilan keputusan bersama, pengembangan kepemimpinan, dan penyediaan sarana dan prasarana kelembagaan. Pemantapan dilakukan terhadap visi kelembagaan, peningkatan kemampuan kewirausahaan, dan membangun jaringan dan kerjasama antar kelembagaan.

 

Penutup

Keberadaan kelembagaan petani bagi petani sudah menjadi keniscayaan untuk memperbaiki taraf hidup, harkat dan martabatnya. Kelembagaan petani yang efektif diharapkan mampu memberi kontribusi yang nyata dalam meningkatkan kemandirian dan martabat petani. Peningkatan kapasitas kelembagaan petani dilakukan sejalan dengan kegiatan penyuluhan pertanian dengan memotivasi petani untuk berpartisipasi dalam kelembagaan petani agar lebih mandiri, lebih maju, dan lebih modern. Penyuluhan pertanian perlu dirancang agar mampu memberikan penguatan kapasitas individu petani sekaligus penguatan kapasitas kelembagaan petani.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Albrecht, Hartmut et.al. 1989. Agricultural Extension: Basic Concepts and Methods. Deutsche Gesellschaft fur Technische Zusammenarbeit (GTZ). Eschborn.

Anantanyu, S. 2009. Partisipasi Petani dalam Meningkatkan Kapasitas Kelembagaan Kelompok Petani (Kasus di Provinsi Jawa Tengah). Disertasi pada Institut Pertanian Bogor.

Anonim. 2006. Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan.

Bunch, Roland. 1991. Dua Tongkol Jagung: Pedoman Pengembangan Pertanian Berpangkal Pada Rakyat. Terjemahan oleh Ilya Moeliono. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

Christenson, James A. 1989. “Themes of Community Development” dalam Community Development in Perspective. Diedit oleh James A. Christenson dan Jerry w. Robinson, Jr. Iowa State University Press. Iowa. Hal. 26 – 47.

Claude, Jean dan Garcia Zamor. 1985. “An Introduction to Participative Planning and Management” dalam Public Participation in Development Planning and Management: Cases from Africa and Asia. Editor Jean Claude dan Garcia Zamor. Westview Press. London.

Departemen Pertanian. 2001. Penyuluhan Pertanian. Yayasan Pengembangan Sinar Tani. Jakarta. Eaton, Joseph W. 1986. “Petunjuk bagi Perumusan Teori Pembangunan” dalam Pembangunan Lembaga dan Pembangunan Nasional: dari Konsep ke Aplikasi. Editor J.W. Eaton. UI Press. Jakarta. Hal 157 – 167.

ECDPM. 2006. Institutional Development: Learning by Doing and Sharing. European Centre for Development Policy management (ECDPM), Netherlands Ministry of Foreign Affairs, Poverty Policy and Institutional Division. http://www.ecdpm.org/ Esman, Milton J. 1986. “Unsur-unsur dari Pembangunan Lembaga” dalam Pembangunan Lembaga dan Pembangunan Nasional: dari Konsep ke Aplikasi. Editor J.W. Eaton. UI Press. Jakarta. Hal 21 – 46.

Garkovich, Lorraine E. 1989. “Local Organizations and Leadership in Community Development” dalam Community Development in Perspective. Editor James A. Christenson dan Jerry W. Robinson, Jr. Iowa State University Press. Iowa. Hal. 196 – 218.

Mosher, Arthur T. 1991. Getting Agriculture Moving. Frederick A. Praeger, Inc. Publishers. New York. Pakpahan, Agus. 1989. “Kerangka Analitik Untuk Penelitian Rekayasa Sosial: Perspektif Ekonomi Institusi” dalam Prosiding Patanas Evolusi Kelembagaan Pedesaan. Disunting oleh Effendi Pasandaran dkk. Pusat Penelitian Agro Ekonomi. Bogor. Hal 1 – 18.

Reed, Edward. 1979. “Two Approaches to Cooperation in Rice Production in South Korea” dalam Group Farming in Asia. Editor John Wong. Singapore University Press. Kent Ridge, Singapore.

Roucek, Joseph S. dan Roland L. Warren. 1984. Pengantar Sosiologi. Terjemahan oleh Sahat Simamora. Bina Aksara. Jakarta.

Soedijanto. 2004. Menata Kembali Penyuluhan Pertanian di Era Pembangunan Agribisnis. Departemen Pertanian. Jakarta. Susetiawan. 2000. Perubahan Paradigma Pembangunan. Bahan Pembelajaran TOT Pembaharuan Kebijakan Pengelolaan Irigasi 17-23 Nopember 2000.

Untung, K. 2006. Penerapan Pertanian Berkelanjutan untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan. http://kasumbogo.staff.ugm.ac.id/index.php

Uphoff, N. T. 1986. Local Institutional Development: An Analytical Sourcebook With Cases. Kumarian Press.

Van den Ban, A.W dan H.S. Hawkins. 1999. Penyuluhan Pertanian. Terjemahan oleh A.D. Herdiasti. Kanisius. Yogyakarta.

Verhagen, Koenraad. 1996. Pengembangan Keswadayaan: Pengalaman LSM di Tiga Negara. Terjemahan. Puspa Swara. Jakarta.

UPAYA MENDUKUNG GRATIEKS KOMODITAS MELATI DI KABUPATEN TEGAL

 

Oleh:

Rokhlani, S.P., M.P. 

Penyuluh Pertanian Madya 

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal 

e-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

 

 ABSTRAK

Melati merupakan komoditas florikultura di Kabupaten Tegal yang layak diunggulkan dalam mendukung Gratieks. Keragaan daerah sentra melati di Kabupaten Tegal terdapat di empat kecamatan dan 13 desa yaitu Kecamatan Kramat (Desa Kramat, Maribaya, Plumbungan, Padaharja, Dampyak, Bongkok, Munjungangung), Kecamatan Suradadi (Desa Jatibogor, Sidaharja, Purwahamba), Kecamatan Warurejo (Desa Demangharjo, Kedungkelor)  dan Kecamatan Lebaksiu (Desa Lebakgoah). Setiap tahun produktivitas melati cenderung naik 36-37% dengan rerta produksi 2.766.701 kg. Namun, masih ditemuai kendala seperti sering terjadinya bencana rob, penurunan produkstivitas lahan, kondisi tanaman perlu diremajakan, sehingga dengan menekan atau mengatasi permasalahan diharapkan produksi  melati dapat meningkat lagi. Bagi pengusaha perlu menerapkan staretgi S-O (Strength-Opportunity), yaitu dengan melakukan penetrasi pasar agar volume eksport dapat ditingkatkan.

Kata Kunci: Florikultura, melati, gratieks, eksport


PENDAHULUAN

Melati merupakan salah satu komoditas bernilai ekonomi tinggi, kegunaannya tidak hanya sebagai tanaman hias pot dan taman, tetapi juga sebagai pengharum teh, bahan baku industri parfum, kosmetik, obat tradisional, bunga tabur pusara, penghias ruangan, dekorasi pelaminan, dan pelengkap dalam upacara adat (Suyanti et al, 2003). Terdapat 200 jenis melati yang telah diidentifikasi oleh para ahli botoni dan baru sekitar 9 jenis melati yang umum dibudidayakan yaitu melati hutan (J. multiflorum), melati raja (J. rex), melati cablanca (J. officinale), J. revotulum, J. mensy, J. parkery,  melati autralia (J. simplicifolium), melati hibrida dan melati (J. sambac) (Rukmana, 1997). Bunga melati berbentuk terompet dengan warna bervariasi tergantung pada jenis dan spesiesnya. Umumnya bunga melati tumbuh di ujung tanaman. Susunan mahkota bunga tunggal atau ganda (bertumpuk), beraroma harum tetapi ada beberapa jenis melati tidak ada beberapa jenis melati tidak memiliki aroma. (Hieronymus, 2013).

Tegal adalah salah satu kabupaten yang terletak di bagian barat laut provinsi Jawa Tengah, Indonesia yang memiliki luas 876,10 km2.Kabupaten Tegal secara geografis terletak pada koordinat 108o576-109o2130 BT dan 6o5041 - 7o1530 LS. Panjang garis pantai 30 km dan panjang perbatasan darat dengan daerah lain adalah 27 Km. Wilayah Kabupaten Tegal terdiri dari daratan seluas 878,7 KM2 dan lautan seluas 121,50 km2.Mempunyai letak yang strategis pada jalan Semarang - Tegal - Cirebon serta Semarang - Tegal - Purwokerto dan Cilacap, dengan fasilitas pelabuhan di Kota Tegal. Kabupaten Tegal yang memiliki agroekologi unik di sepanjang Pantai Utara hingga di berbatasan dengan  Kabupaten Pemalang, terdapat rangkaian perbukitan terjal dan sungai besar yang mengalir, yaitu Kaligung dan Kali Erang, keduanya bermata air di hulu Gunung Slamet, sangat potensial untuk pengembangan melati.

Berikut adalah data keragaan Kebun dan Pertanaman Melati  tigatahun terakhir (2017–2019) di Kabupaten Tegal

Tahun

LuasTanam (m2)

Produksi (kg)

Produktivitas (kg/m2)

2017

3.419.250

2.663.142

0,78

2018

2.095.440

2.200.981

1,05

2019

2.088.440

3.435.980

1,65

Sumber: Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal, 2019

 

Berdasarkan data diatas, produksi melati di tahun 2017-2018 mengalami penurunan sebesar 17% sedangkan pada tahun 2018-2019 mengalami peningkatan dengan rerata peningkatan sebesar 56%. Selain itu, produktivitas pertanaman melati juga mengalami kenaikan sebesar 36-57% setiap tahunnya.Sementara itu, untuk menggambarkan keragaan kebun melati di Kabupaten Tegal pada tahun 2019 berdasarkan usia pertanaman disajikan pada Tabel di bawah ini.

No

Kecamatan

Luas Total

(m2)

Usia Pertanaman Melati

< 1 tahun

1– 4 tahun

> 4 tahun

Luas

%

Luas

%

Luas

%

1.

Kramat

930.000

77.000

8,28

432.700

46,53

420.300

45,19

2.

Suradadi

768.440

-

-

300.000

39

468.440

61

3.

Warurejo

340.000

-

-

100.000

29,41

240.000

70,59

4.

Lebaksiu

50.000

10.000

20

40.000

80

-

-

Total

2.088.440

87.000

4,16

872.700

41,79

1.128.740

54,05

Sumber: Dinas Pertanian Kabupaten dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal, 2019

Berdasarkan data diatas, dari luas total tanaman melati sebesar 2.088.440 m2. Usia pertanaman melati dibawah 1 tahun didapatkan  data luas tanam sebesar 87.000 m2 atau 4,16%. Kemudian luas tanam pertanaman melati meningkat pada usia 1–4 tahun yaitu sebesar 872.700 m2 atau 41,79%, dan terus meningkat pada usia lebih dari 4 tahun dengan luas sebesar 1.128.740 m2 atau 54,05%. Hal ini membuat Kabupaten Tegal sebagai salah satu sentra melati terbesar di Indonesia dan menjadi tempat pusat ekspor melati ke luar negeri.

 

Outlook

Berdasarkan data dari Badan Karantina Pertanian, nilai ekspor bunga Melati dari Jawa Tengah selama bulan Agustus 2018 sampai Januari 2019 mencapai Rp 200,55 miliar. Bahkan, komoditas bunga ini diekspor ke beberapa negara seperti Singapura, Malaysia, Thailand dan Arab Saudi (http://buttmkp.karantina.pertanian.go.id/?p=799, 2019). Berikut disajikan data volume dan frekuensi expor bunga melati kabupaten Tegal

 

No.

 

Negara Tujuan

Data Agustus-Desember 2018

Data Januari-Juni 2019

Vol. (Kg)

Frek. (kali)

Vol. (Kg)

Frek. (kali)

1.

Malaysia

251.475

413

413

413

2.

Singapore

41.368

114

114

114

3.

Thailand

282.600

229

229

229

4.

Saudi Arabia

64.375

86

86

86

 

TOTAL

 639.818

842

684.735

856

 Sementara itu, berdasarkan data laporan dari UPT : Balai Karantina Pertanian Kelas I Semarang - WILKER : Wilker Pelabuhan Laut Tegal, pada tahun 2020 Kabupaten Tegal juga telah melakukan ekport bunga melati segar sebanyak 1.500.490 kg dengan nilai eksport mencapai Rp 102,73 milyar. Hal ini menunjukkan, meskipun dalam masa pandemi  Covid-19, ekspor melati Kabupaten Tegal masih bagus. Keragaan daerah sentra melati di Kabupaten Tegal, yaitu terdapat di empat kecamatan dan 13 desa yaitu Kecamatan Kramat, Kecamatan Suradadi, Kecamatan Warurejo dan Kecamatan Lebaksiu, berada di 13 desa yaitu Desa Kramat, Maribaya, Plumbungan, Padaharja, Dampyak, Bongkok, Munjungangung, Jatibogor, Sidaharja, Purwahamba, Demangharjo, Kedungkelor, Lebakgoah. Jumlah kelompok tani yang ada di Kabupaten Tegal berjumlah 16 kelompok dan petani berjumlah 975 orang. Luas areal melati di Kabupaten Tegal menurut Dinas Pertanian setempat adalah sebesar 2.088.440 m2, dengan populasi per 100 m2 adalah 500–600 tanaman. Rerata produksi per hari sebesar 0,46 kg/100m2 dan rerata produksi per bulan adalah sebesar 288.450 kg. Berikut adalah Keragaan Daerah Sentra Melati di Kabupaten Tegal.

No

Kecamatan

 

Desa

Jumlah

 KT

Melati

JumlahPetaniMelati (orang)

Luas Areal

(m2)

Populasi per 100 m2

Produksi per hari (kg)

Rata-rata produksi per bulan (kg)

1.

Kramat

Kramat

1

11

40.000

500

150

4.500

 

 

Maribaya

1

301

600.000

600

3000

90.000

 

 

Plumbungan

1

90

200.000

600

950

28.500

 

 

Padaharja

1

5

30.000

500

100

3.000

 

 

Dampyak

1

1

10.000

600

50

1.500

 

 

Bongkok

1

10

30.000

600

120

3.600

 

 

munjungagung

1

8

20.000

600

100

3.000

 

Jumlah

 

7

426

930.000

 

4470

134.100

2.

Suradadi

Jatibogor

-

36

50.000

500

200

6.000

 

 

Sidaharja

3

220

600.000

500

2.700

81.000

 

 

Purwahamba

1

89

118.440

500

540

16.200

 

Jumlah

 

4

345

768.440

 

3.440

103.200

3.

Warurejo

Demangharjo

1

30

50.000

500

225

6.750

 

 

Kedungkelor

3

170

290.000

500

1.305

39.150

 

Jumlah

 

4

200

340.000

 

1.530

45.900

4.

Lebasksiu

Lebakgoah

1

4

50.000

600

175

5.250

Jumlah

1

4

50.000

 

175

5.250

JumlahTotal

16

975

2.088.440

 

9.615

288.450

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Analisa Usaha Tani Kabupaten Tegal

No

Kecamatan

Desa

Biaya UsahaTani/1.000 m2

Rata-rata produksi/1.000 m2/bulan

Harga ditingkat petani sesuai grade (Rp/kg)

Penerimaan per 1.000 m2/th (Rp)

Tujuan Pasar *)

1.

Kramat

Kramat

8.000.000

  112,5  

15.000

.20.250.000

Lokal & ekspor

 

 

Maribaya

7.500.000

150

17.000

30.600.000

Lokal & ekspor

2.

Suradadi

Jatibogor

7.000.000

120

18.000

25.920.000

Lokal

 

 

Sidaharja

7.000.000

135

18.000

29.160.000

Lokal & ekspor

 

 

Purwahamba

7.000.000

136,78

18.000

29.544.480

Lokal & ekspor

3.

Warurejo

Demangharjo

7.500.000

135

17.000

27.540.000

Jakarta

 

 

Kedungkelor

7.500.000

135

17.000

27.540.000

Jakarta

4.

Lebaksiu

Lebakgoah

8.500.000

105

17.000

21.420.000

Lokal & Ekspor

 

Sumber: Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan  Kabupaten Tegal, 2019.


Issues & Problems

Masalah dalam pengembangan melati di Kabupaten Tegal di antaranya adalah rendahnya produktivitas melati yang diusahakan. Rerata provitas melati selama tiga tahun 2017-2019 baru mencapai 1,16 kg/m2. Selain itu, kualitas dan kontinuitas suplai produk melati masih rendah. Masalah lainnya adalah kondisi tanaman yang tidak terawat dengan baik sehingga kurang produktif.  Degradasi dan alih fungsi lahan juga menjadi masalah tersendiri, karena menyebabkan berkurangnya luas pertanaman melati.

Selain itu, permasalahan pengembangan melati di Kabupaten Tegal dikarenakan wilayah pantai utara sering mengalami bencana rob, hal inilah yang menjadi salah satu penyebab menurunnya luas tanam bunga melati karena rusaknya lahan tanaman melati. Selain itu, meningkatnya kadar garam yang ada di dalam tanah membuat lahan sukar ditanami bunga melati. Kendala lain yang muncul adalah permasalahan irigasi, apabila pada musim kemarau tanaman bunga melati tidak dapat memproduksi bunga melati karena kurangnya ketersediaan air, fluktuasi harga jual dan besarnya peran tengkulak terhadap petani. Permasalahan tersebut yang membuat petani tidak ingin mengelola lahannya dan beralih ke pekerjaan lain seperti buruh atau nelayan, beberapa petani memilih menanam komoditas lain, menjual atau menyewakan lahannya.

 

HASIL IDENTIFIKASI

Metode yang digunakan untuk mengidentifikasi masalah dan menganalisis masalah digunakan analisis situasi (situasional analysis) dan analisis SWOT (strength, weakness, opportunities, Threats). Sementara itu,  untuk menyusun solusi dan strategi menggunakan Ansoff Matrix . Berikut disajikan data hasil identifikasi.

a.        Situational Analysis: Internal Considerations, External Forces

Internal Considerations

External Forces

Potensi:

a.     Kabupaten Tegal merupakan salah satu sentra budidaya bunga melati di Jawa Tengah;

b.     Kabupaten Tegal memiliki sumberdaya alam yang sangat  cocok untukbudidaya melati.

c.     Produktivitas pertanaman melati cenderung mengalami kenaikan dengan sebesar 36-57% setiap tahunnya. Provitas melati tahun 2017 (0,78 kg/m2), tahun 2019 (1,05 kg/m2), dan Tahun 2019 (1.69 kg/m2)

Potensi:

a.     Kabupaten Tegal memiliki agroekologi unik di sepanjang Pantai Utara,  terdapat rangkaian perbukitan terjal dan sungai besar yang mengalir, yaitu Kali Gung dan Kali Erang, keduanya bermata air di hulu Gunung Slamet.

b.     Trend peningkatan permintaan melati dari Indonesia terutama dari negara Malaysia, Singapura, Thailand, dan Arab Saudi dengan volume ekport tahun 2018 (639.818 kg), tahun 2019 (684.735 kg), Tahun 2020 (1.500.490 kg)

Hambatan:

a.      Keterbatasan modal petani

b.     Belum tersedianya peralatan pasca panen yang dapat digunakan untuk menjaga kualitas bunga melati agar tetap baik

c.      Banyak tanaman tua yang belum diremajakan.

 

 

Hambatan:

a.     Petani masih sukar memanfaatkan fasilitas KUR, karena adanya persratan agunan

b.     Kebijakan pemerintah berkaitan dengan bantuan alsintan cenderung lebih mengutamakan untuk tanaman pangan

c.     Belum tersedianya penangkar bibit melati

d.     Terbatasnya tenaga pemetik bunga melati

 

Berdasarkan hasil analisis matrik SWOT di atas maka dapat diperoleh 4 alternatif strategi yaitu: (1) Penetapan strategi penetrasi pasar (2) Meningkatkan promosi (3) Melakukan pengembangan produk (4) Meningkatkan kualitas produk dan menjaga kepercayaan pelanggan. Bertalian dengan penetrasi pasar, pengusaha melati dapat meningkatkan pangsa pasarnya melalui penetrasi pasar dengan menerapkan konsep pemasaran yang lebih berkembang terhadap produk atau pelayanan pada pasar yang sudah ada, sedangkan untuk meningkatkan promosi pengusaha melati Pengusaha dapat meningkatkan pangsa pasarnya melalui penetrasi pasar dengan menerapkan konsep pemasaran yang lebih berkembang terhadap produk atau pelayanan pada pasar yang sudah ada.

b.    Analisis SWOT komoditas melati

Strength:

1.     Merupakan komoditas hortikultura unggulan Kabupaten Tegal, selain bawang merah

2.    Luas   lahan   tanaman   melati   cukup luas wilayah dengan keadaan geografis, topografi, iklim yang sangat mendukung

 

Weakness:

1.     Pasar lokal belum begitu menjanjikan

2.     Perlakuan teknis budidaya kurang intensif (masih diusahakan secara tradisional)

3.     Harga melati ditingkat petani masih relatif rendah, tergantung pada musim dan tengkulak.

 

Opportunities:

1.     Agroindustri melati masih sangat terbuka

2.     Dapat dipanen setiap hari

3.     Produk diversifikasinya banyak;

4.     Sudah mempunyai pasar eksport yang jelas.

5.     Kemitraan dengan pihak lain yang sangat kuat

6.     Perkembangan informasi dan komunikasi pemasaran

 

Threats:

1.     Keadaan   musim  sangat  menentukan  harga  melati

2.     Alih fungsi lahan ke non pertanian

3.     Lahan utama di sentra tanaman melati sudah jenuh karena sering terkena bencana rob.

 

Selain itu, perlu dilakukan upaya pengembangan produk dibutuhkan kerjasama yang baik antara SDM yang trampil, kualitas bunga yang diakui, dan teknologi yang canggih dan efisien. Dengan keanekaragaman produk yang ditawarkan pengusaha, diharapkan penjualan dapat meningkat dan mampu bersaing di pasaran. Hal lain yang perlu dilakukan adalah meningkatkan mutu yang ada menjadi semakin lebih baik dan berusaha meyakinkan konsumen bahwa harga mempengaruhi kualitas produk. Menjaga kepercayaan pelanggan juga menjadi hal terpenting karena menunjukkan sebuah loyalitas konsumen. Konsumen yang loyal akan datang kembali membeli produk tanaman bunga dan cenderung sulit beralih pada produk pesaing, sehingga kepercayaan pelanggan

 

SOLUSI DAN STRATEGI

Penyelesaian masalah dan strategi yang dapat dilakukan disajikan dengan ansoff matrix. Ansoff membagi matriks ke dalam empat strategi berdasarkan kombinasi antara produk baru, produk yang ada saat ini, pasar baru, dan pasar yang ada saat ini. Empat strategi tersebut adalah penetrasi pasar, pengembangan pasar, Penegembangan produk, dan Diversifikasi. Strategi penetrasi pasar dianggap paling tidak berisiko dibandingkan dengan tiga pilihan lainnya. Perusahaan eksportir  telah memiliki pengalaman historis, sehingga seharusnya mengetahui risiko, peluang dan area perbaikan dari pendekatan sebelumnya, sedangkan Strategi diversifikasi adalah yang paling agresif dan paling berisiko dibandingkan ketiga strategi lainnya.

 

Sementara itu, untuk menemukan pasar potensial baru, perusahaan eksportir  harus melakukan riset pasar yang sistematis. Kemudian, mereka menargetkan secara individual segmen pasar yang telah secara jelas teridentifikasi. Pasar baru mungkin membutuhkan perusahaan untuk mengembangkan saluran pemasaran dan distribusi yang baru untuk masing-masing pasar.

Ansoff Matrix

Market Development

1.     Pelatihan GAP (Good Agriculture Practices, GHP (Good Higiene Practices) GMP (Good Manufacturing Processing), GDP (Good Distribution Practices), bagi pelaku utama.

2.     Penyusunan SNI untuk menjadi acuan menentukan spesifikasi dan standar mutu bunga melati segar maupun sebagai bahan baku industry

3.     Promosi produk melati dan olahannya ke pasar luar negeri dan dalam negeri.

Diversification

Diversifikasi produk olahan melati  seperti teh bunga melati, minyak atsiri, dan parfum 

Market Penetration

1.     Market Intelligence Pasar Baru yang dilakukan oleh Atase Perdagangan;

2.     Peningkatan promosi pada negaranegara tujuan ekspor non tradisional;

 

Product Development

1.    Penelitian dan Pengembangan untuk meningkatkan keseragaman mutu melati Indonesia

2.    Pengembangan Export Quality Infrastructure pada industri melati Indoensia

3.    Peningkatan kemitraan antara smallholders dengan perkebunan besar dan industri melati Indonesia

 

PRO

KONTRA

1.     Program peremajaan pertanaman melati untuk meningkatkan produksi

1.     Cakupan program peremajaan pertanaman melati belum dilakukan secara masif

2.     Adanya kerjasama mitra antara petani melati  lokal dengan perusahaan.

3.     Perluasan areal tanaman melati di wilayah kecamatan lain yang cocok.

2.     Karakteristik pasar monopsoni di level hulu dan monopoli di level hilir industri melati Indonesia

3.     Alih fungsi lahan produktif untuk kepeluan non pertanian.

 

Kendala dalam mengupayakan Pengembangan Melati di Kabupaten Tegal

a.        Kendala Internal

Kendala internal yang muncul di antaranya adalah keterbatasan modal petani, meskipun banyak akses kredit yang ditawarkan kepada petani, namun rumitnya persyaratan yang harus dipenuhi menyebabkan petani enggan untuk mengakses fasilitas kredit tersebut. Kendala lain yang dihadapi adalah tenaga kerja. Tenaga kerja untuk pemeliharaan tanaman, selain mahal juga langka. Buruh tani yang ada kebanyakan berusia lanjut, sedangkan tenaga kerja  yang masih muda lebih cenderung memilih untuk bekerja di luar sektor pertanian. Kendala lain yang dihadapi adalah belum tersedianya peralatan pasca panen yang memadai yang dapat digunakan untuk menjaga kualitas bunga melati. Hal lain yang menjadi kendala adalah tanaman yang ada saat ini didominasi tanaman tua (> 4 tahun) yang belum diremajakan, sementara itu, di Kabupaten Tegal belum ada penangkar bibit melati.

b.        Kendala Eksternal

Salah satu kendala eksternal yang dihadapi saat ini adalah belum adanya kebijakan khusus untuk pengembangan melati di daerah sentra. Dukungan dimaksud adalah sokongan pembiayaan. Selain itu, belum ada kerjasama yang sinergis stakeholder (Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja, dan Dinas Perdagangan, Pasar, dan Koperasi dan pihak terkait lainnya).

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Kesimpulan

Melati merupakan komoditas florikultura di Kabupaten Tegal yang layak diunggulkan dalam mendukung Gratieks. Setiap tahun produktivitas melati cenderung naik 36-37% dengan rerta produksi 2.766.701 kg. Namun, masih ditemuai kendala seperti sering terjadinya bencana rob, penurunan produkstivitas lahan, kondisi tanaman perlu diremajakan, sehingga dengan menekan atau mengatasi permasalahan diharapkan produksi  melati dapat meningkat lagi. Bagi pengusaha perlu menerapkan staretgi S-O (Strength-Opportunity), yaitu dengan melakukan penetrasi pasar agar volume eksport dapat ditingkatkan.

Saran

1.        Perlu dilakukan reinventarisasi petani melati, pembentukan dan penguatan, serta fasilitasi badan hukum asosiasi petani melati Kabupaten Tegal

2.        Perlunya   dukungan kebijakan dari pemerintah baik pusat maupun daerah   terhadap pengembangan komoditas melati seperti    pembangunan    pabrik olahan melati,  regulasi  pasar,  sarana irigasi, dan sarana  dan prasarana lain yang dibutuhkan oleh petani melati.

3.        Perlunya  pembinaan  teknis  budidaya melati  secara    intensif    dan pengembangan pasar;

4.        Perlu  modifikasi  dalam  teknis  budidaya melati menghadapi  musim  yang  tidak  pasti

5.        Perlu diupayakan perluasan lokasi tanam lain di tempat yang lebih aman dari bencana rob.

 

 

Daftar Pustaka

BUTTMKP. 2019. BUTTMKP Siap Dukung Akselerasi Ekspor Melati Segar Tegal. (online) http://buttmkp.karantina.pertanian.go.id/?p=799. Diakses tanggal 28 April 2021.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal. 2019. Programa Penyuluhan Pertanian Tahun 2019.

Hieronymus Budi. 2013. Tumpas Penyakit 40 Daun 10 Akar Rimpang. Yogyakarta: Cahaya, Jiwa.

Rukmana. R.1997. Usaha Tani Melati. Yogyakarta: Kanisius.

 

Suyanti, Sulusi Prabawati, dan Sjaifullah. 2003. Sifat Fisik dan Komponen Kimia Bunga Melati Jasminum officinale. Buletin Plasma Nutfah; 9 (2)2 Pp. 19-22.


 

 

 

 

 

 

 

 

MENGENAL HAMA TIKUS DAN STRATEGI PENGENDALIANNYA

Oleh:

Rokhlani

Penyuluh Pertanian Madya

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kab. Tegal

e-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

 

Pendahuluan

Tikus merupakan salah satu hama yang saat ini menjadi momok petani jagung. Baru-baru ini petani jagung di kecamatan Kedunbgbanteng Kabupaten dibuat heboh dengan serangan hama pengerat ini. Menurt Suswanto, Ketua Gapoktan Desa Kedungbanteng mengatakan bahwa hampir puluhan hektar tanaman jagung ludes diserang tikus. Selain di Tegal, serangan tikus juga mengganas di ladang jagung yang berada di Kecamatan Seputih Raman, Kabupaten Lampung Tengah, Lampung (kompas.com 5 Juni 2021).

Sementara itu, Liputan6.com juga melaporkan bahwa hama tikus menyerang tanaman jagung milik warga di delapan desa di Kecamatan Palue sejak Maret 2021. Dampkanya,  warga d Palue yang berada di wilayah kepulauan, sebelah utara Pulau Flores, terancam kelaparan. Lebih lanjut dilaporkan,  tikus menyerang jagung milik petani yang letak kebunnya berada di pegunungan. Tikus bahkan merusak jagung yang baru berbunga di enam desa. Sementara di dua desa lainnya, tikus merusak setengah tanaman jagung. Kejadian serupa juga dilaporkan detik.com pada 19 Agustus 2021. Tanaman jagung di tiga kecamatan di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, terserang hama tikus. Lebih rinci dilaporkan oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Grobogan bahwa  kawasan perbatasan hutan di Grobogan barat paling banyak terserang hama tikus sehingga panen jagung pun turun. Hampir 19 kecamatan di Grobogan semua petani menanam jagung, yang gagal tiga kecamatan.

Tikus umumnya menyerang tanaman jagung pada fase generatif atau fase pembentukan tongkol dan pengisian biji. Tongkol yang telah masak susu dimakan oleh tikus sehingga tongkol menjadi rusak dan mudah terinfeksi jamur. Bagian yang disukai tikus umumnya pada ujung tongkol sampai bagian pertengahan. Berdasarkan berita tersebut di atas, pengendalian hama tikus merupakan tantangan terbesar bagi petani jagung dan upaya pengendalian mutlak diupayakan.

 

Tikus Termasuk Binatang Sosial yang Cerdas

Percaya atau tidak, tikus merupakan salah satu binatang yang cerdas. Ada empat alasan mengapa tikus dikatakan binatang yang cerdas. Pertama, tikus sangat mudah curiga dengan setiap perubahan di lingkungannya. Salah satunya adalah kecurigaan mereka terhadap kemunculan perangkap tikus, umpan yang dipasang di sekitar lingkungan  yang biasa dilewati. Oleh karena itu,  bukan tidak mungkin apabila perangkap atau umpan yang dipasang tidak membuahkan hasil.

Kedua, tikus memiliki indra penciuman yang tajam. Tikus memanfaatkan indra penciumannya yang tajam untuk mendeteksi makanan yang tersedia di sekitarnya dan juga mengenali keberadaan tikus lainnya. Ini adalah alasan mengapa tikus umumnya takut pada bau manusia. Mereka dapat mendeteksi aroma manusia melalui minyak yang ditinggalkan oleh sidik jari manusia. Dalam hal meletakkan perangkap/umpan tikus disarankan untuk tidak dilakukan dengan tangan telanjang (harus menggunakan sarung tangan).

Ketiga, tikus merupakan hama yang lincah dan gesit. Tikus adalah salah satu jenis hama yang dikenal memiliki kemampuan yang baik untuk memanjat, menyelundup dan menggali. Tikus cukup lihai dan cerdas dalam menemukan setiap titik masuk kedalam lubang-lubang yang ada disekitarnya  dan mencari tempat berteduh serta menemukan sumber makanan untuk berkembang biak.

Keempat, tikus adalah hewan sosial yang suka berkomunikasi satu sama lain. Tikus berkomunikasi dengan tikus lainnya dengan menggunakan urin (urine making). Tikus akan keluar dari jalan mereka untuk buang air kecil pada tempat-tempat yang dilalui. Teknik komunikasi tikus ini berfungsi sebagai cara mereka menandai wilayah dari tikus lainnya di dalam suatu kelompok, dan cara ini juga berfungsi untuk mengarahkan tikus lainnya ke sumber makanan yang tersedia.

 

Perilaku Tikus

Tikus merupakan hewan nokturnal yang telah beradaptasi dengan fenologi tanaman. Secara rutin, aktifitas harian dimulai senja hari hingga menjelang fajar. Selama periode tersebut, tikus sawah mengeksplorasi sumber pakan dan air, tempat berlindung, serta mengenali pasangan dan individu dari kelompok lain. Siang hari dilalui dengan bersembunyi dalam lubang, semak belukar, atau petakan sawah. Selama terdapat sumber pakan, ruang gerak (home range) berkisar 30-200 m dan teritorial 0,25-1,10 ha. Ketika bera dan pakan mulai terbatas, sebagian besar tikus sawah berangsur pindah ke tempat yang menyediakan pakan hingga 0,7-1,0 km atau lebih, seperti pemukiman, gudang benih, penggilingan dll. Pada awal musim tanam, tikus sawah yang berhasil survive kembali ke persawahan.

Berkaitan dengan pakan dan perilaku makan, tikus tergolong hewan omnivora yang mampu memanfaatkan beragam pakan untuk bertahan hidup. Kebutuhan pakan ±10-15% dari bobot badannya dan minum air ±15-30 ml per hari. Dalam mengkonsumsi pakan, tikus sawah lebih dahulu mencicipi untuk mengetahui reaksi terhadap tubuhnya dan apabila tidak membahayakan akan segera memakannya.

Perilaku reproduksi ditunjukkan oleh pola perkembangbiakan tikus. Perkembangbiakan tikus sawah sangat tergantung keberadaan pakan. Selama bera (tidak ada makanan) tikus sawah dewasa tidak aktif reproduksi. Pada saat tidak aktif, testis tikus sawah kembali masuk dalam rongga perut (testis abdominal), dan akan kembali ke scrotum pada saat musim kawin (testis scrotal). Akses kawin terhadap sejumlah betina dikuasai oleh jantan dominan yang menguasai teritorial tertentu.

Tikus merupakan hewan terrestrial yang membuat lubang di dalam tanah sebagai tempat tinggal. Lubang yang dihuni tikus disebut “lubang aktif”. Pada umumnya, lubang aktif berisi tikus betina beserta anak-anak pradewasa. Selama aktif reproduksi, tikus jantan tinggal dalam petak lahan menunggu malam hari untuk kawin dengan betina dalam kelompoknya.

Sementara itu, perilaku sosial tikus mencakup perilaku dalam menjaga wilayah kekuasaan (territorial) dan tingkatan sosial (hierarkhi). Pada kerapatan populasi rendah hingga sedang, seekor tikus jantan dominan paling berkuasa atas sumber pakan, jalur jalan, lokasi bersarang, daripada tikus betina. Pada densitas populasi tinggi, jantan yang kalah kompetisi (subordinat) keluar mencari wilayah dan membentuk kelompok baru. Perilaku tersebut menyebabkan penyebaran populasi yang merata sehingga tikus sawah mampu mengokupasi wilayah yang luas (terutama di daerah endemik).

 

Kemampuan Indera Tikus Sawah

Penglihatan (vision) tikus beradaptasi untuk aktifitas malam hari. Meskipun buta warna, penglihatan tikus sawah sangat peka terhadap cahaya sehingga mampu mengenali bentuk benda di kegelapan malam hingga jarak pandang 10- 15m. Dalam keadaan gelap total, mobilitasnya dibantu indera penciuman, peraba, dan perasa.

Indera pendengaran (hearing) memiliki dua puncak tanggap akustik (bimodal cochlear), yaitu pada selang suara audible (suara yang dapat didengar manusia pada rentang frekuensi 20Hz-20KHz) dan pada suara ultrasonik (tidak dapat didengar manusia pada frekuensi >20Khz). Suara digunakan oleh tikus sebagai salah satu media komunikasi antar sesamanya. Misalnya, suara tikus berkelahi berbeda dengan tikus kawin, berpatroli, atau tertangkap predator.

Indera penciuman (smell)  berkembang sangat baik. Tikus sawah mampu mengenali pakan, sesama tikus, dan predator dengan hanya menggerakkan kepala turun-naik dan mengendus,. Ketajaman penciuman juga digunakan untuk mendeteksi sekresi genitalia tikus betina dan jejak pergerakan tikus kelompoknya sehingga tikus mampu mengetahui batas-batas teritorialnya. Sedangkan dengan indera perasa (taste), tikus mampu memilah pakan yang aman dan menolak pakan yang tidak disukainya. Tikus sawah mampu mendeteksi (dengan mencicipi) air minum yang diberi 3 ppm phenylthiocarbamide, suatu senyawa racun yang berasa pahit di lidah manusia.

Indera peraba (touch) berupa vibrissae dan kumis (misai) sangat membantu aktivitas tikus pada malam hari. Deteksi dilakukan dengan cara menyentuhkan sensor peraba pada permukaan lantai, dinding, dan benda lain. Dengan cara demikian, tikus dapat menentukan arah dan mengetahui ada/tidaknya rintangan. Apabila merasa aman, tikus akan bergerak antar obyek melalui jalan khusus yang selalu diulang (runway)

 

Kemampuan Fisik Tikus Sawah 

Aktivitas mengerat  merupakan upaya untuk mengurangi laju pertumbuhan gigi seri. Tikus memiliki sepasang gigi seri. Bahan yang mampu dirusak hingga 5,5 skala kekerasan geologi. Tikus sawah tidak memiliki gigi taring, sehingga terdapat celah antara gigi seri dan geraham (diastema), yang berfungsi untuk membuang sampah terbawa pakan. Selain mengerat, tikus juga memiliki aktivitas menggali (digging). Tikus sawah tergolong hewan terestrial yang membuat lubang sarangnya di dalam tanah. Kedua tungkai depan digunakan untuk menggali tanah dan menambah lorong-lorong sarangnya.

Otot-otot tungkai tikus berkembang sempurna dan relatif kuat, sehingga mampu menopang mobilitas pergerakannya. Dari kondisi diam, tikus sawah mampu melompat  lebih dari satu meter dan meloncat >50 cm. Jarak lompatan dan tinggi loncatan bertambah apabila tikus memulainya dengan awalan/berlari. Meskipun tidak pandai, tikus sawah dapat memanjat (climbing) benda-benda yang permukaannya relatif kasar. Pada saat banjir, tikus sawah mampu memanjat pohon dan bertengger untuk sementara waktu hingga keadaan lingkungan membaik.

Tikus sawah tergolong perenang tangguh. Cara berenang tikus sawah adalah dengan menendangkan tungkai belakangnya secara bergantian, moncong selalu di atas permukaan air, dan ekor mengimbangi gerakan kedua tungkai yang sedang mendayung. Kemampuan berenang biasanya digunakan untuk menyelamatkan diri dan menyeberangi sungai saat migrasi.

Selain berenang, tikus sawah juga mampu menyelam hingga >1 menit. Ketika menyelam, kedua tungkai belakang dijejakkan dengan kuat sehingga mendorongnya melaju dengan cepat. Saat meloloskan diri dari predator, tikus sawah menyelam dan muncul di tempat lain hingga >10m.

 

Kemampuan Belajar Tikus Sawah

Otak tikus sawah berkembang sempurna sehingga memiliki kemampuan belajar dan mengingat, meskipun sangat terbatas dibanding manusia. Tikus sawah mampu mengingat letak sarang, lokasi sumber pakan dan air, serta pakan beracun yang menyebabkan sakit. Berkaitan dengan kemampuan komunikasi,  tikus mengeluarkan suara peringatan untuk menyampaikan bahaya dan penanda territorial. Air seni juga sebagai penanda wilayah, pembawa pesan tingkat sosial, dan kondisi birahi tikus betina (feromon seks).

Selain itu, tikus juga memiliki kemampuan untuk mencurigai (neophobia) setiap benda baru (termasuk pakan) di lingkungannya, sehingga akan menghindari kontak dengan benda tersebut. Tikus juga memiliki kemampuan untuk tidak memakan umpan beracun tanpa didahului pemberian umpan pendahuluan (pre-baiting). Tikus yang mencicipi/memakan sedikit umpan beracun akut dan tidak mati (tetapi sakit), akan mengingatnya sehingga pengumpanan lanjutan kadang mengalami kegagalan (umpan tidak dimakan).

Seperti halnya binatang lain, untuk mengantispasi kedaan darurat, induk betina selalu membuat 2-3 pintu darurat untuk meloloskan diri jika ada ancaman yang masuk sarangnya. Ketika diempos (fumigasi), induk betina menyumbat lubang sarang dengan tubuhnya agar anak-anaknya selamat.

 

Faktor Yang Memengaruhi Populasi Tikus

Ada dua faktor yang memengaruhi perkembangan tikus yaitu faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalan meliputi kemampuan tikus dalam berkembang biak, perbandingan jenis kelamin, sifat mempertahankan diri, daur hidup, dan umur. Sedangkan faktor luar terdiri atas faktor fisis (suhu, kisaran suhu, kelembaban/hujan, cahaya/warna/bau dan angin), makanan (kuantitas dan kulaitasnya), dan hayati (predator, parasit, patogen dan daya kompetisi). Dalam hal ini yang perlu dingat bahwa keberadaan hama selalu bergantung pada daya dukung lingkungan, ketersediaan pakan dan air serta ruang/tempat tinggal.

 

Startegi Pengendalian

Pengendalian hama tikus bukanlah hal mudah untuk dilakukan dengan baik. Pengendalian yang dilakukan secara parsial banyak dilaporkan tidak membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan. Oleh karena itu, pengendalian hama tikus direkomendasikan untuk dilaksanakan secara terpadu. Pengendalaian hama terpadu (PHT) merupakan sistem pengendalian hama, yang dihubungkan dengan dinamika populasi dan lingkungan spesies hama, memanfaatkan perpaduan semua teknik dan metode yang memungkinkan secara kompatibel untuk menekan populasi hama agar selalu di bawah tingkat yang menyebabkan kerugian ekonomi.

Bertalian dengan pelaksanaan PHT pada tanaman jagung ada beberapa hal yang perlu diperhatikan di antaranya adalah memperhitungkan fase pertumbuhan tanaman jagung, pengendalian dilakukan pada daerah yang seluas-luasnya, pengendalian dilakukan secara masal oleh semua petani,masyarakat dan instansi (dibuat organisasi),  dilakukan secara serentak pada waktu yang bersamaan, kontinuitas (secara terus-menerus dan teratur).

Sementara itu, dalam hal pengorganisasian PHT, harus disiapkan Tim PHT khusus untuk mengendalikan hama tikus. Tim PHT yang terlatih dan handal yang dapat merancang penerapan PHT dengan tepat dan efisien serta memiliki SOP yang jelas yang sesuai dengan tahapan PHT dan yang terpenting dapat bekerja secara berkesinambungan. Tak kalah penting dalam penerapam PHT adalah melakukan kegiatan monitoring dan pemetaan keberadaan hama tikus di lapangan. Kegiatan ini dilakukan dengan cara melakukan identifikasi kerusakan tanaman oleh hama, identifikasi jenis tikus, dan identifikasi lokasi sarang tikus.

Namun, tidak selamanya upaya pengendalian yang dilakukan berhasil dengan baik. Tidak sedikit yang gagal dalam melakukan pengendalian. Kegagalan tersebut dapat disebabkan karena Kesalahan dalam mengidentifikasi permasalahan tikus di lapangan, masih selalu menyediakan makanan, air, dan tempat tinggal (sarang) bagi tikus dan kesalahan dalam strategi penerapan PHT. Berikut adalah beberapa metode pengendalian hama tikus yang dapat diterapkan.

 

Pengendalian hayati

Pengendalian hayati dilakukan dengan memanfaatkan predator seperti kucing, ular, dan  burung hantu. Penggunaan patogen sebagai agen pengendali tidak dianjurkan karena berdampak negatif bagi manusia. Cara termudah adalah dengan memberikan lingkungan yang sesuai dan tidak mengganggu atau membunuh musuh alami tikus sawah. Pada ekosistem sawah irigasi, peran musuh alami kurang nyata dalam menekan populasi tikus. Ragam pemangsa tikus yang ada di sawah/ladang cukup beragam di antaranya kucing, anjing, garangan, burung hantu, burung kowak maling, alap-alap tikus, kobra hitam, kobra raja, ular bajing hijau, dan ular boa/sanca. Patogen berupa mikroorganisme penyebab sakit dan kematian tikus, meliputi berbagai jenis cacing, bakteri, virus, dan protozoa. Beragam cacing parasitik di dalam tubuh tikus sawah ternyata tidak menimbulkan kematian secara langsung, dan hanya menurunkan kualitas hidup inangnya. Pengunaan bakteri salmonella (dicampur dalam umpan) telah dikembangkan di Vietnam, meskipun tersebut berbahaya bagi manusia. Sedangkan di Australia sudah  mengembangkan metode pemandulan (imunokontrasepsi) dengan suatu jenis virus yang spesifik.

 

Pengendalian Mekanik

Pengendalian secara mekanik dapat dilakukan dengan menggunakan pemagaran dengan plastik, pemasangan bubu perangkap, perangkap hidup, perangkap berperekat sampai penggunaan bebunyian.

 

Pengendalian Dengan Pestisida Nabati

Pestisida nabati adalah pestisida yang dibuat dengan memanfaatkan bahan alami yang ada di sekitar kita untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman, seperti tumbuhan. Pestisida nabati memiliki keuntungan relatif aman, ramah lingkungan, murah dan mudah didapatkan dan tidak menyebabkan keracunan serta tidak akan menyebabkan hama menjadi resisten. Sedangkan kekurangannya yaitu penggunaanya harus berulang-ulang, tidak tanah lama, daya kerjanya lambat dan tidak membunuh hama secara langsung.

Ada beberapa jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai bahan pestisida nabati. Salah satu tanaman yang digunakan untuk mengendalikan hama tikus pada padi sawah adalah menggunakan cabai (Capsicum annum), jengkol (Phitecellobium lobatum) dan papaya tua (Carica papaya). Buah papaya tua langsung diberikan pada tikus hasilnya mati, sedangkan jengkol dan cabai menggunakan air hasil rendaman dari kedua jenis tanaman ini yang kemudian disemprotkan sehingga hama tikus menjadi berkurang nafsu makannya.

Buah jengkol mengandung minyak atsiri, saponin, alkaloid, terpenoid, steroid, tannin, glikosoda, protein, karbohidrat, kalsium, fosfor dan vitamin. Cabai mengandung minyak atsiri, piperin dan piperidin yang berfungsi sebagai repellent dan mengganggu preferensi makan hama. Sedangkan buah papaya tua sebagai racun (enzim albuminose) atau kaloid carpine dalam mengendalikan tikus dengan potensi yang cukup besar karena buah papaya mengandung bahan aktif papain yang dapat digunakan sebagai rodentisida.

Pembuatan pestisida nabati dengan bahan jengkol yaitu (1) sebelumnya buah jengkol dikupas kulit luarnya maupun kulit arinya, selanjutnya kupasan jengkol direndam dengan air, dengan perbandingan 1 kg:10 liter air selama 24-36 jam sehingga air rendaman mengeluarkan aroma yang sangat menyengat yang dapat mengusir hama tikus. Pestisida nabati tersebut diaplikasikan dengan cara dengan meletakkan atau menyemprotkan larutan jengkol pada tanaman jagung.

Seperti halnya pembuatan pestisida dari bahan jengkol, pembuatan pestisida nabati dengan cabai dapat dilakukan dengan sangat mudah. Proses pembutannya dilakukan dengan cara menumbuk cabai sampai halus kemudian direndam selama semalam, disaring,  dan dapat langsung disemprotkan pada tanaman jagung.

Tahapan Pembuatan pestisida nabati dengan bahan buah pepaya tua dilakukan dengan cara  mengupas buah papaya tua yang belum masak, dipotong kecil-kecil sebesar dadu,  kemudian disebarkan pada tempat yang biasa dilewati tikus. Hal yang harus diperhatikan  dalam proses pembuatan rodentisida nabati buah papaya, mulai dari pengupasan sampai penyebarannya harus menggunakan sarung tangan karena indera penciuman tikus sangat tajam terhadap bau dan sentuhan tangan manusia, sehingga kemungkinan tikus tidak akan memakan potongan buah papaya tua yang diberikan.

Selainn beberapa rodentisida nabati di atas, ternyata ada formula khusus dari tanaman brotowali yang dikombinasikan dengan jengkol. Cara pebuatannya adalah potonglah batang brotowali (7 kg/hektar) yang sudah di bersihkan. Kemudian di tumbuk/diblender dan ditambah air secukupnya. Selanjutnya, kupas jengkol (7 kg/hektar) dengan pisau kemudian iris jengkol yang sudah di buang kulitnya kemudian direndam selama 2 hari. Setelah 2 hari direndam kemudian dihaluskan ditambah air secukupnya. Setelah semua dihaluskan (brotowali, jengkol) kemudian di ambil airnya dengan menggunakan saringan. Hasil air saringan tadi di campur kemudian diaduk secara merata, dan larutan siap digunakan.

 

Pengendalian secara kimiawi

Pengendalian secara kimia dilakukan dengan menggunakan bahan beracun baik dalam bentuk ready mix bait atau ready mix dust yang banyak di jumpai di pasaran seperti Klerat Storm dan Ramontal. Penggunaan emposan menggunakan bahan fumigasi juga cukup efektif menekan populasi hama tikus. Beberapa rodentisida yang sering digunakan adalah AMMIKUS 65PS (bahan aktif belerang 65%, racun pernafasan), ANTIKUS 0,75P (bahan aktif kumatetralil 0,75%, antikoagulan), ERAKUS 80P (bahan aktif seng fosfida 80%, racun lambung), POSPIT 80P (seng fosfida 80%, racun saraf dan pernafasan).

 

Pengendalian secara elektrik

Pengendalian secara elektrik dapat dilakukan dengan sengatan listrik, pengusir tikus menggunakan suara ultrasonik, dan cahaya yang dapat digunakan untuk menyinari lahan secara periodik. Salah satu pengusir tikus di antaranya adalah pengusir tikus berbasis Ultrasonik. Pengusir tikus ini dapat bekerja 24 jam karena menghasilkan energi listrik secara mandiri. Panel surya telah terpasang di atas alat sehingga dapat mendukung prinsip precission farming (pertanian presisi). Prinsip kerja sistem kendali ini adalah mengganggu sistem pendengaran tikus yang berada di areal jangkauan alat, sehingga tikus tidak nyaman untuk berada di sekitar lahan.

Sistem ini menggunakan mikrokontroler atmega 328 dengan board arduino uno. Aktuator yang digunakan adalah tweeter ultrasonic sebanyak 4 unit. Sensor yang digunakan adalah passive infrared resistor (PIR) sebanyak 4 sensor. Alat pengusir hama tikus rancangan mampu menghasilkan gelombang suara dari 20 Khz hingga 50 Khz. Pendengaran tikus berada pada rentang frekunsi antara 5 Khz-90 Khz. Akan tetapi, tikus terganggu saat mendengar suara pada kisaran frekuensi ultrasonic >20 Khz hingga 60 Khz. Aktuator dan sensor dipasang mengelilingi kerangka sistem kendali. Panel surya 50 Watt peak dipasang pada sistem kendali untuk membantu sistem kendali mendapatkan energi listrik mandiri.

Pengusir tikus rancangan Fakultas Pertanian Universitas Lampung mampu menjangkau 1.200 m2, sedangkan sensor mampu mendeteksi keberadaan gangguan pada kisaran 78,53 m2. Jarak maksimal sensor dengan sumber gangguan adalah 5 meter. Saat ada gerakan, maka speaker ultrasonic akan menyala. Sistem kendali dapat mengenali gangguan dan menyalakan aktuator sebesar 100 %. Respon sistem kendali untuk mengaktifkan aktuator saat tikus berada pada area sensor PIR adalah 0,12 detik. Rerata waktu tikus menghindar dan menjauhi umpan karena pengaruh gelombang suara ultrasonik adalah 4 detik. Hasil ini menunjukkan bahwa sistem kendali telah mampu mendeteksi dan mengganggu hama tikus saat berada pada jangkauan sistem kendali.

 

Kesimpulan

1.    Tikus hama yang sangat cerdas, memiliki perilaku yang unik, mempunyai kemampuan indera penglihatan, pendengaran, penciuman, dan peraba yang sangat baik fungsinya. Tikus juga mempunyai kemampuan fisik dan kemampuan belajar yang sama baiknya sehingga dapat terjamin kelangsungan hidupnya.

2.    Pengendalihan hama tikus tidak dapat dilakukan hanya dengan mengandalkan metode tertentu saja, akan tetapi perlu mengkombinasikan beberapa metode pengendalian secara terpadu sehingga pengendalian yang dilakukan dapat efektif dan efisien.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim. 1999. Techniques manual for rodent management in Southeast Asia. CSIRO wildlife and ecology. Rodent research group. Canberra.

Badan Penelitian dan Pengambangan Pertanian. 2018. Mudah Kendalikan Hama Tikus pada Tanaman Jagung. (on lien) http://balitsereal.litbang.pertanian.go.id/ diakses tanggal 09 Oktober 2021.

Brown PR, LKP Leung, Sudarmaji, and GR Singleton. 2003. Movements of the ricefield rat, Rattus argentiventer, near a trap-barrier system in rice crops in West Java, Indonesia. J.Pest Management 49(20):123-129

Enni SR, Krispinus KP. 1998a. Kandungan Senyawa Alelokimia Kulit Buah Jengkol (Pithecellobium lobatum Benth.) dan Pengaruhnya Terhadap Pertumbuhan Beberapa Gulma Padi. Semarang: Lembaga Penelitian 1KW.

Fakultas Pertanin Universitas Lampung. 2020. Pengendalian Hama Tikus pada Tanaman (Teknologi Pengusir Hama Tikus di Lahan Pertanian). (online) https://fp.unila.ac.id/ diakses tanggal 09 Oktober 2021.

Hariono. 2009. Rangcangan Penyuluhan Pengendalian Hama Tikus (Rattus argentiventer) Pada Tanaman (Oryza sativa L.) Dengan Menggunakan Rodentisida Nabati Buah Papaya Tua (Carica papaya), Kulit Gamal dan cabai.

Lukmanjaya, G , F. D. Kusuma, H. Susanti. 2012.  “Brotokol” Pengusir Hama Tikus Ramah Lingkungan Penopang Pertanian. Jurnal Ilmiah Mahasiswa,2(1). pp.49-55.

Meehan AP. 1984. Rats and Mice. Their Biology and Control. West Sussex : Rentokil Ltd. Murakami O. 1992. Tikus Sawah. Laporan Akhir Kerjasama Teknis Indonesia-Jepang Bidang Perlindungan Tanaman Pangan (ATA-162). Ditlintan. pp: 1-12

Nolte DL, J Jacob, Sudarmaji, R Hartono, NA Herawati, and AW Anggara. 2002. Demographics and burrow use of rice-field rats in Indonesia. Proc.20th Vertebrate Pest Conf. Univ. California Davis : March 4-7 2002. pp: 75-85

Priyambodo S. 2003. Pengendalian Hama Tikus Terpadu. Jakarta : Penebar Swadaya. Priyambodo S. 2005. Makalah pelatihan bioekologi dan pengelolaan tikus. PKPHT IPB.

Rahmini dan Sudarmaji. 2000. Pergerakan tikus sawah, Rattus argentiventer, pada lokasi pertanaman padi dengan perlakuan tanaman perangkap dalam Trap Barrier System (TBS). Prosiding Seminar Nasional Biologi XVI, Kampus ITB : 26-27 Juli 2000. pp 164-168.

Rochman, Sudarmaji, dan AW Anggara. 2005. Bio-ekologi hama tikus sawah. Makalah dan bahan ajar Lokakarya Pengelolanan Tanaman Terpadu (PTT) - Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) di Balai Penelitian Tanaman Padi, 12-13 Desember 2005.

Sudarmaji dan AW Anggara. 2000. Migrasi musiman tikus sawah (Rattus argentiventer) pada daerah pola tanam pad-padi-bera di Sukamandi Subang Jawa Barat. Prosiding Seminar Nasional Biologi XVI, Kampus ITB : 26-27 Juli 2000. pp 173-177.

Budidaya TURIMAN

 

Slawi - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan dan BPTP Jawa Tengah melakukan sosialisasi kegiatan “TURIMAN” yaitu Tumpang Sari Tanaman untuk berbagai komoditas yaitu padi – jagung, padi – kedelai dan jagung – kedelai yang diselenggarakan di Kecamatan Pagerbarang Kabupaten Tegal pada hari Rabu tanggal 26 September 2018 yang diikuti oleh petani, penyuluh dan petugas, bidang pertanian Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal.

Selengkapnya...

Rencana Strategis